<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382</id><updated>2012-02-02T07:51:47.344+08:00</updated><title type='text'>Baitii Jannatii</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>64</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-3268630503773163150</id><published>2008-04-18T17:35:00.003+08:00</published><updated>2010-01-13T23:37:24.593+08:00</updated><title type='text'>Mendesain Rumah Islami</title><content type='html'>Dirangkum dari majalah Nikah, vol 6 Nov 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punya rumah itu impian semua orang, apalagi bagi yang sudah berumah tangga. Rasanya belum lengkap kalau belum punya rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang muslim, hendaknya kita memperhatikan beberapa aturan Islam dalam menata atau mendesain rumah. Juga memperhatikan lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Rumah ibarat cermin penghuninya&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Rumah adalah cermin bagi penghuninya. Bagi mereka yang menyukai kebersihan, maka akan tampak keadaan rumahnya selalu bersih. Bagi mereka yang suka seni dan keindahan, maka akan tampak bangunan rumahnya berarsitektur indah dan dikelilingi oleh aneka rupa bunga dan ornamen2 lain yang bernilai seni dan keindahan. Demikian juga bagi mereka yang mempunya ghirah Islam dan mencintai sunnah, maka akan tampak desain dan ornamen2 rumahnya sedikit banyak akan tersentuh corak Islam dan mengikuti gaya sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jangan bermegah-megahan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Bagi seorang muslim, janganlah rumah dijadikan wahana ajang pamer dan gengsi sehingga menjadikan sibuk berlomba2 dalam mempermegah rumah. Janganlah melalaikan dan melupakan berlomba2 yang lebih baik dari itu, yaitu berlomba2 dalam kebaikan dan takwa. Hal ini sebagaimana firman Allah, 'bermegah2an telah melalaikan kamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cara mendesain rumah islami&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Walaupun Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam sendiri tidak memberikan contoh dalam mendesain rumah, tapi dari sunnah2 yang ada, hendaknya itu dijadikan acuan/pegangan kita dalam membuat dan mendesain sebuah rumah.&lt;br /&gt;Diantara hal2 yang harus diperhatikan adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tidak perlu meminta petunjuk dari orang pintar/paranormal untuk menentukan hari dan tanggal yang baik dalam membuat rumah karena semua hari dan tanggal itu baik disisi Allah. Mempercayai hal2 yang berbau takhayul bisa membuat kita jatuh dalam perbuatan syirik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Karena rumah adalah kehormatan dan rahasia, maka jangan membuat rumah yang banyak kaca tembus pandangnya hingga memungkinkan orang luar bisa melihat ke dalam rumah kita. Hal ini untuk menjaga rahasia dan aurat keluarga kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Akan lebih baik jika kita membuat rumah dengan kamar yang banyak sehingga kita bisa memisahkan kamar anak laki2 dan perempuan. Juga jika sewaktu2 ada tamu yang ingin bermalam, kita bisa membantunya menyediakan kamar. Tapi hendaknya kamar untuk tamu terpisah dari ruang keluarga sehingga tidak memungkinkan tamu bisa melihat dengan bebas ruang keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. WC atau toilet hendaknya dibuat tidak menghadap/membelakangi kiblat karena ada larangan Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam. Meskipun ada khilaf, jika tertutup dengan bangunan maka diperbolehkan. tapi untuk kehati2an lebih baik menghadap ke arah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Jangan meninggikan bangunan, karena itu termasuk tanda2 hari kiamat sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam ketika ditanya oleh malaikat jibril.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi... rumah yang baik bukanlah rumah mewah yang berarsitektur tinggi dan mahal, tetapi rumah yang didesain dengans entuhan sunnah nabi. Yang tak kalah penting, jangan lupa membangun keimanan kita agar lebih mantap dan tidak goyah oleh2 gelombang2 perusak iman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-3268630503773163150?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/3268630503773163150/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=3268630503773163150' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/3268630503773163150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/3268630503773163150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2008/04/mendesain-rumah-islami.html' title='Mendesain Rumah Islami'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-2716613175447290435</id><published>2007-09-24T12:25:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:51:40.436+08:00</updated><title type='text'>Pendidikan Anak dalam Islam</title><content type='html'>Pendidikan anak adalah perkara yang sangat penting di dalam Islam. Di dalam Al-Quran kita dapati bagaimana Allah menceritakan petuah-petuah Luqman yang merupakan bentuk pendidikan bagi anak-anaknya. Begitu pula dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kita temui banyak juga bentuk-bentuk pendidikan terhadap anak, baik dari perintah maupun perbuatan beliau mendidik anak secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pendidik, baik orangtua maupun guru hendaknya mengetahui betapa besarnya tanggung-jawab mereka di hadapan Allah ‘azza wa jalla terhadap pendidikan putra-putri islam.&lt;br /&gt;Tentang perkara ini, Allah azza wa jalla berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (At-Tahrim: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap di antara kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu -tidak bisa tidak-, seorang guru atau orang tua harus tahu apa saja yang harus diajarkan kepada seorang anak serta bagaimana metode yang telah dituntunkan oleh junjungan umat ini, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beberapa tuntunan tersebut antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;1. Menanamkan Tauhid dan Aqidah yang Benar kepada Anak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suatu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa tauhid merupakan landasan Islam. Apabila seseorang benar tauhidnya, maka dia akan mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, tanpa tauhid dia pasti terjatuh ke dalam kesyirikan dan akan menemui kecelakaan di dunia serta kekekalan di dalam adzab neraka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan mengampuni yang lebih ringan daripada itu bagi orang-orang yang Allah kehendaki” (An- Nisa: 48)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, di dalam Al-Quran pula Allah kisahkan nasehat Luqman kepada anaknya. Salah satunya berbunyi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar”.(Luqman: 13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah memberikan contoh penanaman aqidah yang kokoh ini ketika beliau mengajari anak paman beliau, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dengan sanad yang hasan. Ibnu Abbas bercerita,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada suatu hari aku pernah berboncengan di belakang Nabi (di atas kendaraan), beliau berkata kepadaku: “Wahai anak, aku akan mengajari engkau beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Jika engkau meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah. kalaupun seluruh umat (jin dan manusia) berkumpul untuk memberikan satu pemberian yang bermanfaat kepadamu, tidak akan bermanfaat hal itu bagimu, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan bermanfaat bagimu). Ketahuilah. kalaupun seluruh umat (jin dan manusia)berkumpul untuk mencelakakan kamu, tidak akan mampu mencelakakanmu sedikitpun, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan sampai dan mencelakakanmu). Pena telah diangkat, dan telah kering lembaran-lembaran”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara-perkara yang diajarkan oleh Rasulllah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Ibnu Abbas di atas adalah perkara tauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk aqidah yang perlu ditanamkan kepada anak sejak dini adalah tentang dimana Allah berada. Ini sangat penting, karena banyak kaum muslimin yang salah dalam perkara ini. Sebagian mengatakan bahwa Allah ada dimana-mana. Sebagian lagi mengatakan bahwa Allah ada di hati kita, dan beragam pendapat lainnya. Padahal dalil-dalil menunjukkan bahwa Allah itu berada di atas arsy, yaitu di atas langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalilnya antara lain,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ar-Rahman beristiwa di atas ‘Arsy” (Thaha: 5)&lt;br /&gt;Makna istiwa adalah tinggi dan meninggi sebagaimana di dalam riwayat Al-Bukhari dari tabi’in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dari hadits,&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada seorang budak wanita, “Dimana Allah?”. Budak tersebut menjawab, “Allah di langit”. Beliau bertanya pula, “Siapa aku?” budak itu menjawab, “Engkau Rasulullah”. Rasulllah kemudian bersabda, “Bebaskan dia, karena sesungguhnya dia adalah wanita mu’minah”. (HR. Muslim dan Abu Daud).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;2. Mengajari Anak untuk Melaksanakan Ibadah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya sejak kecil putra-putri kita diajarkan bagaimana beribadah dengan benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mulai dari tatacara bersuci, shalat, puasa serta beragam ibadah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR. Al-Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ajarilah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika mereka berusia sepuluh tahun (bila tidak mau shalat-pen)” (Shahih. Lihat Shahih Shahihil Jami’ karya Al-Albani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila mereka telah bisa menjaga ketertiban dalam shalat, maka ajak pula mereka untuk menghadiri shalat berjama’ah di masjid. Dengan melatih mereka dari dini, insya Allah ketika dewasa, mereka sudah terbiasa dengan ibadah-ibadah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;3. Mengajarkan Al-Quran, Hadits serta Doa dan Dzikir yang Ringan kepada Anak-anak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dimulai dengan surat Al-Fathihah dan surat-surat yang pendek serta doa tahiyat untuk shalat. Dan menyediakan guru khusus bagi mereka yang mengajari tajwid, menghapal Al-Quran serta hadits. Begitu pula dengan doa dan dzikir sehari-hari. Hendaknya mereka mulai menghapalkannya, seperti doa ketika makan, keluar masuk WC dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;4. Mendidik Anak dengan Berbagai Adab dan Akhlaq yang Mulia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajarilah anak dengan berbagai adab Islami seperti makan dengan tangan kanan, mengucapkan basmalah sebelum makan, menjaga kebersihan, mengucapkan salam, dll.&lt;br /&gt;Begitu pula dengan akhlak. Tanamkan kepada mereka akhlaq-akhlaq mulia seperti berkata dan bersikap jujur, berbakti kepada orang tua, dermawan, menghormati yang lebih tua dan sayang kepada yang lebih muda, serta beragam akhlaq lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;5. Melarang Anak dari Berbagai Perbuatan yang Diharamkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya anak sedini mungkin diperingatkan dari beragam perbuatan yang tidak baik atau bahkan diharamkan, seperti merokok, judi, minum khamr, mencuri, mengambil hak orang lain, zhalim, durhaka kepada orang tua dan segenap perbuatan haram lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk ke dalam permasalahan ini adalah musik dan gambar makhluk bernyawa. Banyak orangtua dan guru yang tidak mengetahui keharaman dua perkara ini, sehingga mereka membiarkan anak-anak bermain-main dengannya. Bahkan lebih dari itu –kita berlindung kepada Allah-, sebagian mereka menjadikan dua perkara ini sebagai metode pembelajaran bagi anak, dan memuji-mujinya sebagai cara belajar yang baik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda tentang musik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ اَلْحِرَ وَالْحَرِيْرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh akan ada dari umatku yang menghalalkan zina, sutra, khamr dan al-ma’azif (alat-alat musik)”. (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Abu Daud).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maknanya: Akan datang dari muslimin kaum-kaum yang meyakini bahwa perzinahan, mengenakan sutra asli (bagi laki-laki, pent.), minum khamar dan musik sebagai perkara yang halal, padahal perkara tersebut adalah haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan al-ma’azif adalah setiap alat yang bernada dan bersuara teratur seperti kecapi, seruling, drum, gendang, rebana dan yang lainnya. Bahkan lonceng juga, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lonceng itu serulingnya syaithan”. (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tentang gambar, guru terbaik umat ini (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) telah bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;كُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ، يَجْعَلُ لَهُ بِكُلِّ صُوْرَةٍ صَوَّرَهَا نَفْسًا فَتُعَذِّبُهُ فِي جَهَنَّمَ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seluruh tukang gambar (mahluk hidup) di neraka, maka kelak Allah akan jadikan pada setiap gambar-gambarnya menjadi hidup, kemudian gambar-gambar itu akan mengadzab dia di neraka jahannam”(HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;إِنِّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَاباً عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اَلْمُصَوِّرُوْنَ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang paling keras siksanya di sisi Allah pada hari kiamat adalah para tukang gambar.” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu hendaknya kita melarang anak-anak kita dari menggambar mahkluk hidup. Adapun gambar pemandangan, mobil, pesawat dan yang semacamnya maka ini tidaklah mengapa selama tidak ada gambar makhluk hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;6. Menanamkan Cinta Jihad serta Keberanian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bacakanlah kepada mereka kisah-kisah keberanian Nabi dan para sahabatnya dalam peperangan untuk menegakkan Islam agar mereka mengetahui bahwa beliau adalah sosok yang pemberani, dan sahabat-sahabat beliau seperti Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali dan Muawiyah telah membebaskan negeri-negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanamkan pula kepada mereka kebencian kepada Yahudi dan orang-orang zhalim. Tanamkan bahwa kaum muslimin akan membebaskan Al-Quds ketika mereka mau kembali mempelajari Islam dan berjihad di jalan Allah. Mereka akan ditolong dengan seizin Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didiklah mereka agar berani beramar ma’ruf nahi munkar, dan hendaknya mereka tidaklah takut melainkan hanya kepada Allah. Dan tidak boleh menakut-nakuti mereka dengan cerita-cerita bohong, horor serta menakuti mereka dengan gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;7. Membiasakan Anak dengan Pakaian yang Syar’i&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya anak-anak dibiasakan menggunakan pakaian sesuai dengan jenis kelaminnya. Anak laki-laki menggunakan pakaian laki-laki dan anak perempuan menggunakan pakaian perempuan. Jauhkan anak-anak dari model-model pakaian barat yang tidak syar’i, bahkan ketat dan menunjukkan aurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;“Barangsiapa yang meniru sebuah kaum, maka dia termasuk mereka.” (Shahih, HR. Abu Daud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk anak-anak perempuan, biasakanlah agar mereka mengenakan kerudung penutup kepala sehingga ketika dewasa mereka akan mudah untuk mengenakan jilbab yang syar’i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah beberapa tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mendidik anak. Hendaknya para orang tua dan pendidik bisa merealisasikannya dalam pendidikan mereka terhadap anak-anak. Dan hendaknya pula mereka ingat, untuk selalu bersabar, menasehati putra-putri Islam dengan lembut dan penuh kasih sayang. Jangan membentak atau mencela mereka, apalagi sampai mengumbar-umbar kesalahan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bisa bermanfaat, terutama bagi orangtua dan para pendidik. Wallahu a’lam bishsawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diringkas oleh Abu Umar Al-Bankawy dari kitab Kaifa Nurabbi Auladana karya Syaikh Muhammad Jamil Zainu dan hadits-hadits tentang hukum gambar ditambahkan dari Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah karya Syaikh Muqbil bin Hadi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-2716613175447290435?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/2716613175447290435/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=2716613175447290435' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/2716613175447290435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/2716613175447290435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2007/09/pendidikan-anak-dalam-islam.html' title='Pendidikan Anak dalam Islam'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-6173043848730083696</id><published>2007-09-24T12:08:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:19:31.109+08:00</updated><title type='text'>Segenap Asa dalam Sebuah Nama</title><content type='html'>Sumber: &lt;a href="http://anakmuslim.wordpress.com/2006/12/03/segenap-asa-dalam-sebuah-nama/"&gt;Blog Anak Muslim&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ummu 'Abdirrahman Anisah bintu 'Imran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan nama yang baik adalah salah satu tugas orang tua bagi anaknya yang baru lahir. Ada aturan-aturan yang harus diikuti orang tua agar nama anak bisa memberikan kebaikan dan berkah bagi pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok mungil itu telah ada dalam dekapan hangat sang ibu. Tibalah saat dia mendengar sapaan sang ayah yang penuh kasih sayang, memanggilnya dengan nama yang diberikan baginya. Nama yang indah, disertai dengan harapan yang membuncah, semoga perjalanan hidup si buah hati kelak akan sebaik nama yang disandangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali jauh hari sebelum si kecil lahir ke dunia, tak kurang banyaknya nama yang dirancang oleh ayah dan ibu, dilatari oleh sekian banyak pertimbangan. Ada yang ingin menamai anaknya dengan nama tokoh yang dikagumi disertai harapan, anaknya akan sehebat tokoh itu. Ada yang membuat nama dari petikan suatu peristiwa penting untuk mengenang peristiwa itu. Ada pula yang sekedar mempertimbangkan faktor "keren dan enak didengar".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si kecil tumpuan harapan, sudah semestinya ayah bunda memberikan nama yang terbaik bagi dirinya, nama yang dicintai oleh Rabb semesta alam. Tidak ada jalan lain untuk mendapatkannya, kecuali menelaah kembali, bagaimana Allah dan Rasul-Nya Shallallahu 'Alaihi Wasallam menerangkan seputar seluk-beluk nama kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari pertama hadirnya buah hati di dunia, sang ayah boleh memberikan nama padanya. Kita bisa menyimak kisah pemberian nama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pada putranya, Ibrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semalam telah lahir anak laki-lakiku, maka aku beri nama dia dengan nama&lt;br /&gt;ayahku, Ibrahim." (HR. Muslim no. 2315)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Imam An Nawawi menjelaskan bahwa kisah ini menunjukkan bolehnya memberikan nama anak pada hari kelahirannya. (Syarh Shahih Muslim, 15/75)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga kisah-kisah lainnya ketika para sahabat membawa anaknya yang baru lahir ke hadapan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau memberikan nama pada hari itu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lihat dalam kisah kelahiran 'Abdullah bin Az Zubair ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mentahniknya: "Kemudian beliau mengusapnya dan mendoakan kebaikan baginya, serta memberinya nama 'Abdullah." (HR. Muslim no. 2146)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dalam kisah lahirnya 'Abdullah bin Abi Thalhah z, ketika Anas bin Malik z membawanya ke hadapan beliau: "Kemudian beliau mentahniknya dan memberinya nama 'Abdullah." (HR. Muslim no.2144)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga ketika Abu Usaid membawa putranya kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pada hari kelahirannya: "Maka pada hari itu beliau memberinya nama Al-Mundzir." (HR. Al Bukhari no. 6191 dan Muslim no. 2149)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula penuturan Abu Musa Al Asy'ari:&lt;br /&gt;"Telah lahir anak laki-lakiku, lalu aku membawanya kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, maka beliau memberinya nama Ibrahim dan mentahniknya dengan kurma." (HR. Muslim no. 2145)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di sisi lain, kita dengar penjelasan bahwa seorang anak diberi nama pada hari ketujuh, sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam melalui lisannya yang mulia:&lt;br /&gt;"Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, maka pada hari ketujuh disembelih hewan, dicukur rambutnya dan diberi nama." (HR. Abu Dawud no. 2838)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memahami dua sisi ini, kita buka penjelasan Al Hafidz Ibnu Hajar Al 'Asqalani. Beliau mengatakan bahwa anak yang tak hendak diaqiqahi, maka pemberian namanya tidak ditangguhkan hingga hari ketujuh, sebagaimana yang terjadi dalam kisah Ibrahim bin Abi Musa, 'Abdullah bin Abi Thalhah, demikian pula Ibrahim putra Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan 'Abdullah bin Az-Zubair, karena tidak ada penukilan yang menyatakan bahwa salah seorang di antara mereka diaqiqahi. Sedangkan anak yang hendak diaqiqahi, maka pemberian namanya ditangguhkan hingga hari ketujuh sebagaimana yang ada dalam hadits-hadits lain. (Fathul Bari, 9/501)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun ayah bunda tak lupa memilihkan nama terbaik bagi anaknya. Namun toh semua itu tetap tak lepas dari tinjauan syariat, ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah memberikan tuntunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya nama yang paling dicintai oleh Allah adalah 'Abdullah dan 'Abdurrahman." (HR. Muslim no. 2132)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam ini menunjukkan keutamaan kedua nama itu atas seluruh nama, demikian dijelaskan oleh Al Imam an-Nawawi. (Syarh Shahih Muslim, 14/113 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah dan ibu pun bisa memilihkan nama dari deretan nama-nama para nabi. Bahkan demikian yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bagi putranya, dan demikian pula yang beliau berikan kepada anak-anak sahabatnya. Beliau berikan nama Ibrahim kepada anak Abu Musa Al Asy'ari, dan Yusuf kepada anak 'Abdullah bin Salam, sebagaimana dikisahkan sendiri oleh Yusuf bin 'Abdillah bin Salam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rasulullah memberiku nama Yusuf dan mendudukkan aku di pangkuan beliau serta mengusap kepalaku." (HR Bukhari dalam Al Adabul Mufrad, dikatakan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Adabul Mufrad no. 282 bahwa isnadnya shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak layak dilalaikan, ada nama-nama yang haram disandang. Kita bisa melihat penjelasan Rasulullah mengenai hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya nama yang paling hina di sisi Allah adalah seseorang yang bernama Malikul Amlak (raja dari seluruh raja)." Ibnu Abi Syaibah menambahkan dalam riwayatnya: "Tidak ada raja kecuali Allah." Al Asy'atsi berkata bahwa Sufyan mengatakan: "Seperti Syahan Syah." (HR. Al Bukhari no.6206 dan Muslim no. 2143)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita simak ucapan Al Imam An Nawawi ketika menjelaskan hadits ini. Beliau mengatakan bahwa pemakaian nama ini haram, demikian pula memakai nama-nama Allah yang khusus bagi diri-Nya, seperti Al Quddus (Yang Maha Suci), Al Muhaimin (Yang Maha Memelihara), Khaliqul Khalq (Pencipta seluruh makhluk), dan sebagainya. (Syarh Shahih Muslim, 14/122)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penamaan yang terlarang ini tidak hanya mencakup dalam lafadz bahasa Arab, namun lafadz dalam bahasa lain apabila maknanya demikian pun terlarang. Kita lihat dalam hadits di atas, Sufyan bin 'Uyainah memasukkan nama Syahan Syah – yang bukan berasal dari lafadz bahasa Arab namun bermakna serupa dengan Malikul Amlak – dalam larangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dijelaskan oleh Imam Al Mubarakfuri. Beliau menyatakan bahwa Sufyan bin 'Uyainah memberikan peringatan bahwa nama yang tercela ini tidak terbatas pada Malikul Amlak saja. Akan tetapi, seluruh nama yang menunjukkan makna tersebut dengan bahasa apa pun termasuk dalam larangan ini. (Tuhfatul Ahwadzi, 8/102)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula nama-nama yang mengandung tazkiyah ataupun nama-nama yang buruk, sehingga didapati kisah-kisah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengganti nama-nama itu dengan nama yang lebih baik. Inilah penuturan 'Abdullah bin 'Umar, mengungkapkan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak perempuan 'Umar bin Al Khaththab bernama 'Ashiyah (wanita yang suka bermaksiat), maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memberinya nama Jamilah (wanita yang cantik)." (HR. Muslim no. 2139)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Atsir mengatakan –dalam penjelasan beliau yang dinukil di dalam 'Aunul Ma'bud– bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengganti nama 'Ashiyah tersebut karena syi'ar seseorang yang beriman adalah taat kepada Allah, sementara kemaksiatan adalah lawan dari ketaatan. ('Aunul Ma'bud, 13/201)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ada pula putri Abu Salamah yang semula bernama Barrah (wanita yang suci) kemudian diganti oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan nama Zainab. Dia mengisahkan sendiri peristiwa ini:&lt;br /&gt;"Dulu aku bernama Barrah, kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memberiku nama Zainab." (HR. Muslim no. 2142)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan kedua istri beliau, Zainab bintu Jahsy dan Juwairiyah bintu Al Harits, semula bernama Barrah, kemudian beliau mengganti nama mereka berdua. (HR .Muslim no. 2140 dan 2141)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Imam An Nawawi memberikan penjelasan bahwa hadits-hadits di atas mengandung makna penggantian nama yang jelek atau nama yang dibenci menjadi nama yang baik. Telah pasti pula adanya hadits-hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengganti nama banyak sahabat. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan pula bahwa alasan penggantian nama ini ada dua, yaitu karena mengandung tazkiyah (pensucian) atau dikhawatirkan terjatuh pada tathayyur. (Syarh Shahih Muslim, 14/120-121)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lihat dalam kisah Ibnu 'Umar di atas, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak mengganti nama putri 'Umar bin Al Khaththab menjadi Muthi'ah (wanita yang taat) – padahal lawan dari kata 'Ashiyah adalah Muthi'ah – karena ditakutkan nama tersebut mengandung tazkiyah. ('Aunul Ma'bud, 13/201)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu hal yang perlu diketahui, dalam Islam disyariatkan memanggil seseorang dengan nama kunyah walaupun orang itu belum memiliki anak. Demikian pula yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam kepada seorang anak kecil, seperti yang kita dengar dalam penuturan oleh Anas bin Malik:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah orang yang paling baik akhlaknya, dan aku mempunyai saudara laki-laki yang telah disapih bernama Abu 'Umair. Apabila Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam datang kemudian melihatnya, beliau biasanya mengatakan: 'Wahai Abu 'Umair! Apa yang dilakukan burung kecilmu?' Dia biasa bermain-main dengan burung kecil itu." (HR. Muslim no. 2150)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam ini menunjukkan bolehnya memberikan nama kunyah kepada seseorang yang belum memiliki anak atau kepada anak-anak, dan ini bukan termasuk dusta. Demikian dijelaskan oleh Al Imam An Nawawi ketika membicarakan hadits ini. (Syarh Shahih Muslim, 14/129)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala telah gamblang tuntunan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, apakah selayaknya seorang ayah atau seorang ibu –yang ingin mempersembahkan seluruh kebaikan bagi putra-putrinya yang mengemban segenap harapan mereka– akan melalaikan hal ini? Karena bagaimanapun, sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Nabi Shallallahu 'Alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu ta'ala a'lamu bish-shawab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-6173043848730083696?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/6173043848730083696/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=6173043848730083696' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/6173043848730083696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/6173043848730083696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2007/09/segenap-asa-dalam-sebuah-nama.html' title='Segenap Asa dalam Sebuah Nama'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-5242914052089521197</id><published>2007-02-15T16:37:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:34:09.927+08:00</updated><title type='text'>30 Kiat Mendidik Anak</title><content type='html'>&lt;span &gt;Sumber: &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.jilbab.or.id/"&gt;&lt;span &gt;http://www.jilbab.or.id/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila telah tampak tanda-tanda tamyiz pada seorang anak, maka selayaknya dia mendapatkan perhatian serius dan pengawasan yang cukup. Sesungguhnya hatinya bagaikan bening mutiara yang siap menerima segala sesuatu yang mewarnainya. Jika dibiasakan dengan hal-hal yang baik, maka ia akan berkembang dengan kebaikan, sehingga orang tua dan pendidiknya ikut serta memperoleh pahala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, jika ia dibiasakan dengan hal-hal buruk, maka ia akan tumbuh dengan keburukan itu. Maka orang tua dan pedidiknya juga ikut memikul dosa karenanya. Oleh karena itu, tidak selayaknya orang tua dan pendidik melalaikan tanggung jawab yang besar ini dengan melalaikan pendidikan yang baik dan penanaman adab yang baik terhadapnya sebagai bagian dari haknya. Di antara adab-adab dan kiat dalam mendidik anak adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Hendaknya anak dididik agar makan dengan tangan kanan, membaca basmalah, memulai dengan yang paling dekat dengannya dan tidak mendahului makan sebelum yang lainnya (yang lebih tua, red). Kemudian cegahlah ia dari memandangi makanan dan orang yang sedang makan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Perintahkan ia agar tidak tergesa-gesa dalam makan. Hendaknya mengunyahnya dengan baik dan jangan memasukkan makanan ke dalam mulut sebelum habis yang di mulut. Suruh ia agar berhati-hati dan jangan sampai mengotori pakaian.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Hendaknya dilatih untuk tidak bermewah-mewah dalam makan (harus pakai lauk ikan, daging dan lain-lain) supaya tidak menimbulkan kesan bahwa makan harus dengannya. Juga diajari agar tidak terlalu banyak makan dan memberi pujian kepada anak yang demikian. Hal ini untuk mencegah dari kebiasaan buruk, yaitu hanya memen-tingkan perut saja.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Ditanamkan kepadanya agar mendahulukan orang lain dalam hal makanan dan dilatih dengan makanan sederhana, sehingga tidak terlalu cinta dengan yang enak-enak yang pada akhirnya akan sulit bagi dia melepaskannya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Sangat disukai jika ia memakai pakaian berwarna putih, bukan warna-warni dan bukan dari sutera. Dan ditegaskan bahwa sutera itu hanya untuk kaumwanita.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Jika ada anak laki-laki lain memakai sutera, maka hendaknya mengingkarinya. Demikian juga jika dia isbal (menjulurkan pakaiannya hingga melebihi mata kaki). Jangan sampai mereka terbiasa dengan hal-hal ini.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Selayaknya anak dijaga dari bergaul dengan anak-anak yang biasa bermegah-megahan dan bersikap angkuh. Jika hal ini dibiarkan maka bisa jadi ketika dewasa ia akan berakhlak demikian. Pergaulan yang jelek akan berpengaruh bagi anak. Bisa jadi setelah dewasa ia memiliki akhlak buruk, seperti: Suka berdusta, mengadu domba, keras kepala, merasa hebat dan lain-lain, sebagai akibat pergaulan yang salah di masa kecilnya. Yang demikian ini, dapat dicegah dengan memberikan pendidikan adab yang baik sedini mungkin kepada mereka.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Harus ditanamkan rasa cinta untuk membaca al Qur'an dan buku-buku, terutama di perpustakaan. Membaca al Qur'an dengan tafsirnya, hadits-hadits Nabi dan juga pelajaran fikih dan lain-lain. Dia juga harus dibiasakan menghafal nasihat-nasihat yang baik, sejarah orang-orang shalih dan kaum zuhud, mengasah jiwanya agar senantiasa mencintai dan meneladani mereka. Dia juga harus diberitahu tentang buku dan faham Asy'ariyah, Mu'tazilah, Rafidhah dan juga kelompok-kelompok bid'ah lainnya agar tidak terjerumus ke dalamnya. Demikian pula aliran-aliran sesat yang banyak ber-kembang di daerah sekitar, sesuai dengan tingkat kemampuan anak.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Dia harus dijauhkan dari syair-syair cinta gombal dan hanya sekedar menuruti hawa nafsu, karena hal ini dapat merusak hati dan jiwa.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Biasakan ia untuk menulis indah (khath) dan mengahafal syair-syair tentang kezuhudan dan akhlak mulia. Itu semua menunjukkan kesempurnaan sifat dan merupakan hiasan yang indah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Jika anak melakukan perbuatan terpuji dan akhlak mulia jangan segan-segan memujinya atau memberi penghargaan yang dapat membahagiakannya. Jika suatu kali melakukan kesalahan, hendaknya jangan disebarkan di hadapan orang lain sambil dinasihati bahwa apa yang dilakukannya tidak baik.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Jika ia mengulangi perbuatan buruk itu, maka hendaknya dimarahi di tempat yang terpisah dan tunjukkan tingkat kesalahannya. Katakan kepadanya jika terus melakukan itu, maka orang-orang akan membenci dan meremehkannya. Namun jangan terlalu sering atau mudah memarahi, sebab yang demikian akan menjadikannya kebal dan tidak terpengaruh lagi dengan kemarahan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Seorang ayah hendaknya menjaga kewibawaan dalam berkomunikasi dengan anak. Jangan menjelek-jelekkan atau bicara kasar, kecuali pada saat tertentu. Sedangkan seorang ibu hendaknya menciptakan perasaan hormat dan segan terhadap ayah dan memperingatkan anak-anak bahwa jika berbuat buruk maka akan mendapat ancaman dan kemarahan dari ayah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Hendaknya dicegah dari tidur di siang hari karena menyebabkan rasa malas (kecuali benar-benar perlu). Sebaliknya, di malam hari jika sudah ingin tidur, maka biarkan ia tidur (jangan paksakan dengan aktivitas tertentu, red) sebab dapat menimbulkan kebosanan dan melemahnya kondisi badan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Jangan sediakan untuknya tempat tidur yang mewah dan empuk karena mengakibatkan badan menjadi terlena dan hanyut dalam kenikmatan. Ini dapat mengakibatkan sendi-sendi menjadi kaku karena terlalu lama tidur dan kurang gerak.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Jangan dibiasakan melakukan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi, sebab ketika ia melakukannya, tidak lain karena adanya keyakinan bahwa itu tidak baik.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Biasakan agar anak melakukan olah raga atau gerak badan di waktu pagi agar tidak timbul rasa malas. Jika memiliki ketrampilan memanah (atau menembak, red), menunggang kuda, berenang, maka tidak mengapa menyibukkan diri dengan kegiatan itu.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Jangan biarkan anak terbiasa melotot, tergesa-gesa dan bertolak (berkacak) pinggang seperti perbuatan orang yang membangggakan diri.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Melarangnya dari membanggakan apa yang dimiliki orang tuanya, pakaian atau makanannya di hadapan teman sepermainan. Biasakan ia ber-sikap tawadhu', lemah lembut dan menghormati temannya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Tumbuhkan pada anak (terutama laki-laki) agar tidak terlalu mencintai emas dan perak serta tamak terhadap keduanya. Tanamkan rasa takut akan bahaya mencintai emas dan perak secara berlebihan, melebihi rasa takut terhadap ular atau kalajengking.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Cegahlah ia dari mengambil sesuatu milik temannya, baik dari keluarga terpandang (kaya), sebab itu merupakan cela, kehinaan dan menurunkan wibawa, maupun dari yang fakir, sebab itu adalah sikap tamak atau rakus. Sebaliknya, ajarkan ia untuk memberi karena itu adalah perbuatan mulia dan terhormat.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Jauhkan dia dari kebiasaan meludah di tengah majlis atau tempat umum, membuang ingus ketika ada orang lain, membelakangi sesama muslim dan banyak menguap.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Ajari ia duduk di lantai dengan bertekuk lutut atau dengan menegakkan kaki kanan dan menghamparkan yang kiri atau duduk dengan memeluk kedua punggung kaki dengan posisi kedua lutut tegak. Demikian cara-cara duduk yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Mencegahnya dari banyak berbicara, kecuali yang bermanfaat atau dzikir kepada Allah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Cegahlah anak dari banyak bersumpah, baik sumpahnya benar atau dusta agar hal tersebut tidak menjadi kebiasaan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Dia juga harus dicegah dari perkataan keji dan sia-sia seperti melaknat atau mencaci maki. Juga dicegah dari bergaul dengan orang-orang yang suka melakukan hal itu.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Anjurkanlah ia untuk memiliki jiwa pemberani dan sabar dalam kondisi sulit. Pujilah ia jika bersikap demikian, sebab pujian akan mendorongnya untuk membiasakan hal tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Sebaiknya anak diberi mainan atau hiburan yang positif untuk melepaskan kepenatan atau refreshing, setelah selesai belajar, membaca di perpustakaan atau melakukan kegiatan lain.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Jika anak telah mencapai usia tujuh tahun maka harus diperintahkan untuk shalat dan jangan sampai dibiarkan meninggalkan bersuci (wudhu) sebelumnya. Cegahlah ia dari berdusta dan berkhianat. Dan jika telah baligh, maka bebankan kepadanya perintah-perintah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span &gt;Biasakan anak-anak untuk bersikap taat kepada orang tua, guru, pengajar (ustadz) dan secara umum kepada yang usianya lebih tua. Ajarkan agar memandang mereka dengan penuh hormat. Dan sebisa mungkin dicegah dari bermain-main di sisi mereka (mengganggu mereka).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;span &gt;Demikian adab-adab yang berkaitan dengan pendidikan anak di masa tamyiz hingga masa-masa menjelang baligh. Uraian di atas adalah ditujukan bagi pendidikan anak laki-laki. Walau demikian, banyak di antara beberapa hal di atas, yang juga dapat diterapkan bagi pendidikan anak perempuan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span &gt;Wallahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ditulis oleh = Abdul Aziz.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-5242914052089521197?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/5242914052089521197/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=5242914052089521197' title='22 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/5242914052089521197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/5242914052089521197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2007/02/30-kiat-mendidik-anak.html' title='30 Kiat Mendidik Anak'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>22</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-503605601465901353</id><published>2007-02-15T15:39:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:34:41.142+08:00</updated><title type='text'>Bingkisan Paling Berharga Untuk si Kecil Adalah Aqidah</title><content type='html'>&lt;span &gt;Sumber: &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.muslimah.or.id/"&gt;&lt;span &gt;www.muslimah.or.id&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ummu Ayyub&lt;br /&gt;Dimurojaah oleh: Ustadz Subhan Khadafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase kanak-kanak merupakan tempat yang subur bagi pembinaan dan pendidikan. Masa kanak-kanak ini cukup lama, dimana seorang pendidik bisa memanfaatkan waktu yang cukup untuk menanamkan dalam jiwa anak, apa yang dia kehendaki. Jika masa kanak-kanak ini dibangun dengan penjagaan, bimbingan dan arahan yang baik, dengan izin Allah subhanahu wata’ala maka kelak akan tumbuh menjadi kokoh. Seorang pendidik hendaknya memanfaatkan masa ini sebaik-baiknya. Jangan ada yang meremehkan bahwa anak itu kecil.&lt;/span&gt;&lt;a id="more-45"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;Mengingat masa ini adalah masa emas bagi pertumbuhan, maka hendaknya masalah penanaman aqidah menjadi perhatian pokok bagi setiap orang tua yang peduli dengan nasib anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;Penanaman Aqidah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aqidah islamiyah dengan enam pokok keimanan, yaitu beriman kepada Allah subhanahu wata’ala, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir, serta beriman pada qadha’ dan qadar yang baik maupun yang buruk, mempunyai keunikan bahwa kesemuanya merupakan perkara gaib. Seseorang akan merasa hal ini terlalu rumit untuk dijelaskan pada anak kecil yang mana kemampuan berfikir mereka masih sangat sederhana dan terbatas untuk mengenali hal-hal yang abstrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya setiap bayi yang lahir diciptakan Allah subhanahu wata’ala di atas fitrah keimanan.&lt;br /&gt;Allah berfirman dalam &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;QS. Al Α’rof: 172&lt;/span&gt; yang artinya, "Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) ‘Bukankah Aku ini Rabb-mu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menajdi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah).’”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah bagian dari karunia Allah subhanahu wata’ala pada hati manusia bahwa Dia melapangkan hati untuk menerima iman di awal pertumbuhannya tanpa perlu kepada argumentasi dan bukti yang nyata. Dengan demikian, menanamkan keyakinan bukan dengan mengajarkan ketrampilan berdebat dan berargumentasi, akan tetapi caranya adalah menyibukkan diri dengan al Quran dan tafsirnya, hadits dan maknanya serta sibuk dengan ibadah-ibadah. Kita perlu membuat suasana lingkungan yang mendukung, memberi teladan pada anak, banyak berdoa untuk anak, dan hendaknya kita tidak melewatkan kejadian sehari-hari melainkan kita menjadikannya sebagai sarana penanaman pendidikan baik itu pendidikan aqidah maupun pendidikan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Teladan Kita&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jika kita perhatikan para rasul dan nabi, mereka selalu memberikan perhatian yang besar terhadap keselamatan aqidah putera-putera mereka. Perhatian nabi Ibrahim, diantaranya adalah sebagaimana terdapat dalam firman Allah subhanahu wata’ala yang artinya:&lt;br /&gt;“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yaqub. (Ibrahim berkata): Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama islam.” &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;(QS. Al Baqoroh: 132)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.” &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;(QS. Ibrahim: 35)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga Lukman mempunyai perhatian yang besar pada puteranya sebagaimana wasiatnya yang disebutkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:&lt;br /&gt;“(Luqman berkata): Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;(QS. Luqman: 16)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan (ingatlah) ketika luqman berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar.” &lt;/span&gt;&lt;span &gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;(QS. Luqman: 13)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Sejak Masih Kecil&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Perhatian terhadap masalah aqidah hendaknya diberikan sejak anak masih kecil. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam memberikan perhatian kepada anak-anak meski mereka masih kecil. Beliau membuka jalan dalam membina generasi muda, termasuk diantaranya Ali bin Abi Thalib yang beriman kepada seruan nabi ketika usianya kurang dari sepuluh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dalam menjenguk anak-anak yang sakit pun beliau memanfaatkan untuk menyeru mereka kepada Islam yang ketika itu di hadapan kedua orang tua mereka. Kita juga bisa melihat bagaimana Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasalam mengajarkan permasalahan aqidah pada Ibnu Abas radhiyallahu ‘anhu yang pada saat itu dia masih kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: Pada suatu hari saya pernah membonceng di belakang Rasulullah lalu beliau bersabda, “Wahai anak muda, sesungguhnya aku mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Ia juga akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya ada di hadapanmu. Apabila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Ketahuilah, andaikan saja umat seluruhnya berkumpul untuk memberikan kemanfaatan kepadamu mereka tidak akan bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaikan saja mereka bersatu untuk menimpakan kemudharatan terhadapmu, mereka tidak akan bisa memberikan kemudharatan itu terhadapmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembar catatan telah kering.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika para teladan kita begitu perhatian dengan anak-anak sejak mereka masih kecil, maka sangat mengherankan jika kita membiarkan anak-anak kita tumbuh dengan kita biarkan begitu saja terdidik oleh lingkungan dan televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak kita dapati bahwa oleh banyak orang, anak kecil dianggap tidak layak untuk diberi penjelasan mengenai Al Quran dan maknanya, dianggap tidak berhak untuk diberi perhatian terhadap mentalitasnya. Terkadang dengan berdalih “Kemampuan berfikir anak kecil masih sederhana, maka tidak baik membebani mereka dengan hal-hal yang rumit dan berat. Tidak baik membebani anak di luar kesanggupan mereka.” Atau kita juga banyak mendapati ketika anak terjatuh pada kesalahan-kesalahan, mereka membiarkan begitu saja dengan berdalih “Ah… tidak apa-apa, mereka kan masih kecil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalih yang disampaikan memang tidak sepenuhnya salah, namun sayangnya tidak diletakkan pada tempatnya. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maroji’: Manhaj At-Tarbiyyah An-Nabawiyyah lit-Tilf (terj. Mendidik Anak Bersama Nabi)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-503605601465901353?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/503605601465901353/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=503605601465901353' title='19 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/503605601465901353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/503605601465901353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2007/02/bingkisan-paling-berharga-untuk-si.html' title='Bingkisan Paling Berharga Untuk si Kecil Adalah Aqidah'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>19</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-116953993526301355</id><published>2007-01-23T16:01:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:34:55.052+08:00</updated><title type='text'>Mendidik Bukan Hanya Sekedar Menyekolahkan</title><content type='html'>&lt;span &gt;dari &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.muslimah.or.id/"&gt;&lt;span &gt;www.muslimah.or.id&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: ummu ayyub&lt;br /&gt;Muroja’ah: Ustadz Subhan Khadafi, Lc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data sensus penduduk di negeri ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduknya beragama islam. Ini adalah sebuah realita yang seharusnya dengannya kita bisa melihat adanya sebuah generasi yang tangguh, tetapi ternyata tidak. Mari kita lihat keadaan diri dan anak-anak kita. Kenyataannya masih sangat sedikit yang benar-benar serius memperhatikan pendidikan. Sebagian besar acuh dan tidak peduli…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin banyak yang merasa keberatan dengan pernyataan di atas dan menyanggah: "TIDAK! Saya memperhatikan pendidikan anak-anak saya! Saya akan melakukan segalanya demi pendidikan mereka. Seandainya harus menjual tanah, saya akan melakukannya untuk bisa menyekolahkan mereka sampai jadi sarjana! Biarpun saya cuma lulusan SMP, tapi saya ingin anak saya berpendidikan tinggi!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti inilah yang kebanyakan kita pahami tentang kewajiban mendidik anak, yaitu menyekolahkan anak sampai tinggi, atau bagaimana supaya anak menjadi cerdas, pintar, dan tidak gagap teknologi. Untuk bisa menyekolahkan anak sampai sarjana, kita rela menjual tanah atau cari hutangan tapi untuk agama mereka kita tidak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa geger ketika melihat nilai matematika anak kita dapat angka 3, lalu segera keliling cari tempat kursus yang bagus untuknya. Tapi kita tidak peduli (baca: tidak geger) ketika anak kita diajari pelajaran PPKN di sekolah; anak kita diajari bahwa agama di Indonesia ini ada lima dan semua agama itu sama. Semuanya mengajarkan kebaikan, jadi harus saling menghormati. Padahal telah nyata kebenaran bahwa agama yang Allah subhanahu wa ta'ala ridhoi hanyalah islam. Kata "hanyalah" menunjukkan bahwa tidak ada yang lain. Hal ini termasuk hal yang besar bagi seorang muslim yang tidak layak untuk disepelekan karena ini menyangkut aqidah seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan dari kita, seandainya pun memperhatikan kelakuan anak, berkelakuan baik yang dimaksud tolok ukurnya adalah masyarakat. Jadi ketika melihat putri kesayangan jalan-jalan ke mall dengan pakaian 'pas-pasan' bersama teman laki-lakinya, ini –menurut pengertian di sini- masih termasuk dalam kriteria 'berkelakuan baik dan tidak nakal' karena masyarakat menganggap wajar bagi seorang ABG. Atau ketika putra kesayangan membeli majalah untuk melihat horoscope (ramalan bintang), ini juga masih masuk dalam kriteria 'berkelakuan baik dan tidak nakal' karena masyarakat juga menganggap ini adalah hal yang lumrah. Padahal jika dilihat dari tolok ukur yang benar, keduanya bertentangan dengan syariat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para pendidik!Sikap mendidik yang seperti ini secara tidak langsung seperti kita mengatakan pada anak kita: "Wahai anakku! Kejarlah duniamu! Lupakan akhiratmu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal tentang kehidupan dunia Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam bersabda: &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;"Seandainya dunia sebanding dengan satu sayap sayap lalat di sisi Allah, niscaya Dia tidak akan memberikan seteguk air pun bagi seorang kafir."&lt;/span&gt; (HR. At-Tirmidzi, dia berkata, "Hadits hasan shahih")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Allah membenci orang yang pandai dalam urusan dunia tapi bodoh dalam urusan akhirat. Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam bersabda yang artinya: &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;"Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam urusan akhiratnya."&lt;/span&gt; (Shahih Jami’ Ash Shaghir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wa ta'ala berfirman yang artinya: &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;"Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai."&lt;/span&gt; (Qs. Ar Rum:7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat di atas merupakan peringatan keras bagi orang yang hanya mementingkan urusan dunia sedangkan urusan akhiratnya dilupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun para ulama menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut, Ibnu Katsir rahimahullah berkata: &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;"Umumnya manusia tidak memiliki ilmu melainkan ilmu duniawi. Memang mereka maju dalam bidang usaha, akan tetapi hati mereka tertutup, tidak bisa mempelajari ilmu dienul islam untuk kebahagiaan akhirat mereka."&lt;/span&gt; (Tafsir Ibnu Katsir 3/428)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah berkata: &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;"Pikiran mereka hanya terpusat kepada urusan dunia sehingga lupa urusan akhiratnya. Mereka tidak berharap masuk surga dan tidak takut neraka. Inilah tanda kehancuran mereka, bahkan dengan otaknya mereka bingung dan gila. Usaha mereka memang menakjubkan seperti membuat atom, listrik, angkutan darat, laut dan udara. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Sungguh menakjubkan pikiran mereka, seolah-olah tidak ada manusia yang mampu menandinginya, sehingga orang lain menurut pandangan mereka adalah hina. Akan tetapi ingatlah! Mereka itu orang yang paling bodoh dalam urusan akhirat dan tidak tahu bahwa kepandaiannya akan merusak dirinya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Yang tahu kehancuran mereka adalah insan yang beriman dan berilmu. Mereka itu bingung karena menyesatkan dirinya sendiri. Itulah hukuman Allah bagi orang yang melalaikan urusan akhiratnya, akan dilalaikan oleh Allah 'azza wa jalla dan tergolong orang fasik. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Andaikan mereka mau berpikir bahwa semua itu adalah pemberian Allah 'azza wa jalla dan kenikmatan itu disertai dengan iman, tentu hidup mereka bahagia. Akan tetapi lantaran dasarnya yang salah, mengingkari karunia Allah, tidaklah kemajuan urusan dunia mereka melainkan untuk merusak dirinya sendiri."&lt;/span&gt; (Taisir karimir Rahman 4/75)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia oh… dunia! Membuat lalai para pengejarnya!&lt;br /&gt;Perhatikanlah dalam hadis ini bagaimana Allah subhanahu wa ta'ala mengancam dengan kehinaan jika umat islam sibuk dalam urusan dunia dan lalai dari urusan akhirat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma dari Nabi shalallahu 'alaihi wasalam bahwa beliau bersabda yang artinya: &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;"Apabila kalian berjual beli dengan sistem 'inah (satu barang dengan dua harga-termasuk salah satu jenis riba) dan kalian sibuk dengan urusan peternakan serta urusan pertanian dan kalian meninggalkan jihad, niscaya Allah akan timpakan kerendahan kepada kalian yang tidak akan dicabut dari kalian sebelum kalian kembali kepada agama kalian."&lt;/span&gt; (Riwayat Abu Daud (3462) dan riwayat ini shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai pendidik! Untuk mengangkat umat ini dari kehinaan Allah telah memberi solusi, yaitu dengan kembali pada dien yang lurus. Kondisi kaum muslimin saat ini masih jauh dari nilai-nilai islam. Kita bisa melihat saat adzan dzuhur dikumandangkan, masjid-masjid sepi dari para jamaah padahal pada waktu yang bersamaan pasar-pasar dan jalan-jalan ramai dipenuhi oleh kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga bisa melihat orang-orang yang berusaha untuk berpegang teguh pada sunnah dianggap aneh. Seperti misalnya celana cingkrang (di atas mata kaki), jenggot, jilbab syar'i, tidak mau berjabat tangan dengan lawan jenis, menjauh dari ibadah-ibadah yang tidak ada contohnya dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam, dan masih banyak lagi. Ini adalah keadaan yang menyedihkan karena syariat islam dipandang asing oleh pemeluknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita belajar dari doa Nabi Ibrohim 'alaihissalam. Ketika beliau berdoa tentang anak dan keturunannya, pandangannya jauh kedepan. Tidak sekedar pada kenikmatan-kenikmatan dunia. Tetapi yang beliau harapkan adalah agar Allah menjadikan mereka sebagai umat yang tunduk patuh pada-Nya, mengutus rasul pada mereka sehingga tidak tersesat dalam kegelapan, menjauhkan mereka dari dosa terbesar yang membinasakan (syirik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah wahai para pendidik! Tujuan kita adalah tujuan yang mulia! Mengajak generasi meniti jalan yang lurus untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.Tujuan kita bukan sekedar berapa nilai matematika anak kita, bagaimana kemampuan bahasa inggrisnya, dapat rangking berapa, bisa masuk universitas mana, bisa kerja dimana, bisa belikan kita mobil berapa, atau bisa jadi pejabat tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sependek itu! Tidak sekedar anak kita bisa menyelesaikan ujian akhir semester dengan sukses dan melupakan yang lain padahal ada ujian yang menanti yang jauh lebih besar ketika kita ditanya siapa Robbmu, apa agamamu, dan siapa nabimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka seharusnya kita segera mempersiapkan diri.&lt;br /&gt;Mendidik diri-diri kita dan keluarga untuk kembali pada dien ini.&lt;br /&gt;Menempuh jalan yang lurus meski jalan itu terasa asing karena sedikitnya pengikut.&lt;br /&gt;Kembali pada al Quran dan as Sunnah dengan pemahaman salafush sholih.&lt;br /&gt;Terangkatnya kemuliaan umat ini adalah dengan kembali pada dien yang lurus.&lt;br /&gt;Bukan dengan harta atau kekuasaan.&lt;br /&gt;Seandainya mulia itu dengan kekuasaan, tentu Firaun termasuk ke dalam orang-orang yang mulia.&lt;br /&gt;Seandainya mulia itu dengan harta, tentu Qorun lebih mulia dari kita.&lt;br /&gt;Kita jadi sadar bahwa ternyata memang masih sedikit yang benar-benar memperhatikan pendidikan generasi ini.&lt;br /&gt;Duhai pendidik sejati! Kemana harus dicari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-116953993526301355?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/116953993526301355/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=116953993526301355' title='18 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/116953993526301355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/116953993526301355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2007/01/mendidik-bukan-hanya-sekedar.html' title='Mendidik Bukan Hanya Sekedar Menyekolahkan'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>18</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-116953923429612180</id><published>2007-01-23T15:55:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:35:11.390+08:00</updated><title type='text'>Wahai Ibu Sertailah Semangatmu dengan Ilmu</title><content type='html'>&lt;span &gt;dari &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.muslimah.or.id/"&gt;&lt;span &gt;www.muslimah.or.id&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ummu Ayyub&lt;br /&gt;Muroja'ah: Ustadz Subhan Lc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak kecil adalah makhluk yang penuh rasa ingin tahu namun sering kali orang tua merasa sulit untuk menjelaskan padanya tentang sesuatu yang tidak bisa dia lihat. Hal ini sering kali membuat orang tua menjadi kebingungan ketika si kecil bertanya "Allah itu dimana dan seperti apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah majalah berusaha mengupas masalah ini dengan memuat "kreativitas" orang tua untuk menjelaskan hal ini pada anak-anak mereka. Jawaban yang ada antara lain:&lt;br /&gt;"Allah itu ada di langit, tepatnya langit ke tujuh… dst…"&lt;br /&gt;"Allah ada di mana-mana. Allah ada di hati kita, ada di jantung kita,… dst…"&lt;br /&gt;"Allah ada di arsy sana. Tahukah kalian kalau arsy adalah langit ke tujuh?… dst…"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maha suci Allah dari persangkaan bahwa Dia bercampur dengan makhluk. Allah dekat dengan kita tapi Allah tinggi dan tidak bercampur dengan makhluk. Allah bersemayam di atas Arsy (Arsy bukan langit ke tujuh!!!), tidak bercampur dengan hati manusia, jantung manusia ataupun dengan langit karena semua itu adalah makhluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan ini telah dijelaskan oleh para ulama. Untuk pembahasan lebih dalam, kita bisa merujuk pada kitab-kitab mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Tidak Sekedar Semangat&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sunguh mulia niatan kita untuk mengenalkan Allah subhanahu wa ta'ala pada anak-anak kita sejak mereka masih kecil. Memang seperti itulah seharusnya sebagai seorang pendidik. Namun demikian tidak cukup dengan sekedar semangat karena jika sekedar semangat, bisa jadi yang kita ajarkan ternyata hanyalah prasangka-prasangka kita, tidak tahu apakah benar atau tidak. Padahal standar kebenaran bukanlah prasangka. Bisa jadi menurut kita benar tetapi tenyat bukan itu kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana kita tahu benar atau salah? Jawabannya tentu dengan ilmu karena dengan ilmu maka bisa dibedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang sunnah dan mana yang bid'ah, mana yang halal dan mana yang haram. Jangan sampai kita menjadi seorang muslim yang salah sangka karena kebodohan kita. Yang benar kita sangka salah, yang salah justru kita sangka benar. Hidayah kita sangka kesesatan dan kesesatan justru kita sangka hidayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span &gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Tak Cukup Dengan Yang Umum-Umum Saja&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Sesunguhnya kebanyakan dari mengetahui namun pengilmuannya secara umum saja. Kita tahu bahwa dosa itu buruk tapi kita tidak tahu apa saja yang termasuk dosa melainkan sekedar menurut persangkaan kita dan anggapan masyarakat. Kita tahu bahwa syirik adalah dosa yang paling besar namun tidak tahu amalan dan keyakinan apa yang termasuk di dalamnya. Kita tahu bahwa Al Quran adalah petunjuk tapi kita tidak tahu perkara apa yang ditunjukkan oleh Al Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kasus di atas, kita tahu bahwa kita harus mengenalkan Allah pada anak-anak kita tapi kita tidak tahu terhadap apa yang harus kita kenalkan. Maka beginilah hasilnya jika tanpa ilmu, yang kita ajarkan hanyalah bualan-bualan kita dan prasangka-prasangka kita. Bahkan tentang Allah subhanahu wa ta'ala kita berani ceplas-ceplos berbicara tanpa pijakan. Maka pengetahuan secara umum saja tidak cukup, bahkan nyaris tidak mendatangkan manfaat apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Berpayah-Payah Tapi Tak Sampai Tujuan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sungguh merugi keadaan orang yang bersemangat melakukan kebaikan tapi tidak berbekal dengan ilmu. Seorang ibu hendak mengajarkan pada anaknya tentang kebaikan tapi dia tidak tahu apa itu kebaikan. Dia berpayah-payah menanamkan kebiasaan berdoa sebelum makan. Bahkan dengan telaten dia menuntun dan menemani anaknya berdoa setiap sebelum makan. Akhirnya yang dia ajarkan berhasil. Setiap hendak makan otomatis anaknya berdoa "Allahumma baariklanaa fii maa rozaktanaa wa qinaa 'adzabannaar". Si ibu merasa senang karena merasa telah berhasil, padahal jika memang benar Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam yang hendak dia contoh maka dia telah tertipu. Yang Rasulullah ajarkan untuk dibaca sebelum makan adalah "bismillah". Lalu siapa yang hendak dicontoh? Rasulullah atau yang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Berbekal Dengan Ilmu&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tidak terlambat! Maka mulai dari sekarang mari kita bekali diri kita dengan ilmu. Jangan mau menjadi seorang muslim yang salah sangka! Merasa telah berbuat sebaik-baiknya di dunia tapi ternyata amalan kita sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya: "Katakanlah, apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya." (QS. Al Kahfi: 103-104)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah sekarang sangat mudah untuk mendapatkan ilmu bagi orang-orang yang mau mencari. Majelis ilmu ada di mana-mana, buku-buku telah banyak yang diterjemahkan, situs-situs Islam sangat mudah untuk diakses. Lalu apa lagi yang menghalangi kita? Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang terhalangi dari ilmu karena kemalasan atau karena kesombongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para ibu!Wahai para calon ibu! Sungguh mulia niatan kita untuk peduli dengan urusan dien anak-anak kita di saat banyak yang acuh terhadapnya dan merasa cukup dengan dunia. Namun demikian tidak cukup dengan sekedar semangat. Penuhi kantung-kantung perbekalan dengan ilmu! Apa yang mau kita ajarkan pada anak-anak kita kalau kita tidak punya apa-apa? Wallahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-116953923429612180?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/116953923429612180/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=116953923429612180' title='21 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/116953923429612180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/116953923429612180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2007/01/wahai-ibu-sertailah-semangatmu-dengan.html' title='Wahai Ibu Sertailah Semangatmu dengan Ilmu'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>21</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-115253640645649516</id><published>2006-07-10T20:53:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:36:34.787+08:00</updated><title type='text'>Memberi Kabar Gembira dan Mengucapkan Selamat Atas Kelahiran Anak</title><content type='html'>&lt;span &gt;Oleh Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang kisah Ibrahim dan istrinya Sarah ketika didatangi oleh utusan-utusan Allah (para Malaikat) dengan membawa kabar gembira akan kelahiran Ishaq dan Ishaq akan mempunyai anak Ya'qub. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;"Artinya : Dan istrinya[1] berdiri lalu tertawa[2] Maka kami sampaikan kepadanya kabar gembira akan (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir puteranya) Ya'qub. Isterinya berkata. 'Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh?' Para Malaikat itu berkata. 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (itu adalah) rahmat Allah dan keberkahan-Nya dicurahkan atas kamu hai ahlul bait! Sesungguhnya Allah Maha terpuji (dan) Maha Mulia"&lt;/span&gt; [Hud : 69-75]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di dalam surat Al-Hijr ayat 53 Allah Subhanhu wa Ta'ala berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;"Artinya : Sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) seorang anak laki-laki yang alim" &lt;/span&gt;[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di dalam surat Adz-Dzaariyaat ayat 28 Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;"Artinya : Dan mereka (para Malaikat) memberi kabar gembira kepadanya (kepada Ibrahim) akan (kelahiran) seorang anak laki-laki yang alim"&lt;/span&gt; [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di dalam surat ASh-Shaaffaat ayat 101 Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;"Artinya : Maka kami beri dia (Ibrahim) kabar gembira dengan (kelahiran) seorang anak laki-laki yang amat sabar (yang penyantun)"&lt;/span&gt; [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman kepada Nabi Zakariya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;"Artinya : Wahai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (kelahiran) seorang anak laki-laki yang namanya Yahya. Yang Kami tidak jadikan sebelumnya yang serupa dengannya [6]"&lt;/span&gt; [Maryam : 7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara fikih ayat-ayat di atas ialah bahwa disukai bagi kita memberi kabar gembira kepada ikhwan kita yang mendapat rizki seorang anak atau akan memperoleh anak sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi kabar gembira kepada Ibrahim akan kelahiran Ismail kemudian Ishaq dan Zakariya akan kelahiran Yahya. Atau memberikan selamat kepada saudara kita yang mendapat rizki seorang anak, sama saja apakah anak laki-laki atau anak perempuan tentang disukainya memberi kabar gembira dan mengucapkan selamat kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Adapun perbedaan memberi kabar gembira dengan mengucapkan selamat ialah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a] Bahwa &lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Al-Bisyaarah&lt;/span&gt; memberi kabar gembira maknanya memberitahukan kepadanya terhadap sesuatu yang menyenangkan.&lt;br /&gt;[b] Sedangkan &lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Tahniah&lt;/span&gt; mengucapkan selamat maknanya mendo'akan kebaikan kepadanya tentang sesuatu yang ada padanya sesudah dia mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan beberapa ayat di akhir-akhir surat At-Taubah tentang telah diterimanya taubat Ka'ab bin Malik bersama dua orang kawannya, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabat segera memberi kabar gembira kepada Ka'ab bin Malik dan mereka (para shahabat) mengucapkan selamat kepadanya. (Riwayat Bukhari dan Muslim dalam hadits yang panjang tentang kisah Ka'ab bin Malik yang tertinggal dari perang Tabuk).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Menanti Buah Hati dan Hadiah Bagi Yang Dinanti, oleh Abdul Hakim bin Amir Abdat, hal 126-129 Penerbit Darul Qalam]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foot Note&lt;br /&gt;[1] Yaitu Sarah&lt;br /&gt;[2] Lantaran heran melihat tetamunya para Malaikat yang tidak mau makan hidangan yang telah disuguhkan oleh suaminya dan dilayani olehnya!&lt;br /&gt;[3] Yakni Ishaq yang akan menjadi Nabi&lt;br /&gt;[4] Yakni Ishaq&lt;br /&gt;[5] Yakni Ismail anak tertua Ibrahim yang lahir lebih dahulu sebelum Ishaq&lt;br /&gt;[6] Yakni Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak menciptakan sebelumnya Yahya yang serupa dengan Yahya. Tafsir yang kedua bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak jadikan bagi perempuan-perempuan yang mandul dapat hamil dan melahirkan sebelum isteri Zakariya yang mandul kemudian hamil dan melahirkan Yahya. Tafsir yang ketiga bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak namakan kepada seorang pun juga dengan nama Yahya sebelum Yahya.&lt;/span&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-115253640645649516?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/115253640645649516/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=115253640645649516' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115253640645649516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115253640645649516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2006/07/memberi-kabar-gembira-dan-mengucapkan.html' title='Memberi Kabar Gembira dan Mengucapkan Selamat Atas Kelahiran Anak'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-115253595020219971</id><published>2006-07-10T20:39:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T13:01:09.642+08:00</updated><title type='text'>Hukum Mengajak Anak ke Masjid</title><content type='html'>&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Pertanyaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Sebagian orang membawa anak-anaknya yang belum mumayyiz ke masjid, mereka belum bisa mengerjakan shalat dengan baik. Mereka berdiri berbaris bersama jama'ah. Namun sebagian anak bermain-main dan mengganggu orang sekitarnya. Bagaimana hukumnya hal tersebut? Apa nasihat Syaikh kepada orang tua anak-anak tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Jawaban&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut hemat saya, membawa anak-anak yang akan mengganggu jama'ah shalat tidak boleh. Karena hanya akan menyakiti jama'ah yang sedang menunaikan kewajiban dari Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Shallallahu 'alaiahi was sallam pernah mendengar beberapa sahabat yang sedang shalat, bersuara keras dalam qiro'ah maka beliau bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;"Artinya: Janganlah&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt; sebagian kalian bersuara melebihi orang lain dalam membaca ayat."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits lain, &lt;span style="color:#993399;"&gt;"Janganlah sebagian kalian mengganggu lainnya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, segala sesuatu yang dapat mengganggu jama'ah shalat tidak boleh dilakukan oleh siapapun. Nasihat saya kepada orang tua, sebaiknya tidak menyertakan anak-anak ke masjid, hendaklah mereka berpegang pada petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;"Artinya: Perintahkanlah anak-anak kalian mengerjakan shalat sewaktu berumur tujuh tahun. Dan pukullah mereka jika tidak mau melaksanakannya sewaktu umur sepuluh tahun."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga saya pesan kepada pengurus masjid agar berlapang dada dan tidak menghalangi anak-anak datang ke masjid sepanjang diperbolehkan oleh syari'at. Dan tidak mengusir mereka dari tempatnya, karena siapa saja yang lebih dahulu mengambil tempat, maka dialah yang paling berhak mendapatkannya, baik anak-anak atau orang dewasa. Karena itu, mengusir anak-anak dari tempat shalat mereka mengandung unsur:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. Perampasan hak, karena siapapun yang mendahului orang lain dari kalangan muslimin, maka dia orang yang paling berhak meraihnya.&lt;br /&gt;[2]. Menyebabkan trauma pada anak untuk kembali mendatangi masjid.&lt;br /&gt;[3]. Akan menanamkan rasa dengki anak terhadap orang yang mengusirnya dari tempatnya semula.&lt;br /&gt;[4]. Anak-anak akan berkumpul menjadi satu, sehingga terjadilah permainan di antara mereka dan menyebabkan gangguan terhadap jama'ah yang sebenarnya hal itu tidak akan terjadi manakala anak-anak berbaris dalam shaf orang-orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pendapat yang disebutkan oleh sebagian ulama, bahwa anak kecil boleh dipindahkan dari tempatnya semula sehingga berada di ujung shaf atau di shaf paling akhir, dengan dalil bahwa Nabi pernah bersabda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;"Artinya : Hendaknya berada didekatku, orang-orang dewasa dan berakal."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah pendapat marjuh (lemah) yang bertentangan dengan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;"Artinya : Barangsiapa lebih dulu mendapatkan sesuatu yang belum ada seorangpun yang mendahuluinya maka dialah orang yang paling berhak mendapatkkannya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan istidlal (penggunaan dalil) mereka dengan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam: "Hendaknya berada didekatku, orang-orang dewasa dan berakal", dalam masalah ini tidak tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kandungan hadits ini adalah anjuran kepada orang-orang dewasa dan berakal agar maju mendekati Nabi. Mereka adalah orang-orang yang lebih faham terhadap seluk beluk shalat daripada anak kecil. Dan lebih kuat pengetahuannya terhadap apa-apa yang dilihat atau didengar dari Nabi. Beliau tidak mengatakan: "Tidak boleh berada diekatku kecuali orang dewasa lagi berakal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya beliau mengucapkan kalimat seperti itu, tentu pendapat yang membolehkan pemindahan anak-anak dari barisan depan dapat diterima. Tetapi redaksi hadits ini berisi perintah bagi orang-orang dewasa dan berakal untuk mencari shaf-shaf awal agar berada di dekat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Syaikh Ibnu Utsaimin, Fatawa Islamiyah 2/8]&lt;br /&gt;[Disalin dari kitab Fatawa Ath-Thiflul Muslim, edisi Indonesia 150 Fatwa Seputar Anak Muslim, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Penerjemah Ashim, Penerbit Griya Ilmu]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-115253595020219971?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/115253595020219971/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=115253595020219971' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115253595020219971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115253595020219971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2006/07/hukum-mengajak-anak-ke-masjid.html' title='Hukum Mengajak Anak ke Masjid'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-115253490383275627</id><published>2006-07-10T20:28:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:37:02.583+08:00</updated><title type='text'>Melubangi Telinga dan Hidung Bayi Perempuan Untuk Perhiasan</title><content type='html'>&lt;span &gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Pertanyaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin ditanya: Apa hukum melubangi telinga dan hidung bayi perempuan untuk perhiasan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Jawaban&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang benar adalah, melubangi telinga tidak masalah, karena tujuan di balik itu untuk perhiasan yang dibolehkan. Sebagaimana tercatat (dalam sejarah) bahwa wanita-wanita sahabat memiliki perhiasan emas yang dipasang di telinga (anting-anting). Ini termasuk perbuatan melukai yang ringan, terlebih lagi bila dilakukan saat masih kecil karena cepat sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan melubangi hidung (tindik), maka saya tidak pernah menjumpai pendapat ulama tentang hal itu. Tapi menurut saya dalam hal ini ada semacam menyiksa atau merubah bentuk seperti yang kita lihat, tetapi mungkin saja orang lain tidak sependapat dengan saya. Bila dalam suatu negeri perhiasan di hidung termasuk kecantikan dan keindahan, maka tidak masalah dengan melubangi dan memakai perhiasan di hidung.&lt;br /&gt;[Syaikh Ibnu Utsaimin, Majmu’ Fatawa Syaikh 4/137]&lt;br /&gt;[Disalin dari kitab Fatawa Ath-Thiflul Muslim, edisi Indonesia 150 Fatwa Seputar Anak Muslim, Penerbit Griya Ilmu]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Pertanyaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin ditanya: Apa hukum menindik telinga dan hidung perempuan untuk tujuan berhias?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Jawaban&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menindik telinga hukumnya boleh, karena tujuannya adalah untuk berhias. Telah diriwayatkan bahwa para istri-istri shahabat mempunyai anting-anting yang mereka pergunakan di telinga mereka. Menusuknya adalah menyakti, tapi hanya sedikit, jika ditindik ketika masih kecil, sembuhnya pun cepat. Sedang menindik hidung, hukumnya sama dengan menindik telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh Syaikh Abdullah Al-Fauzan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdullah Al-Fauzan berkata: Diperbolehkan menindik telinga karena bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fithrah wanita untuk berhias. Adanya rasa sakit ketika ditindik tidaklah merupakan halangan, karena hanya merupakan sakit sedikit dan sebentar. Dan menindik telinga seringkali dilakukan ketika anak masih kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menindik telinga merupakan perkara biasa bagi wanita dari dulu hingga sekarang. Tidak ada larangan tentangnya, baik di dalam Al-Qur’an maupun hadits, justru ada riwayat yang mengisyaratkan diperbolehkannya dan pengakuan manusia atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat riwayat dari Abdurrahman bin Abbas, ia berkata bawa Ibnu Abbas ditanya: "Pernahkah kamu menyaksikan hari raya bersama Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam?" Dia menjawab, Pernah, kalaulah bukan karena kedudukanku di sisinya, saya menyaksikannya semenjak kecil. Beliau mendatangi tanda di rumah Katsir bin Shalt (rumah Katsir bin Salt dipakai sebagai kiblat untuk shalat 'Ied). Lalu beliau shalat kemudian berkhutbah tanpa terdengar adzan ataupun iqamah. Beliau memerintahkan untuk bersedekah, maka para wanita mengulurkan tangannya ke telinga-telinga mereka dan leher-leher mereka (untuk mencopot perhiasan mereka) dan beliau memerintahkan kepada Bilal untuk mendatangi tempat wanita, (setelah selesai) kemudian Bilal kembali menghadap Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lafazh riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Abbas disebutkan, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk bersedekah, maka saya melihat para wanita mengulurkan tangan ke telinga dan leher mereka (mengambil perhiasan mereka).&lt;br /&gt;[Fatawa Lil Fatayat Faqoth, hal. 47]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh Syaikh Abdullah bin Jibrin&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Pertanyaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdullah bin Jibrin ditanya: Apa hukum menggunakan gelang di hidung untuk hiasan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Jawaban&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Diperbolehkan bagi wanita untuk berhias dengan perhiasan sebagaimana adat kebiasaan, meski mengharuskannya untuk melubangi sebagian tubuhnya, seperti menindik telinga. Jadi menggunakan gelang di hidung diperbolehkan sebagaimana diperbolehkan menindik hidung sapi dan mengikatnya dengan tali untuk mengendalikannya. Dan hal itu tidak dianggap sebagai kesia-siaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq, Penerjemah Amir Hazmah Fakhruddin]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-115253490383275627?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/115253490383275627/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=115253490383275627' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115253490383275627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115253490383275627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2006/07/melubangi-telinga-dan-hidung-bayi.html' title='Melubangi Telinga dan Hidung Bayi Perempuan Untuk Perhiasan'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-115253451988456246</id><published>2006-07-10T20:20:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:37:16.591+08:00</updated><title type='text'>Hukum Mengalungkan Jimat Pada Anak-anak</title><content type='html'>&lt;span &gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya: Apakah menulis berbagai ta'awudz (kalimat untuk memohon perlindungan) dari Al-Qur'an atau lainnya, lalu mengalungkankannya di leher anak, termasuk perbuatan syirik atau bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Rasulullah, bahwa beliau bersabda. &lt;span style="color:#009900;"&gt;"Artinya: Sesungguhnya ruqyah (jampi-jampi), tamaim, jimat dan tiwalah [1] adalah syirik."&lt;/span&gt; [Hadits Riwayat Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim dengan menyatakan shahih]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ahmad, Abu Ya'la dan Al-Hakim menyatakan shahih dari Uqbah bin Amir, bahwa Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda. &lt;span style="color:#009900;"&gt;"Artinya: Barangsiapa menggantungkan jimat, maka Allah tidak akan sempurnakan (hajat) baginya. Barangsiapa bergantung pada wada'ah [2], niscaya Allah tidak akan memberikan ketenangan padanya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits ini dari jalur lain dari Uqbah bin Amir. &lt;span style="color:#009900;"&gt;"Artinya : Barangsiapa bergantung pada tamimah sungguh dia telah berbuat syirik."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang senada maknanya masih banyak.&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Tamimah:&lt;/span&gt; Adalah sesuatu yang dikalungkan pada anak-anak atau obyek lainnya untuk mengusir pengaruh mata ('ain), jin, penyakit dan sebagainya. Sebagai orang menamainya Hirz atau Al-Jami'ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Ada dua jenis Tamimah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Pertama:&lt;/span&gt; Berasal dari nama-nama setan, tulang, butir-butir bulat berlubang, paku-pakuan, atau dengan tulisan huruf-huruf yang diputus-putus (thalasim) dan semisalnya. Hukumnya haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diragukan lagi perbuatan ini hukumnya haram disebabkan banyaknya dalil yang menegaskan keharamannya. Ini juga termasuk syirik asghar (syirik kecil) berdasarkan hadits di atas dan hadits lain yang semakna. Bisa juga termasuk ke dalam syirik akbar (syirik besar) jika si pelaku berkeyakinan bahwa tamimah itu sendiri yang menjaganya, menyembuhkan penyakit, atau mengusir bahaya tanpa ada kehendak dan izin dari Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Kedua:&lt;/span&gt; Berupa ayat-ayat Al-Qur'an, do'a-do'a dari Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam dan semisalnya berupa do'a-do'a yang baik. &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Ulama berselisih pendapat tentang jenis ini&lt;/span&gt;. Sebagian memperbolehkan dengan alasan bahwa hal itu termasuk jenis ruqyah yang boleh. Sebagian yang lain melarangnya dengan mengatakan itu haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Dasar rujukan mereka ada dua:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;[1] Keumuman hadits&lt;/span&gt; yang melarang tama'im dan menyatakan dengan tegas bahwa itu adalah syirik. Maka tidak boleh ada pengkhususan salah satu jenis tamimah kecuali berdasarkan dalil syar'i, sementara tidak ada dalil yang menunjukkan adanya pengkhususan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ruqyah, maka banyak hadits shahih yang menunjukkan bahwa bila berasal dari ayat-ayat Al-Qur'an atau do'a-do'a yang dibolehkan, tidak ada masalah untuk dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaratnya, dilakukan dengan bahasa yang dipahami maknanya dan tidak dijadikan sebagai sandaran tetapi diyakini sebagai salah satu sebab semata. Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda. &lt;span style="color:#009900;"&gt;"Artinya: Ruqyah itu boleh selama tidak mengandung kesyirikan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi sendiri pernah di ruqyah dan meruqyah beberapa shahabat. Beliau bersabda. &lt;span style="color:#009900;"&gt;"Artinya: Tiada ruqyah kecuali dari 'ain/mata dan bisa binatang."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi hadits yang berbicara tentang hal ini. Sedangkan tamimah (jimat) tidak ada pengecualian pada satu jenispun dalam hadits-hadits, maka harus dilarang seluruhnya berdasarkan keumuman dalil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;[2] Menutup akses (dzari'ah) menuju praktek syirik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ini satu kaidah penting dalam syari'at. Perlu diketahui bahwa bila diperbolehkannya tamimah dengan ayat-ayat Al-Qur'an dan Al-Hadits akan membuka pintu menuju syirik dan terjadi kerancuan antara jenis tamimah yang boleh dengan yang terlarang serta sulit membedakan antara keduanya kecuali dengan susah payah, maka jalan yang mengantarkan kepada kesyirikan ini harus ditutup rapat-rapat dan dikunci. Inilah pendapat yang benar karena dalilnya jelas. Wallahul Muwaffiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Fatawa Al-Mar'ah Al-Muslimah 1/162]&lt;br /&gt;[Disalin dari kitab Fatawa Ath-thiflul Muslim, edisi Indonesia 150 Fatwa Seputar Anak Muslim, Penyusun Yahya bin Sa'id Alu Syalwan, Penerjemah Ashim, Penerbit Griya Ilmu]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Foot Note&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[1] Tiwalah adalah sesuatu yang dibuat dengan anggapan dapat menjadikan seorang istri mencintai suaminya, atau suami mencintai istri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[2] Wada'ah adalah jimat yang terbuat dari sejenis rumah kerang. Orang-orang jahiliyah beranggapan depan digunakan sebagai penangkal penyakit&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-115253451988456246?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/115253451988456246/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=115253451988456246' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115253451988456246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115253451988456246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2006/07/hukum-mengalungkan-jimat-pada-anak.html' title='Hukum Mengalungkan Jimat Pada Anak-anak'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-115253402813487824</id><published>2006-07-10T20:18:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:37:33.766+08:00</updated><title type='text'>Hukum Imunisasi</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;span &gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya: Apakah hukum berobat dengan imunisasi sebelum tertimpa musibah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;La ba'sa (tidak masalah) berobat dengan cara seperti itu jika dikhawatirkan tertimpa penyakit karena adanya wabah atau sebab-sebab lainnya. Dan tidak masalah menggunakan obat untuk menolak atau menghindari wabah yang dikhawatirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam dalam hadits shahih. "Artinya: Barangsiapa makan tujuh butir kurma Madinah pada pagi hari, ia tidak akan terkena pengaruh buruk sihir atau racun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini termasuk tindakan menghindari penyakit sebelum terjadi. Demikian juga jika dikhawatirkan timbulnya suatu penyakit dan dilakukan immunisasi untuk melawan penyakit yang muncul di suatu tempat atau di mana saja, maka hal itu tidak masalah, karena hal itu termasuk tindakan pencegahan. Sebagaimana penyakit yang datang diobati, demikian juga penyakit yang dikhawatirkan kemunculannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak boleh menggunakan jimat-jimat untuk menghindari penyakit, jin atau pengaruh mata yang jahat. Karena Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam melarang dari perbuatan itu. Beliau Shallallahu'alaihi wa sallam sudah menjelaskan itu termasuk syirik kecil. Kewajiban kita harus menghindarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Fatawa Syaikh Abdullah bin Baz. Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun X/1427/2006M. Dikutip dari kitab Al-Fatawa Al-Muta?alliqah bi Ath-Thibbi wa Ahkami Al-Mardha, hal. 203. DArul Muayyad, Riyadh]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-115253402813487824?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/115253402813487824/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=115253402813487824' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115253402813487824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115253402813487824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2006/07/hukum-imunisasi.html' title='Hukum Imunisasi'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-115252543380245611</id><published>2006-07-10T17:54:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:37:46.851+08:00</updated><title type='text'>Keturunan Atas Kehendak dan Taqdir Allah</title><content type='html'>&lt;span &gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Ada seorang lelaki yang belum dikaruniai anak. Ia sempat mengalami tekanan jiwa, namun tidak tahu apakah istrinya juga terkena beban pikiran atau tidak. Ia menghadapi sindiran dan celaan dari masyarakat sekitar, karena keterlambatan mendapatkan anak. Mereka anggap hal itu sebagai aib (kekurangan). Mohon kami diberi penjelasan dalam masalah ini, semoga Allah membalas kebaikan Syaikh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Janganlah anda berpikiran buruk lantaran belum dikaruniai anak. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: &lt;span style="color:#009900;"&gt;"Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugrahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendakiNya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia dikehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa."&lt;/span&gt; [Asy-Syura : 49-50]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa. Dialah yang menciptakan dan menentukan apa yang Dia kehendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat di atas, Allah memaparkan empat golongan manusia ditinjau dari sisi keturunan yang dikaruaniakan kepada mereka:&lt;br /&gt;[1] Allah mengaruniakan anak perempuan saja&lt;br /&gt;[2] Allah mengaruniakan anak laki-lakai saja&lt;br /&gt;[3] Allah mengaruniakan anak laki-laki dan perempuan&lt;br /&gt;[4] Allah menjadikan seseorang mandul, tidak beranak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh fenomena ini terjadi berdasarkan ilmu, hikmahNya dan kekuasaanNya. Bisa jadi keadaan anda akan normal sehingga anda akan mendapatkan seorang keturunan. Selama istri anda tidak menuntut apa-apa dari anda, maka janganlah bersedih hati karena hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan atas kesabarannya menemani hidup anda. Kita mohon kepada Allah, Yang Maha Tinggi lagi Mahakuasa agar memberikan kepada kita semua taufik dan pahala. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan permintaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Fatawa Manar Al-Islam 3/625]&lt;br /&gt;[Disalin dari kitab Fatawa Ath-thiflul Muslim, edisi Indonesia 150 Fatwa Seputar Anak Muslim, Penyusun Yahya bin Sa'id Alu Syalwan, Penerjemah Ashim, Penerbit Griya Ilmu]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-115252543380245611?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/115252543380245611/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=115252543380245611' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115252543380245611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115252543380245611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2006/07/keturunan-atas-kehendak-dan-taqdir.html' title='Keturunan Atas Kehendak dan Taqdir Allah'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-115251565600834505</id><published>2006-07-10T15:09:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:38:06.920+08:00</updated><title type='text'>Pakaian Untuk Anak yang Terlarang</title><content type='html'>&lt;span &gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Apa hukum memakaikan baju pada anak-anak yang ada gambar bernyawa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ahlul Ilmi (para ulama) menetapkan hukumnya haram memakaikan pakaian pada anak kecil yang dikenakan orang dewasa. Pakaian yang bergambar hidup haram dipakai orang dewasa, demikian juga hukumnya tidak boleh dipakai anak-anak. Dan memang demikian hukumnya. Seyogyanya kaum muslimin memboikot model pakaian yang seperti ini agar orang-orang yang berniat jahat dan rusak tidak menyusup masuk kepada kita melalui sudut-sudut ini. Kalau benar-benar diboikot maka mereka tidak akan menemukan akses untuk memasoknya ke negeri kita.&lt;br /&gt;[Majmu Fatawa wa Rasa'il 3/158]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Begitu banyak pemajangan gambar-gambar orang dewasa maupun anak-anak di counter-counter perdagangan. Gambar-gambar tersebut merupakan potret artis internasional atau tokoh-tokoh terkenal sebagai sarana pengenalan satu jenis atau berbagai jenis produk, parfum misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami tegur, para pemilik toko menangkis bahwa gambar-gambar tersebut tidak mujassamah (membentuk tubuh) artinya tidak haram pemasangannya, dan ini juga bukan upaya meniru ciptaan Allah. Mereka mengklaim pernah membaca fatwa Syaikh di harian Al-Muslimun yang isinya bahwa gambar yang mujassamah saja yang haram, lainnya tidak. Kami ingin penjelasan lebih lanjut. Terima kasih. Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Waalaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh. Orang yang menisbatkan fatwa gambar yang terlarang, hanyalah yang mujassam lainnya tidak, kepada kami sungguh dia telah berbohong atas nama kami. Padahal kami adalah tidak membolehkan mengenakan pakaian yang ada gambar bernyawa baik pada pakaian orang dewasa atau anak-anak, juga tidak boleh menyimpan photo-photo (dengan gambar bernyawa) sebagai kenangan atau lainnya kecuali dalam kondisi darurat atau kebutuhan mendesak, seperti kartu tanda penduduk, atau surat-surat izin.&lt;br /&gt;[Fatawa Islamiyah 4/364]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Sebagian ibu-ibu -semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka- memakaikan putri-putri mereka pakaian-pakaian yang tidak menutupi betis. Jika kami menasehati, mereka berdalih, kami dulu juga memakai pakaian tersebut sebelumnya (waktu kecil) dan ternyata tidak membahayakan kami (tidak menghalangi kami untuk memakai hijab) saat kami dewasa. Bagaimana menurut pendapat Syaikh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, tidak sepantasnya seseorang memakaikan putrinya dengan pakaian model tersebut meski masih kecil. Sebab cara seperti itu akan menjadi kebiasaannya dan dia akan menganggap remeh. Tapi kalau dia terbiasa berpakaian sopan sejak dini, maka ia akan terbiasa juga dengan pakaian tersebut ketika dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wasiat saya bagi para muslimah, agar meninggalkan model pakaian luar negeri yang berasal dari musuh agama, dan sebaliknya hendaklah ia membiasakan putri-putri mereka mengenakan pakaian yang menutup badan dan mendidik rasa malu lantaran rasa malu termasuk bagian dari iman. [Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin 2/845]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari kitab Fatawa Ath-Thiflul Muslim, edisi Indonesia 150 Fatwa Seputar Anak Muslim, Penyusun Yahya bin Sa'id Alu Syalwan, Penerjemah Ashim, Penerbit Griya Ilmu]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-115251565600834505?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/115251565600834505/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=115251565600834505' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115251565600834505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115251565600834505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2006/07/pakaian-untuk-anak-yang-terlarang.html' title='Pakaian Untuk Anak yang Terlarang'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-115251518725728026</id><published>2006-07-10T15:00:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:38:31.819+08:00</updated><title type='text'>Hukum Khitan Bagi Anak Perempuan</title><content type='html'>&lt;span &gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya: "Apakah khitan (sunat) bagi wanita itu hukumnya wajib ataukah sunnah yang disukai saja?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Telah shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bukan hanya dalam satu hadits, anjuran beliau untuk menyunat wanita. Beliau juga memerintahkan wanita yang menyunat untuk tidak berlebihan dalam menyunat. Tapi dalam masalah ini berbeda antara suatu negeri dengan negeri-negeri lainnya. Kadang-kadang dipotong banyak dan kadang-kadang hanya dipotong sedikit saja (ini biasanya terjadi di negeri-negeri yang berhawa dingin). Jadi sekiranya perlu dikhitan dan dipotong, lebih baik di potong. Jika tidak, maka tidak usah di potong.&lt;br /&gt;[Disalin dari Kitab Majmu'ah Fatawa Al-Madina Al-Munawarrah edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Albani, hal 162-163, Pustaka At-Tauhid]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta'&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta' ditanya: "Apa hukum khitan bagi anak perempuan, apakah termasuk sunnah atau makruh?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Khitan bagi wanita disunnahkan berdasarkan keumuman sabda Nabi Shallalalhu 'alaihi wa sallam bahwa sunnah fitrah itu ada lima, di antaranya khitan. Juga berdasarkan riwayat Khalal dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda."Artinya : Khitan itu merupakan sunnah bagi para lelaki dan kehormatan bagi para wanita"&lt;br /&gt;[Fatawa Lajnah Daimah Lil Ifta' 5/119]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta'&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta': "Saya mendengar khatib di masjid kami berkata di atas mimbar bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menghalalkan khitan bagi para wanita. Kami berkata kepadanya bahwa wanita-wanita di daerah kami tidak dikhitan. Bolehkan seorang wanita tidak melakukan khitan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Khitan bagi wanita merupakan kehormatan bagi mereka tapi hendaknya tidak berlebihan dalam memotong bagian yang dikhitan, berdasarkan larangan NabiShallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, artinya: "Sunnah-sunnah fitrah itu ada lima; khitan, mencukur bulu kemaluan, memendekkan kumis, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak." [Muttafaq Alaih]&lt;br /&gt;Hadits ini umum, mencakup lelaki dan perempuan.&lt;br /&gt;[Fatawa Lajnah Daimah Lil Ifta' 5/119,120]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Oleh Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta'&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta ditanya: Khitan bagi wanita termasuk sunnah ataukah kebiasaan yang buruk? saya membaca di salah satu majalah bahwa mengkhitan wanita bagaimanapun bentuknya adalah kebiasaan buruk dan membahayakan dari sisi kesehatan, bahkan bisa menyebabkan pada kemandulan. Benarkah hal tersebut?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mengkhitan anak perempuan hukummnya sunnah, bukan merupakan kebiasaan buruk, dan tidak pula membahayakan jika tidak berlebihan. Namun apabila berlebihan, bisa saja membahayakan baginya.&lt;br /&gt;[Fatwa Lanjah Daimah lil Ifta ; 5/120]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta'&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta ditanya: "Apa hukum mengkhitan wanita, dan apahukum berpesta pora dalam perayaan khitan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Khitan bagi wanita disunnahkan dan merupakan kehormatan bagi mereka. Sedangkan berpesta dalam perayaan khitan, kami tidak mendapatkan dasarnya sama sekali dalam syari'at Islam yang suci ini. Adapun perasaan senang dan gembira karenanya, merupakan hal yang sudah seharusnya, karena khitan merupakan perkara yang disyariatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman, artinya: &lt;span style="color:#6600cc;"&gt;"Katakanlah. Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu adalah labih baik dari apa yang mereka kumpulkan."&lt;/span&gt; [Yunus : 58]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khitan merupakan keutamaan dan rahmat dari Allah, maka membuat kue-kue pada saat dikhitan dengan tujuan untuk bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala boleh dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita-3 hal 121-123 Darul Haq]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-115251518725728026?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/115251518725728026/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=115251518725728026' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115251518725728026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115251518725728026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2006/07/hukum-khitan-bagi-anak-perempuan.html' title='Hukum Khitan Bagi Anak Perempuan'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-115251468707098883</id><published>2006-07-10T14:48:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:38:47.113+08:00</updated><title type='text'>Derajat Hadist Mengadzani Bayi Baru Lahir</title><content type='html'>&lt;span &gt;Sumber: &lt;/span&gt;&lt;a href="http://groups.yahoo.com/group/assunnah/message/4755"&gt;&lt;span &gt;milist Assunnah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan perkataan &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; dalam kitab &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;"Silsilah&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt; hadits-hadist dhaif dan maudhu"&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;, hadits no 321.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadist no. 321: &lt;span style="color:#009900;"&gt;"Barang siapa dianugrahi anak kemudian ia azan di telinga kanannya dan iqamah di telinga kirinya, maka anak itu kelak tidak akan diganggu jin."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini &lt;span style="color:#009900;"&gt;maudhu' (palsu)&lt;/span&gt;. Ibnu Sunni meriwayatkannya dalam kitab Amalul Yaumi wal-Lailati halaman 200 dan juga oleh Ibnu Asakir II/182, dengan sanad dari Abu Ya'la bin Ala ar-Razi, dari Maryam bin Salim, dari Talhah bin Ubaidillah al-Uqaili, dari Hussain bin Ali r.a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, sanad tersebut maudhu' sebab Yahya bin Ala dan Marwan bin Salim dikenal sebagai pemalsu hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, dalam periwayatan hadits di atas ada semacam unsur meremehkan atau menggampangkan masalah. Hal itu diutarakan oleh al-Haitsami dalam kitab Majma' az-Zawa'id IV/59, "Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Ya'la dan dalam sanadnya terdapat Marwan bin Sulaiman al-Ghiffari yang oleh para muhadditsin riwayatnya ditinggalkan atau tidak diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Manawi, pensyarah kitab al-Jami'us-Shaghir berkata,"Hadits ini dalam sanadnya terdapat Yahya bin Ala al-Bajali ar-Razi." Adz-Dzahabi dalam kitab adh-Dhuafa' wal-Matrukin berkata,"Ia pendusta dan pemalsu." Itulah yang dinyatakan oleh Imam Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, kepalsuan hadits di atas tidak banyak diketahui ulama. Buktinya banyak ulama kondang yang mengutarakan hadits di atas tanpa menyebutkan kemaudhu'an dan kedha'ifannya. Hal ini terutama dilakukan oleh ulama penulis atau pembuat kitab2 wirid atau kitab2 fadha'il. Misalnya Imam Nawawi mengungkapkan hadits tersebut dengan perawi Ibnu Sunni namun tanpa memberikan isyarat atau komentar akan kedhaifan dan kemaudhu'annya. Begitu pula dengan pensyarahnya yakni Ibnu Ala. Ia pun tidak menyinggung tentang sanadnya sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu datanglah ulama generasi berikutnya yakni Ibnu Taimiyah yang dapat dilihat dalam kitab al-Kalimuth Thayyib yang diikuti oleh muridnya Ibnu Qayyim yang diutarakan dalam kitab al-Wabilush-Shayyib. Namun keduanya menyinggung seraya berkata bahwa dalam sanadnya terdapat kedha'ifan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah keduanya, datanglah generasi ulama berikutnya atau bahkan semasa dengan keduanya, tetapi tidak menyinggung atau bahkan diam seribu bahasa dalam mengomentari sanad hadits tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada prinsipnya, sekalipun keduanya (Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim) telah terbebas dari aib mendiamkan hadits atau riwayat dha'if, namun tetap tidak bebas dari pengungkapan kedha'ifan suatu hadits. Maksudnya, bila mengetahui kedha'ifan hadits tadi mengapa mereka masih mengutarakannya? itu berarti hanya merupakan pernyataan kedha'ifan hadits tersebut dan bukannya menunjukkan akan kemaudhu'annya. Bila tidak demikian, maka sudah sepantasnya kedua imam yang agung itu tidak mengutarakan hadits tersebut diatas. inilah yang pasti akan dipahami oleh orang2 yang meneliti dan mau menelaah kitab atau karya tulis kedua imam tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat saya khawatir ialah para ulama generasi sesudah beliau menjadi terkecoh hingga dengan lantang berkata," Tidak apa-apa, karena hadits dha'if pun dapat dipakai untuk mengamalkan fadha'ilul-a'mal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terjadi kemudian, bahkan hadits itu dijadikan penguat hadits dha'if lainnya dengan meremehkan syarat mutlak yang harus ada yaitu hendaknya hadits tersebut tidak terlalu dha'if derajatnya. Sebagi bukti ialah apa yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dengan sanad dha'if dari Abi Rafi' yang berkata, &lt;span style="color:#009900;"&gt;"Aku telah melihat Rasulallah mengumandangkan azan pada telinga Hasan bin Ali ketika dilahirkan oleh Fatimah binti Muhammad saw."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Tirmidzi berkata, "hadits ini sahih dan hendaknya diamalkan dengan dasar hadits tersebut."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pensyarahnya yakni al-Mubar Kafuri setelah menjelaskan kedha'ifan sanadnya dengan dasar pernyataan para ulama, berkata, "Bila ditanya,'Bagaimana mungkin dapat diamalkan sedangkan hadits itu dha'if, maka jawabannya ialah, 'Memang benar hadits tersebut dha'if, akan tetapi menjadi kuat dengan adanya riwayat lain yaitu hadits dari Husain bin Ali ra. yang diriwayatkan oleh Abu Ya'la al-Maushili dan Ibnus Sunni.' "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba anda perhatikan! Bagaimana mungkin hadits menjadi kuat atau dapat dikuatkan dengan adanya hadits maudhu'? Dari mana datangnya kaidah tersebut? Sungguh yang demikian itu tidak ada kamusnya dalam sejarah para muhadditsin pada masa lalu hingga hari kiamat nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, yang demikian itu dapat terjadi tidak lain karena tidak mengenal kemaudhu'an hadits Husain bin Ali diatas dan juga terkecoh oleh komentar atas termuatnya riwayat tersebut dalam karya tulis ulama terkenal atau ulama yang dianggap menjadi panutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar untuk menguatkan hadits Abi Rafi' yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi itu adalah dengan adanya riwayat atau hadits Ibnu Abbas ra. yaitu, "Sesungguhnya Rasulallah telah mengumandangkan azan pada telinga Hasan bin Ali ketika lahir dan mengumandangkan iqamah pada telinga kirinya (Hadits tersebut telah dikeluarkan oleh Baihaqi dalam kitab Syi'b Iman berbarengan dengan hadits Hasan bin Ali.) Kemudian Baihaqi berkata, "kedua hadits tersebut dalam sanadnya terdapat kedha'ifan ."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, pernyataan Baihaqi tersebut telah diutarakan oleh Ibnu Qayyim dalam kitab at-Tuhfah halaman 16. Namun, tampaknya sanad hadits ini lebih baik ketimbang sanad hadits Hasan bin Ali yang dapat dijadikan kesaksian atau penguat bagi hadits Rafi' tadi. Bila demikian masalahnya, maka riwayat inilah sebagai penguat adanya azan pada telinga sang bayi saat dilahirkan seperti yang tercantum dalam hadits Rafi' riwayat Imam Tirmidzi tadi. Adapun mengenai pengumandangan iqamah pada telinga kiri adalah riwayat yang gharib (asing). Wallahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-115251468707098883?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/115251468707098883/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=115251468707098883' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115251468707098883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115251468707098883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2006/07/derajat-hadist-mengadzani-bayi-baru.html' title='Derajat Hadist Mengadzani Bayi Baru Lahir'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-115250382939877014</id><published>2006-07-10T11:51:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:39:45.178+08:00</updated><title type='text'>Cara-Cara Yang Mungkin Ditempuh Suami Istri Sebelum Menempuh Thalaq</title><content type='html'>&lt;span &gt;Dikutip dari vbaitullah.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut nasihat Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz mengenai cara-cara yang dapat ditempuh pasangan suami istri sebelum memutuskan untuk cerai. Nasihat beliau ini merupakan jawaban dari pertanyaan yang diajukan kepada beliau. Apa saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span &gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Islam tidaklah menjadikan talak melainkan sebagai cara terakhir yang ditempuh bagi perpisahan pasangan suami istri. Sebaliknya Islam telah memberikan sejumlah cara yang selayaknya ditempuh pertama kali sebelum beranjak kepada Talak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada baiknya Syaikh membahas cara-cara yang telah diberikan Islam tersebut dalam mengatasi pertikaian di antara suami dan istri sebelum mereka memutuskan bercerai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Allah telah mensyariatkan islah antara suami istri, dan mensyariatkan agar menempuh wasilah-wasilah yang dapat menghimpun kerukunan dan menghilangkan syubhat perceraian. Di antaranya adalah memberi nasihat dan pisah ranjang, dan memukul dengan pukulan ringan, jika dua cara tersebut tidak mempan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebagaimana yang dinyatakan Allah dalam firman-Nya, &lt;span style="color:#cc0000;"&gt;"Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz-nya, maka nasehatilah mereka, dan pisah ranjangkanlah dari mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar."&lt;/span&gt; (QS. An-Nisa': 34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk pula adalah tatkala timbul perselisihan di antara suami dan istri, setiap dari mereka mengutus seorang hakam (juru damai) dari kerabat mereka dalam rangka mendamaikan (islah) keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sebagaimana disebutkan Allah dalam firman-Nya, &lt;span style="color:#cc0000;"&gt;"Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakim dari keluarga laki-laki dan seorang hakim dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakim itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." &lt;/span&gt;(QS. An-Nisa': 35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika semua cara di atas tidak bermanfaat, dan tidak mudah mencapai perdamaian, sementara pertikaian terus berlanjut, maka Allah mensyariatkan suami untuk menjatuhkan talak apabila sumber masalah muncul darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disyariatkan istri membayar tebusan jika suami tidak mau mentalaknya tanpa tebusan tersebut jika sumber masalah muncul dari istri adalah kebencian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berdasarkan firman Allah, &lt;span style="color:#cc0000;"&gt;"Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu, boleh rujuk lagi dengan cara yang makruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu yang kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya." &lt;/span&gt;(QS. Al-Baqarah: 229)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan karena perpisahan dengan cara yang baik adalah lebih baik daripada pertikaian dan pertengkaran, dan daripada tidak tercapainya maksud-maksud pernikahan yang dengan sebabnya ia disyariatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu Allah berfirman, &lt;span style="color:#cc0000;"&gt;"Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Bijaksana." &lt;/span&gt;(QS. An-Nisa': 130)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah shahih dari Rasulullah bahwa (beliau) memerintahkan Tsabit bin Qais Al-Anshari karena istrinya sudah merasa tidak mampu bertahan hidup bersamanya karena tidak mencintainya dan rela mengembalikan kebun Tsabit yang menjadi maharnya. Beliau memerintahkan Tsabit untuk menerima kembali kebun itu dan menceraikan istrinya, maka Tsabit pun melakukannya. &lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=567&amp;amp;Itemid=89#foot53" name="tex2html2"&gt;&lt;span &gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Allah-lah pemberi taufik. Semoga shalawat dan salam Dia curahkan kepada nabi kita, Muhammad, dan seluruh keluarga dan sahabatnya. &lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=567&amp;amp;Itemid=89#foot54" name="tex2html3"&gt;&lt;span &gt;2&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Catatan Kaki&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=567&amp;amp;Itemid=89#tex2html2"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=567&amp;amp;Itemid=89#tex2html3"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, hal. 5. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-115250382939877014?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/115250382939877014/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=115250382939877014' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115250382939877014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115250382939877014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2006/07/cara-cara-yang-mungkin-ditempuh-suami.html' title='Cara-Cara Yang Mungkin Ditempuh Suami Istri Sebelum Menempuh Thalaq'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-115250334428565652</id><published>2006-07-10T11:40:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:40:17.194+08:00</updated><title type='text'>Menikah Dengan Perjanjian</title><content type='html'>&lt;span &gt;Disalin dari kitab &lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah&lt;/span&gt;, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, yang disusun oleh Amin Yahya Al-Wazan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kalanya sebagian dari kaum muslimin yang akan melangsungkan pernikahan, salah satu diantara mereka membuat persyaratan-persyaratan tertentu (janji pernikahan) kepada calon pasangannya, dan sesuatu hal tidak bisa dipungkiri dan mungkin saja terjadi, kadangkala sebagian dari persyaratan-persyaratan itu justru memberatkan atau membebani dan mungkin juga ada yang melanggar secara syar'i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;&lt;strong&gt;SYARAT NIKAH DENGAN MENCERAIKAN ISTRI PERTAMA &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Ibrahim ditanya : "Apabila seorang wanita mau dinikahi dengan syarat istri pertama diceraikan, bagaimana jika ia tahu hukumnya dan bagaimaka jika ia tidak tahu hukumnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apabila seorang wanita mau menikah dengan syarat istri pertama ditalak menurut pendapat Abil Khaththab pernikahan sah. Akan tetapi menurut syaikh Taqiyuddin pernikahan tersebut tidak sah dan inilah pendapat yang benar. Tidak boleh bagi seorang wanita mau dinikahi dengan syarat istri pertama dicerai dan jika tetap bersikeras mensyaratkan seperti itu maka syarat tersebut dinyatakan sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, artinya: &lt;span style="color:#009900;"&gt;"Setiap syarat yang tidak benarkan oleh aturan Allah maka syarat tersebut batil".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam hadits yang lain Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, artinya: &lt;span style="color:#009900;"&gt;"Janganlah seorang wanita meminta suaminya untuk mentalak istri lainnya untuk mendapatkan sesuatu yang tidak menjadi haknya".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila seorang wanita tidak mau menikah kecuali dengan syarat istri yang pertama diceraikan dan ia tidak rela jika mengetahui istri pertama belum ditalak sementara ia tahu bahwa syarat tersebut batil maka peryaratan tersebut dinyatakan sia-sia. Sebab bila wanita mengetahui hukum sesuatu tetapi tetap melanggarnya, maka ia harus diberi sanksi untuk tidak mendapatkannya kecuali bila ia tidak tahu, amka pernikahannya dibatalkan karena akad nikahnya tidak memenuhi persyaratan.&lt;br /&gt;[Fatawa wa Rasail Syaikh Muhammad bin Ibrahim, Juz 10/143]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;MENIKAH DENGAN SYARAT TIDAK BOLEH KELUAR RUMAH&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Ibrahim ditanya : "Seorang wanita dan walinya mensyaratkan, mau melangsungkan pernikahan dengan syarat suaminya tidak membawanya keluar dari kampung atau negara?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apabila seorang wanita dan walinya sepakat tidak mau melangsugkan pernikahan kecuali dengan syarat setelah menikah istrinya tidak diajak pindah ke negeri lain, maka syarat tersebut sah dan harus dipenuhi, hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Uqbah Ibnu Amr bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, artinya: &lt;span style="color:#009900;"&gt;"Sesungguhnya syarat-syarat yang paling berhak dipenuhi adalah syarat yang telah kamu sepakat dalam pernikahan".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Atsram meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki menikah dengan wanita, dan wali wanita mensyaratkan ia tetap tinggal bersama keluarganya kemudian suaminya ingin mengajaknya pindah, lalu keluarganya melaporkan hal tersebut kepada Umar dan beliau membenarkan syarat tersebut. Akan tetapi bila istrinya rela diajak untuk pindah, maka suaminya boleh membawa pindah.&lt;br /&gt;[Fatawa wa Rasail Syaikh Muhammad bin Ibrahim, Juz 10/146]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;WANITA MAU MENIKAH DENGAN SYARAT IA BOLEH TETAP MENGAJAR&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya: "Seorang wanita mau menikah dengan syarat ia boleh tetap mengajar dan calon suaminya menerima syarat tersebut, setelah terjadi kesepakatan wanita tersebut mau menikah. Apakah sang suami tetap wajib memberi nafkah kepadanya dan kepada anak-anaknya sementara wanita tersebut pegawai negeri? Dan apakah boleh ia (suami) mengambil gaji istrinya tanpa mendapat persetujuannya? Dan jika wanita itu seorang yang beragama dan tidak mau mendegarkan musik tetapi suami dan kelurga suami memaksanya dengan mengatakan: Sesungguhnya orang yang tidak suka mendengarkan musik hatinya gundah. Apakah istri tersebut harus tetap tinggal bersama suaminya dalam keadaan seperti itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apabila seorang wanita mensyaratkan kepada calon suami bahwa ia mau menikah dengan syarat ia boleh mengajar atau belajar dan syarat tersebut diterima pada saat akad nikah, maka syarat tersebut sah. Dan setelah suaminya mencampurinya, maka tidak boleh baginya menghalangi istrinya dari mengajar atau belajar berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam: &lt;span style="color:#009900;"&gt;"Sesungguhnya syarat yang paling berhak kalian penuhi adalah syarat dalam pernikahan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika suami menghalanginya untuk mengajar, maka ia berhak mengajukan tuntutan pembatalan pernikahan kepada pengadilan syar'i atau tetap tinggal bersama suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai masalah suami menyuruh istrinya mendengarkan musik, bagi istri tidak boleh menuntut pembatalan pernikahan, tetapi ia harus menasehati dan memberitahu suaminya bahwa hal tersebut haram. Dan ia tidak boleh menghadiri acara-acara keluarga yang menggunakan musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, artinya: &lt;span style="color:#009900;"&gt;"Agama adalah nasehat" &lt;/span&gt;[Hadits Riwayat Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, artinya: &lt;span style="color:#009900;"&gt;"Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tanganmu, jika tidak mampu merubahnya maka dengan lisannya dan jika tidak mampu merubahnya maka dengan hatinya dan itulah batasan iman yang paling lemah"&lt;/span&gt; [Hadits Riwayat Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali ayat-ayat dan hadits-hadits sekitar masalah ini. Bagi suami wajib memberi nafkah kepada istri dan anak-anaknya dan tidak dibolehkan ia mengambil gaji istrinya kecuali atas izin dan persetujuan darinya serta tidak boleh bagi istri tersebut pergi ke rumah keluarga atau tempat yang lain melainkan atas seizin suaminya.&lt;br /&gt;[Fatawa Mar'ah, hal 58]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-115250334428565652?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/115250334428565652/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=115250334428565652' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115250334428565652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115250334428565652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2006/07/menikah-dengan-perjanjian.html' title='Menikah Dengan Perjanjian'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-115250268610334767</id><published>2006-07-10T11:34:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:40:32.487+08:00</updated><title type='text'>Thalaq</title><content type='html'>&lt;span &gt;Dikutip dari Majalah As Sunnah Edisi 02/Tahun IX/1426H/2005M, rubrik Baitunna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini, masih ada hal yang membikin bimbang tentang status pernikahan kami. Berawal dari kekhilafan saya mengucapkan kata yang bermakna cerai sampai tiga kali. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana status perkawinan kami saat ini? Saya sudah minta maaf kepada istri dan dia memaafkan saya. Jika status kami sudah cerai, bagaimana cara kami kembali ruju' hingga hubungan kami kembali halal? Karena kehidupan kami kembali rukun setelah saya sadar dan meminta maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Allah yang mengusai hidup dan mati kami berdua, kami takut atas adzab yang harus kami terima, seandainya kehidupan yang kami jalani selama ini zina. Kami ingin bertaubat. Mohon As Sunnah bersedia menuntun kami untuk menjadi keluarga yang sakinah dan Islami. Jazakumullahu khairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali, ingin kami nasihatkan kepada Saudara, janganlah mudah mengucapkan kalimat yang bermakna cerai terhadap istri. Di dalam sebuah hadits disebutkan: Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi, bersabda: &lt;span style="color:#009900;"&gt;"Ada tiga (perkara) yang bila dilakukan secara bersungguh- sungguh maupun secara bermain-main maka hasilnya adalah sungguh-sungguh, yaitu: nikah, talaq, dan ruju'."&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=732&amp;amp;Itemid=89#foot39" name="tex2html1"&gt;&lt;span &gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span &gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Kemudian tentang lafazh talaq, para ulama membagi menjadi dua:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;1. Lafazh sharih (nyata, tegas)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;yaitu lafazh yang ketika diucapkan difahami sebagai talaq, dan tidak ada makna lain. Contoh: "engkau saya talaq", "engkau ditalaq (dicerai)", dan semacamnya yang menggunakan kata "talaq".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga seorang suami yang mengucapkan lafazh sharih talaq ini, maka talaq pun terjadi. Baik dia bersendau-gurau, atau main-main, atau tidak berniat. Dalilnya hadits di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;2. Lafazh kinayah (sindiran, tidak tegas)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;yaitu lafazh yang bermakna talaq dan bermakna bukan talaq. Contoh: "pulanglah ke rumah orang tuamu", "engkau bebas", "engkau kulepaskan", dan lainnya. Lafazh kinayah (sindiran) talaq ini, jika diucapkan seorang suami kepada istrinya, talaq tidak terjadi kecuali dengan niat talaq. &lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=732&amp;amp;Itemid=89#foot40" name="tex2html2"&gt;&lt;span &gt;2&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah saudara memahami hal ini, maka kata bermakna cerai yang telah Saudara katakan, Saudara dapat melihat sendiri, apakah masuk sharih atau kinayah. Jika kata itu hanya kinayah (sindiran), sedangkan Saudara tidak berniat mentalaq isth, maka tidak jatuh talaq. Namun janganlah hal ini Saudara ulangi, dan hendaklah Saudara bertaubat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kalimat "kata bermakna cerai" nampaknya ini bukan lafazh sharih. Namun jika kata itu termasuk sharih, maka talaq terjadi. Sehingga Saudara dapat meruju' istri Saudara. Cara meruju' menurut pendapat sebagian ulama, ialah dengan niat ishlah (perbaikan) dan dengan dua saksi. Wallahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Catatan Kaki&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;amp;id=732&amp;amp;Itemid=89#tex2html1"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; HR Abu Dawud, no. 2194; Tirmidzi, no. 1184; Ibnu Majah, no. 2039; dihasankan oleh Syaikh AI AIbani.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;amp;id=732&amp;amp;Itemid=89#tex2html2"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Diambil dari kitab Al Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil 'Aziz, hlm. 322, karya Syaikh Abdul 'Azhim AI Badawi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-115250268610334767?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/115250268610334767/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=115250268610334767' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115250268610334767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115250268610334767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2006/07/thalaq.html' title='Thalaq'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-115250216651534556</id><published>2006-07-10T11:22:00.001+08:00</published><updated>2010-01-14T00:18:28.619+08:00</updated><title type='text'>Hak-hak Suami (3/3)</title><content type='html'>Dikutip dari majalah As-Sunnah 05/IV/1420H hal 63 - 64.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak bahasan terakhir di antara hak-hak suami yang kurang mendapat perhatian istri adalah hak untuk mendapatkan pelayanan, bantuan dari istri, rasa bersyukur dan berterimakasih dari istri terhadap suami yang telah berbuat baik kepadanya. Hal inilah salah satu penyebab sebagian besar dari penghuni neraka adalah wanita. Lalu apa hak-hak suami dan sebab yang lainnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Hendaknya isteri memberikan pelayanan kepada suami di rumahnya, dan membantunya untuk mendapatkan rasa hidup yang indah, maka sesungguhnya hal itu membantunya (suami) untuk bisa mencurahkan waktu, tenaga dan pikiran untuk melaksanakan kewajibannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih lagi jika ia (suami) sibuk dengan ilmu. Maka isteri shalihah "bukanlah bagian dari dunia melainkan (isteri shalihah itu) adalah yang menjadikanmu mencurahkan waktu, tenaga dan pikiranmu untuk akhirat", sebagaimana dikatakan ad-Darany, sebagaimana terdapat dalam "al-lhya" (4/699) karangan al-Ghazali. Dan telah lewat hadits yang menguatkan masalah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khidmah (pelayanan) seorang isteri kepada suaminya adalah wajib menurut pendapat yang paling rajih (kuat), pendapat selain itu dhaif, tidak bisa dijadikan hujjah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang kewajiban isteri memberikan pelayanan kepada suaminya telah dirajihkan guru kami al-Albani dalam "Adabuz-Zifaf" (180-181). Bahwa Khidmah (pelayanan/bakti) yang telah disebutkan, wajib dilakukan secara ma'ruf dalam batas-batas kemampuan isteri. Maka khidmah seorang (yang biasa) tinggal di kampung berbeda dengan (yang biasa) tinggal di kota, dan baktinya seorang yang kuat tidak sama dengan baktinya seorang yang lemah, sebagaimana dikatakan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah. 16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika seorang isteri tidak mampu melakukan sesuatu, maka suami tidak boleh membebani apa yang diluar batas kemampuannya. Sementara jika suami mampu melakukannya, maka hendaknya ia melakukannya, karena hadits 'Aisyah yang berkata: "Bahwa Rasul biasa menjahit pakaiannya sendiri, menambal kasutnya (sandalnya) dan beliau berlaku sebagaimana seorang laki-laki berlaku di rumahnya." 17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya isteri bersyukur (berterima kasih) atas segala kebaikan suami kepadanya dan janganlah isteri mengingkari kebaikan suaminya, maka sesungguhnya yang demikian itu akan mendatangkan kebencian dari Allah, karena sabda Rasul, "Allah tidak mau melihat wanita yang tidak tahu berterima kasih kepada suaminya sedang ia (wanita) tidak merasa cukup kepadanya (suaminya)." 18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga karena sabda Rasul, "Diperlihatkan kepadaku neraka, maka sebagian besar penghuninya adalah para wanita yang kufur. Dikatakan: "Apakah mereka kufur kepada Allah?" Rasul menjawab: "Mereka kufur terhadap suami mereka dan mereka mengingkari kebaikan suami mereka. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, kemudian ia (wanita tersebut) melihat sesuatu (yang tidak disukainya), ia akan berkata:&lt;br /&gt;"Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan padamu." 19&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini merupakan peringatan penting bagi para wanita yang beriman kepada Allah dan bagi wanita yang mengharapkan kampung akhirat. Dalam hal ini ada bukti dari hadits lain: "Penghuni surga yang paling sedikit adalah dari kalangan wanita." 20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tidak pantas seorang wanita yang mencari keselamatan kemudian menyelisihi suami kepada yang selain diberikan suami dengan kufur/mengingkari kebaikan suaminya atau banyak mengeluh karena sebab-sebab yang sangat sepele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan wanita mana saja yang menyakiti suaminya akan dilaknat para Bidadari (Wanita-wanita surga yang disediakan sebagai isteri-isteri pria beriman -red). Maka ia (wanita) akan berada di jurang kehancuran jika terus-menerus melakukan perkara yang dilarang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan sabda Rasulullah, "Tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di dunia, kecuali berkata isterinya yang dari bidadari: "Janganlah kau sakiti dia (suami) -Semoga Allah mencelakakan mu- maka tidak lain dia (suami) disisimu hanya seorang asing yang sebentar lagi akan meninggalkanmu menuju kepada kami." 21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih ada beberapa hak suami selain ini, aku (Abu Ishak al-Huwaini) tidak ingin menyebutkannya lagi khawatir terlalu berlarut-larut dan apa yang telah kami sebutkan telah cukup. Walhamdulillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Catatan Kaki&lt;br /&gt;16 Dalam al-Fatawal-Kubra (2/234-235).&lt;br /&gt;17 Hadits shahih dikeluarkan Abdur Razzaq (20492), Ahmad (6/121,167,256,260), Abusy -Syaikh dalam "Akhlaqun-Nabi" (1/1/20), al-Baghawi dalam "Syarhus-Sunnah" (13/242-243) dan lain-lain.&lt;br /&gt;Aku telah menyebutkan mereka dalam kitabku "Al-'Aqdu Adz-Dzahaby" takhrij kitab "Akhlaqun-Nabs" nomor 11.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18 Hadits shahih, dikeluarkan An-Nasa'i dalam "Al-Kubra" (3/168) dari jalan Sarar bin Masyjar dari Sa'id bin Abu 'Arubah dari Qatadah dari Sa'id bin Al-Musayyab dari Abdullah bin 'Amr secara marfu'.&lt;br /&gt;Aku berkata: Sanad hadits ini shahih seandainya tidak ada 'an'anah-nya Qatadah, maka sesungguhnya Sarar bin Masyjar dari kalangan sahabat Sa'id bin 'Arubah yang terdahulu. Hadits ini di-mutaba'ah-kan oleh Abdullah Ibnul Mubarak dari Sa'id dengan lafadz itu.&lt;br /&gt;Masih ada beberapa riwayat yang secara umum shahih, -pent.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19 Hadits shahih dikeluarkan Bukhari (1/83-2/540-9/298 -Fathul Bari) dan lafadz Bukhari, Muslim (6/212-213 Nawawi), Abu 'Awanah (2/379-380), Malik (1/194-195-Tanwir), Nasa'i (3/146,147,148), Baihaqi (7/294) dari beberapa jalan dari Ibnu 'Abbas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dikeluarkan Bukhari (1/405-3/325-4/191-51266 Fathul Bari), Muslim (2/67 Nawawi), Nasa'i (3/187), Ibnu Majah (1288), al-Baghawy dalam "Syarhus-Sunnah" (1/36-38), Ahmad dan lain-lain dari hadits Abu Sa'id Al-Khurdy khot. Masih ada beberapa riwayat yang secara umum shahih, demikian untuk ringkasnya, -pent.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20 Hadits shahih dikeluarkan Muslim dan Ahmad (4/327,336,443), Ibrahim bin Thuhman (1/1/127), Ath-Thayalisy (832), Abdur Razzaq (20610), Thabrany dalam "AI-Kabir" (18/111), Hakim (3/602), Abu Nu'aim dalam "AI-Hilyah" (3/85), Khotib dalam "Ath-Tarikh- (5/221-222) dari jalan Abut-Tiyah dari Mathawif bin Abdullah dari 'Imron bin Hushain secara marfu' maka ia menyebutkan haditsnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21 Hadits shahih dikeluarkan at-Tirmidzi (4/338-Tuhfah), Ibnu Majah (1/621), Ahmad (5/220) dari jalan Ismail bin'Iyasy dari Buhair bin Sa'ad dari Kholid bin Ma'dan dari Katsir bin Murroh At-Hadhromy dari Mu'adz bin Jabal secara marfu' maka ia menyebutkan haditsnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tirmidzi berkata: "Ini adalah hadits gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari sisi ini." Dan riwayat Isma'il bin 'Iyasy dari orang-orang Syam lebih baik. Ismail mempunyai beberapa riwayat munkar dari orang-orang Hijaz dan 'Irak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam 'Illatil Hadits (1/420) Ibnu Abi Hatim. menukil dari Abu Zur'ah, ia berkata: "Mereka tidak melihat hadits ini dari Buhair kecuali Ismail."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku katakan: Aku tidak tabu sisi peng-gharib-an Tirmidzi terhadap hadits ini. Dan Isma'il juga meriwayatkan dari orang-orang Syam, maka ia telah benar sebagaimana dikatakan Bukhari dan lain-lain. Sedangkan Buhair ini adalah orang Syam, orang Himsh, maka kalau demikian haditsnya benar. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-115250216651534556?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/115250216651534556/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=115250216651534556' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115250216651534556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115250216651534556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2006/07/hak-hak-suami-33.html' title='Hak-hak Suami (3/3)'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-115250172547241244</id><published>2006-07-10T11:13:00.001+08:00</published><updated>2010-01-14T00:17:33.611+08:00</updated><title type='text'>Hak-hak Suami (2/3)</title><content type='html'>Pembahasan selanjutnya mengenai hak-hak seorang suami, maka yang dibahas berikut ini adalah hak agar istri tidak keluar dari rumah kecuali dengan izin suaminya. Apa saja batasan-batasan seorang istri dapat boleh keluar rumah? Kebutuhan-kebutuhan apa yang menyebabkan ia harus keluar kerumah? Simak jawaban beserta dalil-dalil yang kuat mengenai masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hendaknya isteri tidak keluar dari rumah suaminya kecuali dengan ijinnya, jika ia berbuat demikian (keluar tanpa ijin) maka ia terus berada dalam kemaksiatan dan ia Iayak untuk mendapat adzab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Ibnu Taimiyah berkata: "Tidak dihalalkan bagi isteri untuk keluar dari rumah suaminya kecuali dengan ijinnya (suami), dan tidak dihalalkan bagi siapapun untuk mengambilnya (isteri) darinya (suami) dan menahannya dari suaminya, baik keadaan isteri sebagai ibu susu atau bidan atau profesi-profesi lain. Dan apabila ia keluar dari rumah suaminya tanpa seijinnya maka ia telah berbuat nusyuz (durhaka) bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya dan ia layak mendapat adzab." 8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan beliau (Ibnu Taimiyah) berkata: "Jika isteri keluar rumah suami tanpa seijinnya maka tidak ada hak nafkah dan pakaian".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi bersabda yang artinya: "Tidak halal bagi seorang wanita untuk berada di rumah suaminya sedangkan suaminya tidak suka (ridha) dan janganlah ia keluar rumah dalam keadaan suaminya tidak ridha. Janganlah mentaati seorangpun di rumah suaminya (selain suaminya), janganlah ia menjadikan suaminya gusar, janganlah ia menjauhi ranjang suaminya dan janganlah ia merugikan suaminya walaupun ia (suaminya) lebih dhalim darinya (wanita) sampai (si isteri) mencari keridhaan suami. Maka jika suami ridha dan menerimanya, maka itu suatu kenikmatan baginya (wanita). Allah akan menerima udzur-udzurnya dan akan berserilah wajahnya dan ia tidak berdosa, tapi jika suami menolak untuk ridha kepadanya maka sungguh ia telah menyampaikan udzur-udzurnya." 9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun demikian diperbolehkan bagi seorang wanita untuk ikut shalat di masjid, karena sabda Rasul, "Jika isteri salah seorang di antara kalian minta ijin untuk ke masjid maka janganlah melarangnya." 10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits di atas ada petunjuk bahwa, keluar (ke masjid) adalah harus dengan ijin suaminya, kalau suami melarangnya, suami tidak berdosa menurut pendapat terpilih dari pendapat para pentahqiq. Dan sungguh al-Baihaqi telah berkata: "Itu adalah pendapat umumnya para utama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hadits: "Janganlah kalian larang hamba-hamba perempuan Allah untuk pergi ke masjid." 11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka perintah ini tidak menunjukkan wajib, jika seandainya wajib, maka hadits tentang minta ijin tidak akan ada artinya. wallahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan diperbolehkannya wanita keluar untuk ke masjid maka sesungguhnya shalatnya di rumah lebih utama daripada ikut berjamaah. Karena sabda Rasul: "Shalatnya seorang wanita di rumahnya lebih utama dari shalatnya di kamarnya, shalatnya di bilik khususnya lebih utama dari shalatnya di rumahnya." 12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperbolehkan bagi wanita untuk keluar ke pasar dan sebagiannya untuk memenuhi kebutuhannya dengan tetap mempunyai rasa malu yang besar dan harus komitmen dengan pakaian syar'i dan menjaga anggota badan dari melakukan kemungkaran-kemungkaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hadits 'Aisyah yang berkata: "Telah keluar Saudah bintu Zam'ah pada suatu malam, maka Umar melihatnya dan mengenalinya, kemudian dia berkata: "Demi Allah, sesungguhnya engkau tidak tersembunyi dari kami". Maka kembalilah Saudah kepada Nabi, kemudian Saudah menceritakan hal itu kepada Rasulullah, ketika itu beliau berada di rumahku ('Aisyah -red) sedang makan malam dan di tangan beliau ada tulang, maka turunlah wahyu kepada beliau, yang memberikan keringanan terhadap masalah itu, Beliau berkata: "Sungguh Allah mengijinkan kalian (para wanita) untuk keluar memenuhi kebutuhan-kebutuhan kalian." 13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hendaknya istri menjaga harta suaminya, maka ia tidak menggunakannya tanpa ridha suaminya dan tidak membelanjakannya tanpa sepengetahuan suaminya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sabda Rasulullah, "Janganlah seorang wanita menginfakkan sesuatupun dari rumah suaminya kecuali dengan ijin suaminya." Dikatakan: "Wahai Rasulullah, tidak juga makanan?" Rasul berkata: "Itu adalah. harta kita yang paling utama." 14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga bersabda: "Jika seorang wanita memberikan sesuatu dari rumah suaminya (dalam keadaan) perasaan suaminya enak (lapang maka baginya (wanita) pahala seperti pahala suaminya, baginya kebaikan sebagaimana yang ia niatkan dan bagi yang memiliki harta (suami) begitu juga (sama-sama mendapat pahala. -pent.)" 15&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Catatan Kaki&lt;br /&gt;8 Majmu' Fatawa (32/281).&lt;br /&gt;9 Hadits Hasan dikeluarkan Baihaqi dalam "Sunan"nya (7/293) dan Hakim (2/189-190) dari jalan 'Atha bin Abu Muslim al-Khurasany dari Malik bin Yakhamir as-Saksaky dari Mu'adz bin Jabal secara marfu' maka ia menyebutkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan 'Atha al-Khurasany banyak wahm-nya ia seorang mudalis dan sungguh ia telah meriwayatkan hadits dengan 'an'anah (dari Fulan, dari Fulan -red). Hakim berkata: Sanadnya shahih. Tetapi Adz-Dzahabi membantahnya dengan perkataan: "Bahkan ia munkar dan sanadnya terputus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dikeluarkan Thabrani dalam "Mujamnya" dengan sanad yang dikatakan oleh al-Hafidz al-Haitsami dalam "al-Majma'" bahwa: Para perawi salah satu sanadnya orang-orang tsiqah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini mempunyai syahid dari hadits Ibnu 'Umar Dikeluarkan Ath-Thayalisi (1951) dan dari jalan itu juga dikeluarkan al-Baihaqi (7/292) dan Ibnu 'Abdil Barr dalam At-Tamhid (1/231) dari jalan Laits bin Abu Sulaim dari 'Atha' dari Ibnu 'Umar dengan sebagian lafadznya. Dan pada riwayatnya:&lt;br /&gt;... Dan hendaknya isteri tidak keluar dari rumah suaminya kecuali dengan ijinnya, maka jika ia berbuat demikian (keluar tanpa ijin) malaikat melaknatnya, baik malaikat kemurkaan ataupun malaikat rahmat hingga ia (isteri) bertobat dan kembali. Dikatakan: "Walaupun suaminya dhalim? " Rasul menjawab: "Walaupun suaminya dhalim".&lt;br /&gt;Baihaqi berkata: "Laits bin Abu Sulaim menyendiri dengan lafadznya". Aku berkata: "Dia (Laits) lemah hafalannya, maka aku berharap haditsnya menjadi syahid yang balk yang menguatkan hadits tersebut. wallahu a'lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hadits ini mempunyai syahid dari hadits Ibnu 'Abbas. Dikeluarkan Bazzar (2/177/1464) dengan sanad yang didalamnya ada Husain bin Qois dan ia dhaif sebagaimana dikatakan al-Haitsami (4/307).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 Hadits shahih dikeluarkan Bukhari (2/347 -Fathul Bari), Muslim (442), Abu 'Awanah (2/56,57), Abu Dawud (566), Nasa'i (2/42), Tirmidzi (570), Ibnu Majah (16), ad-Darimi (1/235), Ibnu Hibban (3/486-487), Ahmad (2/7,9), Ibnu Khuzaimah (1677) (1678), Ibnu 'Abdil Barr dalam "Al-jami'" (2/195), Abdul Razzaq dalam "AI-Mushonnaf" (5107,5108,5122), Al-Baihaqi (3/133), Ibnu Hazm dalam "AIMuhalla" (3/130), ath-Thobrany dalam "AI-Kabir" (13350,13471,13472,13565,13570), dan al-Baghawi dalam "Syarhus-Sunnah" (3/439-440) dari beberapa jalan dari Ibnu 'Umar. Aku menyebutkan nya secara terpisah di "Badzlul-Ihsan" (713).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11 Hadits shahih dikeluarkan Syaikhan (Bukhari dan Muslim), Ahmad, Abu Dawud dan lain-lain sebagaimana telah aku tahqiq dalam kitab "AI-Mashdarus-Sabiq".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12 Hadits shohih diriwayatkan Abu Dawud (570), Ibnu Khuzaimah (1685, 1688, 1690), Hakim (1/209), Al-Baihaqi (3/131), Ibnu Hazm dalam "Al-Muhalla" (3/136-137), al-Baghawi dalam "Syarhus-Sunnah" (3/441-442) dari jalan Hamam dari Qatadah dari Mauruq al-'Ajli dari Abu al-Ahwash dari Ibnu Mas'ud secara marfu'. Al-Hakim berkata:&lt;br /&gt;"Shahih dengan syarat Asy-Syaikhani (Bukhari-Muslim) dan sungguh keduanya berhujjah dengan al-Mauruq al-'Ajli"&lt;br /&gt;Dan telah disepakati oleh adz-Dzahabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berkata: Akan tetapi Qatadah mudallis dan hadits ini mempunyai syahid dari hadits Ibnu `Umar secara marfu': Janganlah kalian larang isteri-isteri kalian untuk me masjid-masjid dan rumah-rumah mereka adalah lebih baik buat mereka"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikeluarkan oleh Abu Dawud (567), Ibnu Khuzaimah (1/92-1684), Hakim (1/209), Baihaqi (3/131), Al-Baghawy dalam "Syarhus-Sunnah" (3/441), Ahmad (2/76-77) dari jalan al-'Awwam bin Hausyab dari Habib bin Abu Tsabit dari Ibnu 'Umar, maka ia menyebutkan haditsnya. Hakim berkata: "Shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim" Dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Aku berkata: "Seandainya saja Hubaib bin Abu Tsabit bukan seorang mudallis, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban mensifati demikian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hadits yang lain adalah dari Ummu Salamah. Dikeluarkan Ahmad (6/391), Ibnu Khuzaimah (1683), al-Hakim (1/209), al-Baihaqi (3/131) dari jalan Darroj Abus-Samhi dari as-Saib budaknya Ummu Salamah secara marfu':&lt;br /&gt;Sebaik-balk masjidnya wanita adalah dalam rumah mereka".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berkata: "Darraj adalah dhaif dan as-Saib budaknya Ummu Salamah tidak diketahui keadaannya. Ibnu Khuzaimah berkata: "Aku tidak mengetahui keadilannya dan cacatnya."&lt;br /&gt;Dan syahid yang lain dari hadits isterinya Abu Hamid as-Sa'idi ia berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku senang shalat bersamamu", maka Rasul menjawab:&lt;br /&gt;"Sungguh aku tahu engkau senang shalat bersamaku, tapi shalatmu di rumahmu lebih balk dari shalatmu di masjid kaummu dan shalatmu di masjid kaummu lebih balk dari shalatmu di masjidku".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana (yakni dalam kitab "al-Insyirah fi Adab an-Nikah" karya Syeikh Abu Ishak al-Huwaini al-Atsari -red. vbaitullah.or.id) masih ada riwayat-riwayat lain yang berdasarkan syawahidnya shahih, hadits ini secara umum adalah shahih, dapat diterima, demikian ringkasnya. -pent.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13 Hadits shahih dikeluarkan Bukhari (9/337) dan lafadznya milik Bukhari, (juga dikeluarkan) Muslim dan Ibnu Sa'ad (8/125-126), Ibnu Jarir dalam tafsirnya (22/25), Ahmad (6/56), al-Baihaqi (7/88).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14 Hadits shahih diriwayatkan Abu Dawud (3565), Tirmidzi (670), Ibnu Majah (2398), Ahmad (5/567), ath-Thoyalisi (1127), Abdul Rozzak dalam "al-Mushonnaf" (16621), Ibnu 'Abdil Barr dalam "at-Tamhid" (1/230), Baihaqi (4/193-194), al-Bahgowy dalam "Syarhus-Sunnah" (6/ 204) dari jalan Ismail bin 'Iyasy dari Syarohbil bin Muslim al-Khoulany dari Abu Umamah al-Bahili secara marfu' maka ia menyebutkan haditsnya.&lt;br /&gt;Masih ada beberapa riwayat hadits ini yang secara umum shahih. -pent.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 Hadits shahih dikeluarkan Syaikhani, Arba'ah, dan as-Sahmi (1/10/391) dari hadits 'Aisyah, Ahmad dan lain-lain sebagaimana telah kusebutkan di "Badzalul-Ihsan".&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-115250172547241244?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/115250172547241244/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=115250172547241244' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115250172547241244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115250172547241244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2006/07/hak-hak-suami-23.html' title='Hak-hak Suami (2/3)'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-115250116681718348</id><published>2006-07-10T11:04:00.001+08:00</published><updated>2010-01-14T00:13:57.706+08:00</updated><title type='text'>Hak-hak Suami (1/3)</title><content type='html'>Dikutip dari majalah As-Sunnah 05/IV/1420H hal 59 - 60.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkatnya kasus perceraian perceraian yang terjadi saat ini menyebabkan kita agar selalu waspada agar hal itu jauh dari kita. Sebagaimana yang sebelumnya sudah pernah dibahas mengenai sebab-sebab terjadinya perceraian, maka ada baiknya jika kita mengetahui hak-hak suami. Hal ini penting mengingat hak-hak ini mulai diremehkan oleh para istri dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut uraiannya.&lt;br /&gt;Makalah ini dinukil dari kitab "Al-Insyirah fi Adab an-Nikah" karya Syeikh Abu Ishak al-Huwaini al-Atsari. Diterjemahlan secara bebas dan dengan peringkasan pada catatan kaki oleh Retno Ishmah Widiastuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak-hak seorang suami alas isterinya banyak dan luhur, yang demikian itu karena agungnya hak suami atas isterinya. Rasululullah telah bersabda: Seandainya aku diperbolehkan menyuruh seseorang untuk bersujud kepada orang lain, pasti telah kusuruh seorang wanita untuk bersujud kepada suaminya. 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketaatan seorang isteri kepada suaminya adalah sebuah kewajiban, jika ia (isteri) membangkang dan terus menerus dalam menyelisihi suami, maka ia akan selalu berada dalam murka Allah hingga sang suami ridha kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits Hushain Bin Mihshan, ia berkata bahwa: Bibiku telah bercerita kepadaku seraya berkata: "Aku datang kepada Rasululullah karena sebagian kebutuhan, maka beliau berkata: "Siapa ini, apakah seseorang yang sudah bersuami?" Aku menjawab: "Ya." Beliau berkata: "Bagaimana perlakuanmu kepadanya?" Dia (Bibiku) menjawab: "Aku tidak mengabaikannya (artinya aku tidak mengurangi ketaatan kepadanya). Kecuali yang aku tidak mampu."&lt;br /&gt;Beliau berkata: "Nah, perhatikanlah bagaimana seharusnya engkau kepadanya, karena sesungguhnya ia adalah surga dan nerakamu." 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena perkara tersebut (hak-hak suami, pent) seperti yang telah kami (Abu Ishak al-Huwaini) sebutkan (betapa agung dan pentingnya, pent) maka kami perlu meringkas sebagian hak suami atas isterinya, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hendaknya seorang isteri tidak mengurangi ketaatan kepada suaminya, sedangkan asal ketaatan adalah dalam hal-hal yang ma'ruf (sesuai syar'i).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jika suami menyuruh isterinya untuk melakukan sesuatu yang haram dan yang semisalnya, maka ia (isteri) harus tidak mau taat (tidak boleh taat, pent) menurut ijma'. Yang demikian itu karena sabda Rasul "Tidaklah ketaatan itu kecuali hanya dalam hal-hal yang ma'ruf." 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga karena sabda beliau: "Kewajiban seorang muslim adalah mendengar dan taat pada hal yang ia sukai dan ia benci kecuali jika disuruh untuk melakukan kemaksiatan. Maka jika disuruh untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat." 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila suami menyuruh isterinya untuk meninggalkan sesuatu dari amalan-amalan sunnah seperti misalnya puasa dan lain-lain, maka wajib bagi isteri untuk meninggalkannya (tidak puasa). Jika tidak, maka ia (isteri) berdosa dan puasanya tertolak. Dan sebab yang demikian itu adalah karena ada kalanya suami mempunyai kebutuhan (biologis) kepadanya (isteri), sedang puasanya (isteri) menjadi penghalang. Karena itu wajib bagi isteri untuk minta ijin dulu sebelum melakukannya (amalan-amalan sunnah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun amalan yang menjadi kewajiban keduanya (suami isteri) maka tidak halal untuk meninggalkannya hingga seekor unta masuk ke lubang jarum, karena sabda Rasul: "Selain puasa Ramadhan, tidak dihalalkan bagi seorang wanita untuk berpuasa (sunnah) sedangkan suaminya ada, kecuali dengan ijinnya (suami)." 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah namun aku nasehatkan kepada para suami untuk tidak mempersulit dalam masalah (pemberian ijin) ini, cukuplah hendaknya bagi seorang suami untuk ridha dan menerima apa adanya jika isterinya adalah seorang yang ta'at dan suka beribadah. Maka hendaknya suami tidak menyulitkan pemberian ijin kepada isteri kecuali jika benar-benar ada kebutuhan. Dan kepada Allah-lah kita mohon ditunjukkan kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hendaknya ketika suami tidak ada, isteri tidak memasukkan ke rumah suaminya, seseorang yang bukan mahramnya atau seseorang yang tidak disukai suami walaupun ia termasuk mahramnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Rasul, "Janganlah kalian masuk kepada wanita!" Maka berkata seorang sahabat Anshar: "Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu tentang ipar?" Beliau menjawab: "Ipar adalah maut". 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk jamak dari (Al-hamwu) adalah (Ahmaa-u), mereka adalah saudara-saudara dari pihak suami dan saudara-saudara dari pihak isteri, tetapi yang dimaksudkan (di sini) adalah saudara-saudara suami. Maka ia (saudara suami) bukan termasuk mahram (bagi isteri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika yang dimaksud adalah Bapak suami, maka ia termasuk mahram. Jika demikian halnya, apalagi orang lain yang bukan mahram! (saudara suami saja tidak halal, apalagi orang lain yang jelas-jelas bukan mahram). Hal ini dikatakan oleh al-Baghawy dalam "Syarhus-Sunnah"&lt;br /&gt;Dan juga karena sabdanya, "Dan sesungguhnya kalian (wahai para suami) mempunyai hak atas mereka (para isteri) yaitu hendaknya mereka tidak memasukkan ke rumah kalian seseorang yang tidak kalian sukai, maka jika mereka melakukan hal itu maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Dan mereka juga punya hak atas kalian yaitu menafkahi mereka dan memberikan mereka pakaian secara ma'ruf." 7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Catatan Kaki&lt;br /&gt;1 Hadits shahih dikeluarkan Tirmidzi (4/323-Tuhfah), Ibnu Hibban (1291), Baihaqi (7/291) dari hadits Abu Hurairah. Tirmidzi berkata: "Hadits Hasan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini mempunyai jalan lain dari Abu Hurairah dalam riwayat al-Bazzar (2/178) dengan sanad yang ada kelemahannya. Hadits ini mempunyai syahid dari hadits Anas. Dikeluarkan oleh Ahmad (3/185), Al-Hafidz Al-Haitsami berkata dalam "Al-Majma" (9/4): "Para rawi-rawinya adalah rawi-rawi yang terdapat dalam kitab shahih selain Hafsh bin Abi Anas, tetapi dia adalah seorang yang tsiqah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku (Abu Ishaq) berkata: Al-Haitsami telah bertasahul (Menganggap enteng) perkara Hafsh, maka sesungguhnya ia (Hafsh) kacau, dan aku tidak tahu apakah rawi mendengar darinya sebelum ia kacau atau tidak. Hanya saja hadits ini hasan dalam syawahidnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disana masih ada riwayat-riwayat lain yang secara umum hadits ini berdasarkan syawahidnya adalah shahih, dapat diterima, demikian secara ringkas, -pent&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Hadits shahih, dikeluarkan Ibnu Abi Syaibah dalam "AI-Mushannaf" dan Nasa'i dalam 'Isyratun Nisa' dalam "As-Sunanul-Kubra", Humaidi (335), Thabrani dalam "AI-Ausath" , Hakim (2/189) dan Baihaqi (7/291). AI-Hakim berkata: "Shahih sanadnya" dan disepakati oleh Dzahabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 Hadits shahih dikeluarkan Bukhari (13/233, Fathul Bari), Muslim (12/226-227 -Nawawi), Abu Dawud (3/40), Nasa'i (7/159-160), Ahmad (1/82,94,124) dan lain-lain dari hadits "Ali Bin Abu Thalib. Dan sungguh aku telah mengtakhrijnya dalam kitab "Badzlul-Ihsan" (4196).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 Hadits Shahih dikeluarkan Bukhari (13/121-122, Fathul Bari), Muslim (2216 -Muslim) dan lafadnya adalah lafadz Muslim. Dan Abu Dawud (3/ 40-41), Nasa'i (7/160), Tirmidzi (1707), lbnu Majah (2/202) serta Ahmad (2/17, 142) dari hadits Ibnu'Umar, Tirmidzi berkata: "Hadits hasan Shahih".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 Hadits shahih dikeluarkan Bukhari (9/293,295 -Fathul Bari), Muslim dan Abu Dawud (7/128 -'Aun), Ibnu Majah (1/535-536), Ad-Darimi (2/12), Tirmidzi (3/495 -Tuhfah), Ahmad (2/316,444,464,476,500), Al-Humaidy (1016), Ibnu Hibban (954,955), Al-Hakim dan AI-Khotib dalam "Tarikh Baghdad (2/383) dari beberapa jalan dari Abu Hurairah. Dan sebagian pentakhrij hadits ini menambahkan sesuatu di dalam matannya. Tirmidzy berkata: "Hasan Shohih" Hakim berkata: "Shohih sanadnya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 Hadist shahih, sudah ditakhrij sebelumnya.&lt;br /&gt;7 Hadits Shahih dan hadits diatas merupakan potongan dari hadits Jabir yang panjang dalam haji wada'. Dikeluarkan Muslim (1218), Abu Dawud (1905), Nasa'i (2713), Ibnu Majah (2/257), Ad-Darimi (1/377), Ahmad (5/73) dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-115250116681718348?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/115250116681718348/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=115250116681718348' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115250116681718348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115250116681718348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2006/07/hak-hak-suami-13.html' title='Hak-hak Suami (1/3)'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-115245905408188348</id><published>2006-07-09T23:25:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:41:40.721+08:00</updated><title type='text'>Radha'ah (Masa Menyusui dan Pembinaannya)</title><content type='html'>&lt;span &gt;Dikutip dari Majalah As Sunnah Edisi 02/Tahun IX/1426H/2005M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu perkembangan manusia yang dikenal saat ini, konon merupakan produk dan hasil penelitian Barat. Asumsi ini sangat mendominasi dan telah menjadi wacana umum. Padahal Al Qur'an dan Sunnah Nabi telah menerangkan siklus perkembangan manusia sejak masih berupa sel telur, embrio dalam rahim, sampai ia mencapai episode terakhir dari kehidupannya sebagai manusia di bumi ini. Selain mengangkat tentang fase-fase tersebut, Al Qur'an dan Sunnah juga menetapkan bimbingan dan pengarahan untuk setiap fase itu, agar manusia senantiasa berada di jalur yang benar, bebas dari penyimpangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;strong&gt;Dalil Mengenai Fase Kehidupan Manusia Di Dunia&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span &gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Allah menciptakan manusia dari air yang hina (sperma). Dengan kehendakNya, cairan itu berubah menjadi segumpal darah, dan akhirnya membentuk segumpal daging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa) kemudian (kamu dibiarkan hidup kembali) sampai tua. Di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami (nya).&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(QS Al Mukmin: 67)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Sesungguhnya salah seorang dari kalian, penciptaan dirinya disatukan di perut ibunya pada empat puluh hari pertama. Kemudian ia berubah menjadi segumpal darah dalam masa yang sama. Berikutnya ia beralih menjadi segumpal daging dalam masa yang sama. Kemudian malaikat diutus untuk menuliskan empat perkara, (yaitu) menulis rezekinya, ajalnya, amalannya dan nasibnya, menjadi sengsara atau berbahagia kemudian meniupkan ruh padanya.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=735&amp;amp;Itemid=89#foot17" name="tex2html3"&gt;&lt;span &gt;2&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama tarbiyah sangat intensif dalam memperhatikan proses perkembangan manusia. Tujuannya untuk mengungkapkan karakteristik setiap fasenya, baik dalam tinjauan fisik, kejiwaan, emosional dan kemampuan intelektualnya. Dari situ, penetapan sistem pembelajaran dan bobot materi bertumpu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase-fase perkembangan tersebut meliputi: fase &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;radha'ah&lt;/span&gt; (masa menyusui), fase &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;hadhanah&lt;/span&gt; (masa usia dua sampai tiga tahun), fase &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;tamyiz &lt;/span&gt;(masa usia tiga sampai tujuh tahun), fase &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;bulugh &lt;/span&gt;(masa akil baligh), fase &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;syabab&lt;/span&gt; (remaja, dewasa) dan fase &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;syaikhukhah&lt;/span&gt; (masa tua). Dan yang hendak dibahas dalam tulisan ini seputar fase radha'ah (masa menyusui).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam fase radha 'ah ini, sang bayi praktis hanya mengandalkan asupan ASI dari ibu. Bermula tatkala setelah janin keluar dari rahim, sampai berusia dua tahun. Artinya masanya dua tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman (artinya):&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.&lt;/span&gt; (QS Al Baqarah: 233)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase ini merupakan momentum yang sangat penting, lantaran janin telah memasuki fase barunya di dunia yang asing baginya. Pengaruh eksternal mulai bersinggungan dengannya, berupa nutrisi, interaksi orang, dan jenis pendekatan pada sang bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;"Perhatian intensif padanya pasca persalinan sangat ditekankan, dan tingkat kewaspadaan pada mereka harus tinggi. Sebab ranting pohon dan cabang-cabangnya ketika masih melekat kuat pada batang inti, dan terkait dengannya, maka angin tidak mampu menggoyang dan mencabutnya. Tetapi tatkala dipisahkan dan ditanam di tempat lain, maka bahaya mengancamnya dan angin yang lembut sekalipun akhirnya mampu mencabutnya". &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=735&amp;amp;Itemid=89#foot25" name="tex2html4"&gt;&lt;span &gt;3&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut Ibnul Qayyim:&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Janin yang baru saja meninggalkan rahim ibu, telah lepas dari ruangan yang biasa melingkupinya dalam setiap kondisi, dalam waktu singkat. Proses ini lebih berat daripada perpindahan yang bertahap".&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=735&amp;amp;Itemid=89#foot29" name="tex2html5"&gt;&lt;span &gt;4&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses yang paling berpengaruh dalam pembentukan jati diri anak dalam fase ini adalah proses penyusuan. Para ahli pendidikan mengungkapkan, bahwa akhlak anak kecil sangat terpengaruh dengan ASI wanita yang menyusuinya. Oleh karena itu, semestinya memilih wanita yang baik akhlaknya, dari komunitas yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qudamah mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;"Abu Abdillah (Imam Ahmad) tidak menyenangi penyusuan anak kepada wanita jahat dan musyrik".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Abdil Aziz berkata,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span &gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;"ASI sangat berperan kuat. Maka janganlah engkau menyusukan anak kepada wanita Yahudi, Nashara, atau wanita tuna susila..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Mengapa demikian? Karena, ASI wanita yang buruk perangainya berpotensi mengantarkan anak menyerupai kejahatan wanita yang menyusuinya. la dapat terpengaruh ibu susuannya. Ada pepatah yang berbunyi "Sesungguhnya susuan membentuk tabiat". Wallahu a'larn. Jadi, bayi harus dijauhkan dari ASI yang haram. Baik lantaran pembiayaannya haram atau sang wanita tidak menjaga diri dari makanan haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Ghazali menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;"ASI yang keluar dari makanan haram tidak ada berkahnya. Jika terserap anak kecil, maka jasmaninya terbentuk dengan materi yang buruk. Akhirnya perangainya cenderung kepada tindakan-tindakan yang buruk". &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=735&amp;amp;Itemid=89#foot44" name="tex2html6"&gt;&lt;span &gt;5&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga sebaliknya, wanita shalihah lagi penuh kasih sayang, akan memberi warna positif terhadap sang bayi. Susuan, dekapan dan kehangatan ibunya yang shalihah sangat membekas pada pembentukan karakter bayi yang baik. Susuan, selain memenuhi kebutuhan energi, juga mengalirkan tali kasih pada jiwanya yang haus terhadap kasih sayang, cinta dan perlindungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;strong&gt;Karakteristik Fase Radha'ah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bayi tidak mampu mengekspresikan keinginan dengan bahasa verbal. Tangisan menjadi tumpuan alat komunikasi untuk memberitakan rasa lapar, rasa sakitnya, atau perasaan tidak enak lainnya. &lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=735&amp;amp;Itemid=89#foot48" name="tex2html7"&gt;&lt;span &gt;6&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri khas fase ini, lemahnya fisik bayi karena belum berapa lama keluar dari perut ibu. Karena itu, tidak perlu dipaksakan untuk berjalan. Hal ini hanya akan mengakibatkan kebengkokan pada kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda lainnya, seringnya terjadi tangisan untuk meminta asupan ASI, terutama jika sedang merasa lapar. Ayah ibu tidak perlu risau bila mendengar tangisan bayinya. Sebab tangisan dapat memperkuat lambung, anggota tubuh lainnya, dan menggerakkan lambung dan usus untuk mendorong hasil metabolisme yang tak berguna sehingga keluar. Demikian juga, tangisan dapat mengeluarkan kotoran dalam otak dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi sulit dipisahkan dari proses susuan. Karena itu, penyapihan harus dilakukan dengan bertahap. Bila tidak, akan berdampak buruk pada dirinya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=735&amp;amp;Itemid=89#foot49" name="tex2html8"&gt;&lt;span &gt;7&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span &gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;strong&gt;Pengarahan pendidikan dalam fase ini&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;1. Tahnik&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span &gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Tahnik adalah mencerna kurma dan memasukkannya ke dalam mulut bayi dan diusapkan pada langit-langit mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Musa Al Asy'ari bercerita:&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;"Anakku dilahirkan. Maka aku membawanya kepada Nabi beliau memberinya nama Ibrahim serta mentahniknya dengan sebuah kurma...". &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=736&amp;amp;Itemid=89#foot58" name="tex2html9"&gt;&lt;span &gt;8&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan tahnik, supaya sang bayi melatih diri dan menguatkan lidahnya untuk makan. Yang paling baik adalah mentahnik dengan kurma. Bila tidak ada, maka bisa ruthab (kurma muda), atau kalau tidak, dengan sesuatu yang manis dan madu lebih baik dari manisan yang lain. &lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=736&amp;amp;Itemid=89#foot60" name="tex2html10"&gt;&lt;span &gt;9&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau bertujuan menguatkan syaraf mulut untuk menggerakkan lidah dan dagu sehingga ia siap memulai proses penyusuan dan mengisap ASI. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=736&amp;amp;Itemid=89#foot61" name="tex2html11"&gt;&lt;span &gt;10&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;2. &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Aqiqah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ritual lain yang disyariatkan pada masa ini, ialah penyembelihan hewan 'aqiqah sebagai cerminan ekspresi kebahagiaan dengan kehadiran sang bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ummu Kurz Al Ka'biyah, ia bertanya kepada Rasulullah tentang aqiqah. Beliau menjawab:&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;"Untuk bayi lelaki dua kambing dan untuk bayi perempuan satu ekor kambing". &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=736&amp;amp;Itemid=89#foot66" name="tex2html12"&gt;&lt;span &gt;11&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;strong&gt;3. Membersihkan kotoran kepala&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tuntunan lain yang diarahkan oleh Islam berkaitan dengan bayi yang baru saja lahir, membersihkan noda dan kotoran yang ada di kepala bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;"Rasulullah menyembelih hewan aqiqah untuk Hasan dan Husain di hari ketujuh, memberi nama keduanya dan Beliau memerintahkan agar kepalanya dibersihkan dari kotoran".&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=736&amp;amp;Itemid=89#foot72" name="tex2html13"&gt;&lt;span &gt;12&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;strong&gt;4. &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;strong&gt;Tasmiyah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span &gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Tasmiyah adalah memberi nama kepada anak. Islam memberikan petunjuk yang agung, agar orang tua memilihkan nama yang baik bagi anaknya yang baru lahir. Rasulullah sangat menyukai nama-nama yang baik. &lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=736&amp;amp;Itemid=89#foot76" name="tex2html14"&gt;&lt;span &gt;13&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi bersabda:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span &gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;"Malam ini telah lahir anak lelakiku dan aku beri nama dengan nama ayahku, Ibrahim".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;"Sesungguhnya, nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama, semestinya bermakna baik dan bagus. Sebab nama juga bisa memberikan efek psikologis bagi pemiliknya. Seorang penyair berkata: Dan tidaklah setiap kali pandangan Anda tertuju pada seseorang, kecuali jika engkau renungi, maknanya mesti tersimpul dalam namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan waktu memberikan nama kepada bayi yang baru lahir?&lt;br /&gt;Dalam masalah ini terdapat perselisihan pendapat di kalangan ulama. Sebagian hadits menunjukkan, bahwa penamaan dilakukan pada hari kelahiran bayi. Ada hadits lain yang menentukannya di hari ketujuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhari menuliskan sebuah bab yang berjudul "Bab Penamaan Bayi Pada Hari Kelahirannya Buat Yang Tidak Disembelihkan Aqiqah dan Tahnik, Barangsiapa Akan Disembelihkan Aqiqah Untuknya, Ditunda (Penamaannya) Sampai Hari Ketujuh". Ini sebuah usaha pengkompromian dalil-dalil secara tepat. &lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=736&amp;amp;Itemid=89#foot89" name="tex2html15"&gt;&lt;span &gt;14&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Ibnul Qayyim menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;"Pemberian nama boleh dilakukan di hari kelahirannya, boleh (juga) di hari ketiga. Demikian juga boleh ditunda sampai hari ketujuh. Dalam masalah ini ada kelonggaran".&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=736&amp;amp;Itemid=89#foot93" name="tex2html16"&gt;&lt;span &gt;15&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;strong&gt;5. &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;strong&gt;Khitan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;"Fitrah terdapat dalam lima perkara. (Yaitu) khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak". &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=736&amp;amp;Itemid=89#foot99" name="tex2html17"&gt;&lt;span &gt;16&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua atau wali anak, wajib mengkhitan anaknya sebelum memasuki masa usia baligh. Hikmahnya, sebagaimana diterangkan Ibnul Qayyim:&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;"Khitan mengandung unsur kesehatan, kebersihan, kerapian dan mempercantik kondisi fisik serta menormalkan syahwat. Jika dilepas, maka manusia bagaikan hewan. Namun sebaliknya, bila dikebiri, maka manusia layaknya benda mati. Dan khitan akan menyeimbangkannya. Oleh karena itu, engkau dapati lelaki atau wanita yang tidak berkhitan, tidak pernah merasa kenyang dengan jima' ".&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ini, menjadi jelas perhatian Islam terhadap fase kehidupan radha 'ah ini. Adab-adab tersebut berpengaruh pada pembentukan moral. Ini termasuk nilai keistimewaan ajaran agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#993399;"&gt;Catatan Kaki&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=735&amp;amp;Itemid=89#tex2html1"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Diangkat dari kitab Marahilu An Numuwwi Fi Dhaui Al Kitab Was Sunnah karya Dr. Khalid bin Al Hazimi. Darul 'Alamil Kutub. Cet. I Th. 1420 H - 1999 M.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;id=735&amp;amp;Itemid=89#tex2html3"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; HR Bukhari (2/424) kitab Bad'ul Wahyi, Bab Dzikir Al Malaikah no. 3208; Muslim (4/2036) kitab Al Qadar (46), Bab Kaifiyati Al Adami Fi Bathni Ummihi, no. 2643. Dan ini teks Imam muslim.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;id=735&amp;amp;Itemid=89#tex2html4"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tuhfatul Maudud Bi Ahkamil Maulud, karya Ibnul Qayyim. Darul bayan, Cet. H, Th . 1407 H, hlm. 171.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=735&amp;amp;Itemid=89#tex2html5"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Ibid, hlm. 171.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=735&amp;amp;Itemid=89#tex2html6"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Ihyaa 'ulumid Din&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=735&amp;amp;Itemid=89#tex2html7"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;6&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tuhfatul Maudud, hlm.170-171.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;id=735&amp;amp;Itemid=89#tex2html8"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;7&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ibid, hlm. 140-142&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=736&amp;amp;Itemid=89#tex2html9"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;8&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; HR Bukhari, kitab 'aqidah, Bab Tasmiyatil Mauludi Ghadata yuladu, no. 5467 dan Muslim kitab Adab, Bab Istihbabi Tahnikil Maulud, no. 2145.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=736&amp;amp;Itemid=89#tex2html10"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;9&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Fathul Bari (9/588).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=736&amp;amp;Itemid=89#tex2html11"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;10&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Qishshatul Hidayah, karya Abdullah Ulwan (1/57-58).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=736&amp;amp;Itemid=89#tex2html12"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;11&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Shahih Sunan Abu Dawud no. 2461.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=736&amp;amp;Itemid=89#tex2html13"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;12&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Hadits Shahih diriwayatkan Al Hakim (4/237). Lihat Irwaul Ghalil no. 1164.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=736&amp;amp;Itemid=89#tex2html14"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;13&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Zaadul Ma'ad (2/326)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=736&amp;amp;Itemid=89#tex2html15"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;14&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Fathul Bari (9/587-588)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=736&amp;amp;Itemid=89#tex2html16"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;15&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; HTuhfatul Maudud hlm. 71.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=736&amp;amp;Itemid=89#tex2html17"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;16&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; R Bukhari no. 5891. Muslim no: (50 - 257) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-115245905408188348?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/115245905408188348/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=115245905408188348' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115245905408188348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115245905408188348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2006/07/radhaah-masa-menyusui-dan-pembinaannya.html' title='Radha&apos;ah (Masa Menyusui dan Pembinaannya)'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-115245865897441199</id><published>2006-07-09T23:17:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:41:55.650+08:00</updated><title type='text'>Antara Hak Anak dan Kewajiban Ibu (5/5)</title><content type='html'>&lt;span &gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;2.10 Menanamkan Sifat Sabar&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman, yang artinya: &lt;span style="color:#009900;"&gt;Sesungguhnya hanya orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa hisab. &lt;/span&gt;(QS Az Zumar : 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga firmanNya yang artinya: &lt;span style="color:#009900;"&gt;Hai orang-orang yang beriman mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.&lt;/span&gt; (QS Al Baqarah: 153)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan dia berkata, Rasulullah bersabda, &lt;span style="color:#009900;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Sungguh menakjubkan urusan orang yang briman, sesunguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak terjadi, kecuali bagi orang yang beriman. Apabila dia diberi kesenangan, maka dia bersyukur, dan itu baik baginya. Dan apabila dia ditimpa kesusahan, maka dia bersabar, dan itupun baik baginya."&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=167&amp;amp;Itemid=89#foot184" name="tex2html20"&gt;&lt;span &gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;2.11 Menyadarkan Kepada Anak Tentang Berharganya Waktu&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span &gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Sesungguhnya menjaga waktu akan menanamkan sifat menepati janji pada waktunya. Demikian pula harus diperhatikan, agar menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya. Oleh karena itu Allah menganjurkan kita untuk menyusun jadwal kegiatan dan mengerjakannya pada waktu yang telah direncanakan. Dan waktu sangat terbatas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman, yang artinya: &lt;span style="color:#009900;"&gt;Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. &lt;/span&gt;(QS An Nisaa :103)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas'ud pernah bertanya kepada Nabi, "Amal apa yang paling dicintai oleh Allah?" Beliau menjawab, 'Shalat pada awal waktunya....' &lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=167&amp;amp;Itemid=89#foot192" name="tex2html21"&gt;&lt;span &gt;2&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Allah mengkhususkan masalah shalat, karena shalat dilakukan berulang lima kali sehari semalam. Apabila seseorang menjaga shalatnya dan melaksanakannya pada awal waktu, maka hal dapat menanamkan kedisiplinan dan pemanfaatan waktu. Dan agar menjadikan waktu sehat dan luangnya sebagai kesempatan untuk melakukan kebaikan, karena umur itu terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas berkata, bahwa Nabi bersabda, &lt;span style="color:#009900;"&gt;Dua nikmat yang banyak manusia tertipu dengannya, yaitu kesehatan dan waktu luang.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=167&amp;amp;Itemid=89#foot235" name="tex2html22"&gt;&lt;span &gt;3&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Para salafush shalih dan orang-orang yang meniti jalan mereka adalah manusia yang paling ketat dan paling bersemangat dalam menjaga waktu, yakni dengan memanfaatkan dan memenuhinya dengan berbagai kebaikan dan hal-hal bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;2.12 Menanamkan Sifat Pemberani&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman, yang artinya: &lt;span style="color:#009900;"&gt;Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh.&lt;/span&gt; (QS At Taubah: 111)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dan Abu Aufa Nabi bersabda, &lt;span style="color:#009900;"&gt;"Dan ketahuilah bahwa surga di bahah naungan pedang "&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=167&amp;amp;Itemid=89#foot204" name="tex2html23"&gt;&lt;span &gt;4&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Ibnu Hajar berkata, Al Qurtubi berkata, "Sabda Rasulullah di atas termasuk ucapan yang indah, singkat tapi padat. Memiliki gaya bahasa nan indah, ringkas dan lafazhnya bagus. (Ucapan) ini memberi faidah anjuran untuk berjihad, dan mengabarkan pahalanya, serta anjuran menghadapi musuh yang menggunakan pedang, serta bersatu ketika perang, sehingga pedang menaungi orang-orang yang berperang " &lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=167&amp;amp;Itemid=89#foot209" name="tex2html24"&gt;&lt;span &gt;5&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Jauzi berkata, "Maksudnya adalah surga dapat diraih dengan jihad." &lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=167&amp;amp;Itemid=89#foot212" name="tex2html25"&gt;&lt;span &gt;6&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada periode awal Islam, para ibu menjadi penolong dan pendorong anak-anaknya agar memiliki sifat pemberani. Dalam sejarah terdapat contoh-contoh tentang hal itu. Sebutlah Abdullah bin Zubair bin Awwam. Ketika dia keluar untuk memerangi Hajjaj bin Yusuf, bersamanya tidak ada orang, kecuali sedikit orang. la mengadu kepada ibunya Asma tentang ketidak pedulian manusia dan sikap diam mereka terhadap Hajjaj sampai orang yang paling dekat denganya sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah menanyakan pendapat ibunya. Lalu apakah yang dikatakan oleh wanita yang berjiwa besar ini? Apakah ia berkata kepada putranya, "Tinggalkanlah urusan ini" karena ia khawatir terhadap keselamatan putranya yang merupakan darah dagingnya? Tidak, demi Allah. Bahkan ia memompakan keberanian dan kesabaran sampal ia mati syahid. Dengan keberanian dan jihad semacam inilah akan tegak berdiri Daulah Islamiyah yang diharapkan dengan izin Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;2.13 Bersikap Adil Diantara Anak-Anak&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dari Nu'man bin Basyir, Rasulullah bersabda, &lt;span style="color:#009900;"&gt;Bersikap adillah diantara anak-anakmu, adillah diantara anak-anakmu, adillah diantara anak-anakmu &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=167&amp;amp;Itemid=89#foot218" name="tex2html26"&gt;&lt;span &gt;7&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian akhir dari pembahasan ini, ingin aku sitirkan firman Allah melalui lisan Luqman Al Hakim kepada anaknya sebagai nasihat atas anak: &lt;span style="color:#009900;"&gt;"Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengejakan kebaikan dan cegahlah (mereka) dari perbuatan mungkar dan bersabarlah terhadap apa-apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesunguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai." &lt;/span&gt;(QS Lugman:7-19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku muslimah, sesungguhnya anak-anak kita adalah amanah yang dititipkan Allah kepada kita. Allah akan menanyakan, apakah kita akan menjaganya atau menyia-nyiakannya. Maka wajib atas kita untuk menjaga amanah ini. Dengan keyakinan, kita mendidik generasi muslim, kita persiapkan mereka agar menjadi generasi kuat untuk menghadapi orang-orang yang menyimpangkan Al Kitab dan Assunnah. Wallahu walyyut taufiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Salamah Ummu Ismail)&lt;br /&gt;Dikutip dari majalah As-Sunnah 11/VII/2004 hal 60 - 61&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Catatan Kaki&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=167&amp;amp;Itemid=89#tex2html20"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; HR. Muslim, 18/125; Nawawi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=167&amp;amp;Itemid=89#tex2html21"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; HR. Muslim, 18/125; Nawawi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=167&amp;amp;Itemid=89#tex2html22"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; HR. Bukhari, 527; Muslim, 2/73; Nawawi; Tirmidzi, 173, dan dia berkata, "Hasan shahih."; Nasa'i, 1/292; Ad Darimi, 1/278; Ahmad, 1/409, 410, 439; Humaidi, 103; Thabrani dalam Ash Shaghir, 446; Al Baihaqi dalam Al I'tiqad, hlm. 42.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=167&amp;amp;Itemid=89#tex2html23"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; HR. Bukhari, 2818, 2833, 3966; Muslim, 1742; Abu Dawud, 2631; Tirmidzi, 1659.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=167&amp;amp;Itemid=89#tex2html24"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Fathul Bari, 6/33.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=167&amp;amp;Itemid=89#tex2html25"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;6&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Fathul Bari, 6/33.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=167&amp;amp;Itemid=89#tex2html26"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;7&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; HR. Abu Dawud, 93544; Nasa'i, 6/262; Ahmad, 4/275, 278, 375. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-115245865897441199?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/115245865897441199/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=115245865897441199' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115245865897441199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115245865897441199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2006/07/antara-hak-anak-dan-kewajiban-ibu-55.html' title='Antara Hak Anak dan Kewajiban Ibu (5/5)'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-115245824678120054</id><published>2006-07-09T23:08:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:42:10.192+08:00</updated><title type='text'>Antara Hak Anak dan Kewajiban Ibu (4/5)</title><content type='html'>&lt;span &gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;2.8 Mengajarkan Kepada Anak Untuk Meminta Izin &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ini termasuk adab mulia yang penting diajarkan dan dibiasakan oleh seorang ibu muslimah kepada anak-anaknya, khususnya jika anak hampir baligh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam telah memberikan batasan dan rambu-rambu tentang hal ini dengan jelas. Allah berfirman, yang artinya: &lt;span style="color:#009900;"&gt;Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki dan orang-orang yang belum baligh diantara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari), yaitu sebelum shalat shubuh, ketika kamu sedang menanggalkan pakaian (luarmu) di tengah hari dan sesudah shalat isya'. (Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tdak ada dosa atasmu dan tidak pula atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian yang lain. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana. Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka minta izin, seperti orang-orang sebelum mereka minta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatNya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.&lt;/span&gt; (QS An Nur: 58,59).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat tersebut menjelaskan waktu-waktu yang tidak diperbolehkan bagi anak-anak yang belum baligh untuk masuk, kecuali setelah mendapat izin. Adapun selain tiga waktu tersebut, maka tidak berdosa atas mereka masuk tanpa izin. Imam Ibnu Katsir menjelaskan yang menjadi sebab perlunya meminta izin pada tiga waktu tersebut. Dia berkata, "Allah Ta'ala memerintahkan orang-orang beriman, agar para budak yang mereka miliki dan anak-anak mereka yang belum baligh untuk meminta izin kepada mereka dalam tiga waktu, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Sebelum shalat fajar&lt;/span&gt; karena pada waktu itu manusia sedang tidur di tempat tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Ketika menanggalkan pakaian pada siang hari&lt;/span&gt;, yaitu pada waktu qailulah (tidur siang), karena manusia seringkali sedang menanggalkan pakaiannya bersama istrinya pada waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Setelah shalat Isya&lt;/span&gt; karena itu saat waktu tidur, maka diperintahkan kepada para budak dan anak-anak (yang belum baligh) untuk tidak masuk kepada ahli bait tanpa izin, karena dikhawatirkan ketika itu seorang suami sedang bersama istrinya atau sedang melakukan hal Iainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu Allah berfirman, yang artinya:&lt;br /&gt;(Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak pula atas mereka selain dari (tiga waktu) itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya, apabila mereka masuk selain dari tiga waktu itu tanpa izin, maka tidak apa-apa atas kalian dan tidak pula atas mereka apabila mereka melihat sesuatu selain dari tiga waktu itu, karena telah diizinkan bagi mereka masuk tanpa izin, dan karena mereka banyak berinteraksi dengan kalian untuk melayani kalian atau yang lainnya." &lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=166&amp;amp;Itemid=89#foot137" name="tex2html15"&gt;&lt;span &gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Adapun bagi anak-anak yang telah baligh, maka mereka harus minta izin setiap waktu apabila ingin masuk. Al Auza'i berkata dari Yahya bin Katsir, &lt;span style="color:#009900;"&gt;"Apabila anak masih berumur empat tahun, maka dia meminta izin kepada kedua orang tuanya dalam tiga waktu. Apabila mereka telah baligh, maka dia harus minta izin setiap waktu."&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=166&amp;amp;Itemid=89#foot142" name="tex2html16"&gt;&lt;span &gt;2&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keharusan minta izin ini tidak hanya ketika akan masuk ke rumah orang lain saja, akan tetapi juga ketika masuk ke rumah yang hanya dihuni oleh ibu atau saudara perempuannya. Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, &lt;span style="color:#009900;"&gt;bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Hudzaifah,"Apakah aku harus mintaizin kepadaibuku?" Dia menjawab, "Jika engkau tidak minta izin kepadanya, engkau akan melihat apa yang engkau benci." &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=166&amp;amp;Itemid=89#foot149" name="tex2html17"&gt;&lt;span &gt;3&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam Al Bukhari meriwayatkan pula tentang keharusan seorang laki-laki minta izin kepada saudarinya. 'Atha bertanya kepada lbnu Abbas tentang meminta izin kepada saudara perempuan, maka Ibnu Abbas berkata, " Ya," lalu aku ulangi lagi, "Dua saudariku itu berada dalam pemeliharaanku, aku yang menjamin dan menafkahi mereka, apakah aku harus izin?" Beliau menjawab, "Ya. Apakah engkau suka melihat saudarimu sedang telanjang?" Kemudian beliau membaca, Al Qur'an surat An Nur ayat 58.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Atha' berkata, "Mereka diperintahkan minta izin kecuali pada tiga waktu itu,". Ibnu Abbas membaca, firman Allah yang artinya: &lt;span style="color:#009900;"&gt;Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang sebelum mereka minta izin. &lt;/span&gt;(QS An Nur: 59).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas berkata, &lt;span style="color:#009900;"&gt;"Minta izin hukumnya wajib." Ibnu Juraij menambahkan, "Atas setiap manusia." &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=166&amp;amp;Itemid=89#foot164" name="tex2html18"&gt;&lt;span &gt;4&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;2.9 Menanamkan Kejujuran&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jujur adalah sikap terpuji yang wajib kita tanamkan kepada anak-anak. Allah berfirman, yang artinya: &lt;span style="color:#009900;"&gt;Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).&lt;/span&gt; (QS At Taubah :9)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat tentang hal ini sangat banyak. Demikian pula hadits telah berulang menyitir akhlak terpuji ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Mas'ud dari Nabi beliau bersabda, &lt;span style="color:#009900;"&gt;Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun kepada surga, dan sesungguhnya seseorang berkata jujur sehingga dia menjadi orang yang jujur. Dan sungguhnya kedustaan menunjukkan kepada kejahatan, sedangkan kejahatan mengantar kepada neraka, dan sesungguhnya seseorang berkata dusta hingga la tercatat di sisi Allah sebagai pendusta.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=166&amp;amp;Itemid=89#foot234" name="tex2html19"&gt;&lt;span &gt;5&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berkata jujur adalah kemuliaan bagi anak-anak kita. Dan tidak akan tersealisasi, kecuali dengan berkata jujur dalam segala urusan. Jika seseorang biasa berdusta, dia akan senantiasa dianggap pendusta di hadapan manusia meskipun dia berkata jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Salamah Ummu Ismail)&lt;br /&gt;Dikutip dari majalah As-Sunnah 11/VII/2004 hal 59 - 60&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Catatan Kaki&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=166&amp;amp;Itemid=89#tex2html15"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Tafsir Ibnu Katsir, 3/303, 304.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=166&amp;amp;Itemid=89#tex2html16"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Tafsir Ibnu Katsir, 3/303, 304.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=166&amp;amp;Itemid=89#tex2html17"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Al Adabul Mufrad, 1060.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=166&amp;amp;Itemid=89#tex2html18"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Al Adabul Mufrad, 1063.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=166&amp;amp;Itemid=89#tex2html19"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; HR. Bukhari, 6094; Muslim, 16/60; Nawawi; Abu Dawud, 4989; Tirmidzi, 1972, dan dia berkata, "Hasan shahih."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-115245824678120054?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/115245824678120054/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=115245824678120054' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115245824678120054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115245824678120054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2006/07/antara-hak-anak-dan-kewajiban-ibu-45.html' title='Antara Hak Anak dan Kewajiban Ibu (4/5)'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-115245732752677773</id><published>2006-07-09T22:56:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:42:28.224+08:00</updated><title type='text'>Antara Hak Anak dan Kewajiban Ibu (3/5)</title><content type='html'>&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;2.5 Membuat Anak-Anak Cinta Kepada Sunnah Serta Menyuruh Mereka Menjaganya&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span &gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Allah berfirman, yang artinya: &lt;span style="color:#009900;"&gt;Barangsiapa mentaati Rasul itu, maka sesunguhnya dia telah mentaati Allah. &lt;/span&gt;(QS An Nisa: 80)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman, yang artinya: &lt;span style="color:#009900;"&gt;Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.&lt;/span&gt; (QS AI Hasyr:7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi bersabda, dari hadits Irbadh bin Sariyah yang artinya: &lt;span style="color:#009900;"&gt;"Aku wasiatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah, mend-gar dan taat, meskipun yang memerintahkan kalian adalah budak dari Habasyah. Karena sesungguhnya, barangsiapa diantara kalian hidup setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Berpegang teguhlah kalian dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat pentunjuk. Peganglah ia erat-erat, dan gigitlah ta dengan gerahammu." &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=165&amp;amp;Itemid=89#foot230" name="tex2html11"&gt;&lt;span &gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;2.6 Menanamkan Kepada Anak Agar Benci Kepada Bid'ah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam adalah agama yang sempurna. Allah berfirman, yang artinya: &lt;span style="color:#009900;"&gt;Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dia mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan a ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.&lt;/span&gt; (QS An Nisa :115)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nabi bersabda, dari hadits Abdullah bin Mas'ud, Setiap perkara yang baru (dalam agama) adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi setiap bid'ah itu tertolak, sebagaimana disebutkan dalam hadits. Adapun pembagian bid'ah menjadi dua, yaitu: bid'ah mahmudah (terpuji) dan bid'ah madzmumah (tercela), maka sebenamya yang dimaksudkan ialah bid'ah (perkara baru) secara bahasa saja, bukan secara syar'iyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;2.7 Membuat Anak-Anak Cinta Kepada Ilmu Syar'i dan Bersabar Dalam Meraihnya&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ilmu syar'i merupakan ilmu yang paling mulia. Allah telah memuji ilmu dan ulama lebih dari satu ayat dalam Al Qur'an. Allah berfirman, yang artinya: &lt;span style="color:#009900;"&gt;Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambaNya hanyalah ulama. &lt;/span&gt;(QS Fathir: 28)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dan katakanlah: &lt;span style="color:#009900;"&gt;" Ya Rabb, tambahkanlah kepadaku ilmu".&lt;/span&gt; (QS Thaha:114)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Zar bin Hubasyi, dia berkata, &lt;span style="color:#009900;"&gt;"Aku mendatangi Sofwan bin 'Assal Al Muradi, lalu dia berkata, "Untuk tujuan apa engkau datang kemari?" Aku menjawab, "Karena mengharapkan ilmu". Dia berkata, "Sesungguhnya malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi penuntut iImu, karena ridha dengan apa yang mereka cari." &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=165&amp;amp;Itemid=89#foot106" name="tex2html12"&gt;&lt;span &gt;2&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar ketika masih kecil lebih baik daripada belajar ketika sudah dewasa, sebagaimana dalam sebuah sya'ir: Belajar sewaktu kecil bagaikan melukis di atas baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa permulaan Islam para ibu memotivasi anaknya untuk menuntut ilmu (syar'i). Bahkan ada yang rela bekerja agar si anak bisa belajar. Lihatlah, bagaimana manusia memuji Sufyan Ats Tsauri &lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=165&amp;amp;Itemid=89#foot236" name="tex2html13"&gt;&lt;span &gt;3&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt; karena keluasan ilmu yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Al Auza'i berkata tentangnya; "Tidak ada orang yang padanya orang awam berkumpul dengan ridha dan lapang dada, kecuali satu orang di Kufah yaitu Sufyan"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sufyan tidaklah mencapai apa yang menjadi cita-citanya, kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian pertolongan ibunya yang shalihah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad dari Waki', dia berkata,&lt;br /&gt;"Ummu Sufyan berkata kepada Sufyan, 'Wahai, anakku. Tuntutlah iImu dan aku akan cukupimu dengan alat pemintaanku'." &lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=165&amp;amp;Itemid=89#foot233" name="tex2html14"&gt;&lt;span &gt;4&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Alangkah besarnya tokoh-tokoh yang keluar dari madrasah ibu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span &gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Ibu adalah madrasah&lt;br /&gt;Apabila engkau mempersiapkannya&lt;br /&gt;berarti engkau mempersiapkan generasi yang kuat akarnya&lt;br /&gt;Ibu adalah taman&lt;br /&gt;Jika engkua merawatnya&lt;br /&gt;dia akan hidup dengan elok&lt;br /&gt;tumbuh daunnya beraneka rupa&lt;br /&gt;Ibu adalah guru pertamanya para guru&lt;br /&gt;Kemuliaanya terpancar menyebar sepanjang cakrawala&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span &gt;(Salamah Ummu Ismail)&lt;br /&gt;Dikutip dari majalah As-Sunnah 11/VII/2004 hal 58 - 59&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Catatan Kaki&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=165&amp;amp;Itemid=89#tex2html11"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; HR. Abu Dawud, 4607; At Tirmidzi, 2676 dan dia barkata, "Hasan shahih''; Ibnu Majah, 42; Ad Darimi, 1/44, 45; Ahmad, 4/126, 127; Hakim, 1/97; Ibnu Abdil Bar dalam Jami'ul Ilmi, 92/17, 172.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=165&amp;amp;Itemid=89#tex2html12"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; HR. Tirmidzi, 96/3535; Nasa'i, 1/83; Ibnu Majah, 284; Ad Darimi, 1/101; Ahmad, 4/239, 240; Ibnu Khuzaimah, 17/193, 196; Asy Syafi'i dalam Al Umm, 1/34, 35; Hakim, 1/100; Ibnu Abdil Bar, dalam Al Jami' 91/32; Ibnu Hazm, dalam Al Muhalla, 2/830; Ibnul Jarud, 94; Humaidi, 881.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=165&amp;amp;Itemid=89#tex2html13"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Beliau adalah salah seorang Imam dari enam madzhab. Beliau adalah Amirul Mu'minin dalam hadits. Syu'bah, Ibnu Mubarak, Abu 'Ashim, Ibnu Mu'ayyan dan lebih dari satu ulama' lainnya, berkata, "Sufyan adalah Amirul Mu'minin dalam hadits." Ibnul Mubarak berkata, "Aku menulis dari seribu seratus syaikh. Tidaklah aku menulis yang lebih utama dari Sufyan." (Lihat At Tahdzib, 4/112, 113). Dikatakan pula bahwa Sufyan adalah penduduk dunia yang paling faqih (Siyar Alamin Nubala).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=165&amp;amp;Itemid=89#tex2html14"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span &gt; 'Audatul Hijab, karya Muhammad Ismail, 2/143. Dinukil dari Al Imam Sufyan Ats Tsauri, karya Muhammad Abul Fath Al Bayanuni.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-115245732752677773?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/115245732752677773/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=115245732752677773' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115245732752677773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115245732752677773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2006/07/antara-hak-anak-dan-kewajiban-ibu-35.html' title='Antara Hak Anak dan Kewajiban Ibu (3/5)'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-115245641996273062</id><published>2006-07-09T22:41:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:42:43.639+08:00</updated><title type='text'>Antara Hak Anak dan Kewajiban Ibu (2/5)</title><content type='html'>&lt;span &gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;2.2 Mengajari Anak Shalat&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mengajarkan anak-anak shalat yaitu dalam hal-hal yang utamanya, wajib-wajibnya, waktunya, cara berwudhu dan dengan shalat dihadapan mereka. Demikian pula dengan pergi bersama mereka ke masjid, berdasarkan sabda Nabi dan hadits Sabrah, &lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=164&amp;amp;Itemid=89#foot43" name="tex2html5"&gt;&lt;span &gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;; &lt;span style="color:#009900;"&gt;Perintahkanlah anak untuk shalat apabila mereka telah berumur tujuh tahun. Dan jika mereka telah berumur sepuluh tahun (tetapi tidak shalat), maka pukullah mereka.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=164&amp;amp;Itemid=89#foot229" name="tex2html6"&gt;&lt;span &gt;2&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya para ibu mengajarkan kepada mereka, bahwa shalat bukan hanya sekedar gerakan atau rutinitas seorang hamba kepada Rabbnya. Akan tetapi, shalat merupakan hubungan yang dalam dan kuat antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Maka peringatkanlah mereka dengan sungguh-sungguh, supaya tidak meninggalkan shalat. Berilah mereka ancaman bila meninggalkan perbuatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suruhlah mereka untuk senantiasa bersegera menunaikan shalat pada awal waktu. Allah di berfirman, yang artinya: &lt;span style="color:#009900;"&gt;Maka datanglah sesudah mereka pengganti yang jelek yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat serra mengerjakan amal shalih.&lt;/span&gt; (QS Maryam: 59-60).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi bersabda, &lt;span style="color:#009900;"&gt;Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi, bahwa tidak ada sesembahan yang hak, kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan sampai mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat Apabila mereka melakukan itu, maka terjagalah dariku darah-darah mereka dan harta-harta mereka, kecuali merupakan hak Islam; dan perhitungan mereka atas Allah.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=164&amp;amp;Itemid=89#foot58" name="tex2html7"&gt;&lt;span &gt;3&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hazm berkata, "Barangsiapa mengakhirkan shalat dan waktunya, maka dia itu hina" &lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=164&amp;amp;Itemid=89#foot62" name="tex2html8"&gt;&lt;span &gt;4&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;2.3 Menanamkan Kecintaan Kepada Allah dan RasuINya, dan Mendahulukan Keduanya&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Dari Anas dia berkata, Rasulullah bersabda,"Tidak sempurna imam seseorang diantara kalian sampai aku menjadi orang yang lebih dicintainya daripada bapaknya, anaknya dan seluruh manusia." &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=164&amp;amp;Itemid=89#foot67" name="tex2html9"&gt;&lt;span &gt;5&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dengan menanamkan kecintaan kepada Allah dan RasuINya di hati anak-anak akan mengantarkan mereka menyambut seruan Allah dan RasuINya. Dan ini menjadi motivasi dasar untuk seluruh yang mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;2.4 Mengajarkan Al Qur'an dan Menyuruh Anak-Anak Menghafalkan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan masalah besar yang hanya akan didapatkan oleh orang yang secara sungguh-sungguh berusaha menghafal dan mengamalkannya. Hendaklah ibu memulainya dengan menyuruh menghafal surat Al Fatihah dan surat-surat pendek. Demikian pula hendaklah kita menyuruh mereka menghafal at tahiwat untuk shalat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;HadIts-hadits Nabi telah menunjukkan keutamaan itu semua. Diantaranya yang diriwayatkan oleh Utsman bin Affan dari Nabi beliau bersabda, &lt;span style="color:#009900;"&gt;"Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya." &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=164&amp;amp;Itemid=89#foot73" name="tex2html10"&gt;&lt;span &gt;6&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Para ibu pada masa kejayaan Islam, benar-benar memotivasi anak-anaknya untuk mendapatkan kebaikan, terlebih lagi dari Al Qur'an, sebagaimana mereka mengusahakan kebaikan bagi jiwa anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Salamah Ummu Ismail)&lt;br /&gt;Dikutip dari majalah As-Sunnah 11/VII/2004 hal 57 - 58&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Catatan Kaki&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=164&amp;amp;Itemid=89#tex2html5"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Sabrah, yakni Ibnu Abdil Aziz bin Rabi' bin Sabrah Al-Juhani.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=164&amp;amp;Itemid=89#tex2html6"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Dikeluarkan oleh Abu Dawud, 494; Tirmidzi, 407; dan dia berkata, "Hasan shahih." Ad Darimi, I/333; Ibnul Jarud, 147; Ibnu Khuzaimah, 1002; Hakim, I/201 dan dia berkata, "Shahih atas syarat Muslim dan disepakati oleh Adz Dzahabi." Berkata Albani dalam Al Irwa' I/267, "Dan dalam apa-apa yang dikatakan keduanya perlu diteliti, karena Muslim hanya mengeluarkan satu hadits saja dali Abdul Malli ini dalam hal mut'ah sebagai pendukung, sebagaimana yang disebutkan oleh Al Hafidz dan lainnya. Hadits ini sanad-sanadnya dha'if, akan tetapi dia mempunyai syahid yang menguatkannya kepada derajat shahih dari hadits Ibnu Amr."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=164&amp;amp;Itemid=89#tex2html7"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; HR. Bukhari, 25 dan Muslim, I/200 Nawawi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=164&amp;amp;Itemid=89#tex2html8"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Al Muhalla, 2/239&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=164&amp;amp;Itemid=89#tex2html9"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; HR. Bukhari, 14; Muslim, 2/15; Nawawi; Ibnu Majah, 67; Ad Darimi, 2/307; Ahmad, 3/77; Abdurrazaq, 2032; Ibnu Hazm dalam Al Muhalla, 2/239.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=164&amp;amp;Itemid=89#tex2html10"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;6&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; HR. Bukhari, 5027; Abu Dawud, 1452; At Tirmidzi, 2907, 2908; Ibnu Majah, 211, 212; Ahmad, 405, 412, 413, 500; Ath Thayalisi, 1880; dan Ad Darimi, 2/437. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-115245641996273062?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/115245641996273062/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=115245641996273062' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115245641996273062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115245641996273062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2006/07/antara-hak-anak-dan-kewajiban-ibu-25.html' title='Antara Hak Anak dan Kewajiban Ibu (2/5)'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-115245580618175551</id><published>2006-07-09T22:29:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:42:56.611+08:00</updated><title type='text'>Antara Hak Anak dan Kewajiban Ibu (1/5)</title><content type='html'>&lt;span &gt;Anak, sebagai darah daging kedua orang tua, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ibunya. Anak mempunyai hak-hak yang merupakan kewajiban orang tuanya, terutama ibunya, untuk menunaikan hak-hak tersebut. Jadi bukan hanya anak yang mempunyai kewajiban atas orang tua, tetapi orang tua pun mempunyai kewajiban atas anak. Secara ringkas kewajiban orang tua atas anaknya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;1. Menyusui&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wajib atas seorang ibu menyusui anaknya yang masih kecil, sebagaimana firman Allah yang artinya: &lt;span style="color:#009900;"&gt;Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.&lt;/span&gt; (QS AI Baqarah: 233)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman, yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya. lbunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkanya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan.&lt;/span&gt; (QS Al Ahqaf 15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al 'Allamah Siddiq Hasan Khan berkata,&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;"Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. Maksudnya, adalah jumlah waktu selama itu dihitung dari mulai hamil sampai disapih." &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=163&amp;amp;Itemid=89#foot25" name="tex2html2"&gt;&lt;span &gt;2&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;2. Mendidiknya&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span &gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Mendidik anak dengan baik merupakan salah satu sifat seorang ibu muslimah. Dia senantiasa mendidik anak-anaknya dengan akhlak yang baik, yaitu akhlak Muhammad dan para sahabatnya yang mulia. Mendidik anak bukanlah (sekedar) kemurahan hati seorang ibu kepada anak-anaknya, akan tetapi merupakan kewajiban dan fitrah yang diberikan Allah kepada seorang ibu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mendidik anak pun tidak terbatas dalam satu perkara saja tanpa perkara lainnya, sepertI (misalnya) mencucikan pakaiannya atau membersihkan badannya saja. Bahkan mendidik anak itu mencakup perkara yang luas, mengingat anak merupakan generasi penerus yang akan menggantikan kita yang diharapkan menjadi generasi tangguh yang akan memenuhi bumi ini dengan kekuatan, hikmah, ilmu, kemuliaan dan kejayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut beberapa perkara yang wajib diperhatikan oleh ibu dalam mendidik anak-anaknya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;2.1 Menanamkan Aqidah Yang Bersih&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menanamkan aqidah yang bersih, yang bersumber dari Kitab dan Sunnah yang shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Maka ketahuilah bahwa sesugguhnya tidak ada sesembahan yang haq melainkan Allah. (QS Muhammad: 19) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda, yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Dari Abul Abbas Abdullah bln Abbas, dia berkata: Pada suatu hari aku membonceng di belakang Nabi, kemudian beliau berkata, 'Wahai anak, Sesungguhnya aku mengajarimu beberapa kalimat, yaitu: jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau mendapatiNya di hadpanmu. Apablla engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau mohon pertotongan, maka mohonlah pertotongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu satu manfaat, niscaya mereka tidak akan dapat memberimu manfaat, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk memberimu satu bahaya, niscaya mereka tidak akan bisa membahayakanmu, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan tinta telah kering." &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=163&amp;amp;Itemid=89#foot228" name="tex2html3"&gt;&lt;span &gt;3&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam riwayat lain (Beliau berkata),&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;"Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatiNya di hadapanmu. Perkenalkanlah dirimu kepada Allah ketika kamu senang, niscaya Dia akan mengenalimu saat kesulitan. Ketahuilah, apa apa yang (ditakdirkan) luput darimu, (maka) tidak akan menimpamu. Dan apa-apa yang (ditakdirkan) menimpamu, ia tidak akan luput darimu. Ketahuilah, bahwa pertolongan ada bersama kesabaran, kelapangan ada bersama kesempitan, dan bersama kesusahan ada kemudahan." &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=163&amp;amp;Itemid=89#foot40" name="tex2html4"&gt;&lt;span &gt;4&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak terlahir di atas fitrah, sebagaimana sabda Rasulullah maka sesuatu yang sedikit saja akan berpengaruh padanya. Dan wanita muslimah adalah orang yang bersegera menanamkan agama yang mudah ini, serta menanamkan kecintaan tehadap agama ini kepada anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span &gt;(Salamah Ummu Ismail)&lt;br /&gt;Dikutip dari majalah As-Sunnah 11/VII/2004 hal 57 - 58&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Catatan Kaki&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=163&amp;amp;Itemid=89#tex2html1"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Diangkat dari buku berjudul Wajibatul Mar'atil Muslimah Ala Dhau'il Kitab Was Sunnah Hlm.103 - 127, karya Ummu 'Amr binti Ibrahim Badawi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=163&amp;amp;Itemid=89#tex2html2"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Husnul Uswah, hlm. 215.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=163&amp;amp;Itemid=89#tex2html3"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; HR. Tirmidzi, dan ia berkata, "Hadits hasan shahih."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;id=163&amp;amp;Itemid=89#tex2html4"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; HR. selain Tirmidzi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-115245580618175551?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/115245580618175551/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=115245580618175551' title='26 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115245580618175551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/115245580618175551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2006/07/antara-hak-anak-dan-kewajiban-ibu-15.html' title='Antara Hak Anak dan Kewajiban Ibu (1/5)'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>26</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112825056306291212</id><published>2005-10-02T18:47:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:44:15.170+08:00</updated><title type='text'>Hukum Menghadiri Pesta Pernikahan yang Dimeriahkan oleh Para Penyanyi</title><content type='html'>&lt;span &gt;Pertanyaan.&lt;br /&gt;Lajnah Daimah lil Ifta' ditanya: Apa hukum seorang wanita yang menghadiri pesta pernikahan ataupun pesta ulang tahun dan pesta tersebut dimeriahkan oleh artis-artis sampai larut malam, padahal kita tahu bahwa pesta tersebut adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat? Jika wanita itu hanya bertujuan untuk memenuhi undangan tanpa mendengarkan nyanyian-nyanyian para artis, apakah yang demikian haram pula?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban.&lt;br /&gt;Jika didalam pesta pernikahan tersebut tidak ada perbuatan-perbuatan munkar seperti bercampurnya laki-laki dan perempuan atau lagu-lagu jorok, maka boleh-boleh saja ia hadir untuk bergembira atas perayaan itu. Ataupun jika ada kemungkaran dan ia hadir untuk menghilangkan kemungkaran tersebut maka boleh saja, bahkan wajib jika ia mampu menghilangkan kemungkaran itu, namun bila ia tidak mampu untuk menghilangkan kemungkaran-kemungkaran didapam pesta tersebut maka tidak boleh baginya untuk hadir karena keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta'ala berikut ini:&lt;br /&gt;" Dan tinggalkanlah mereka, yaitu orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan sendau gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia dan ingatkanlah mereka dengan Al Qur'an, bahwa tidaklah seseorang dijerumuskan ke dalam Neraka kecuali karena perbuatan-perbuatan mereka sendiri, dan tidak ada bagi mereka pelindung dan pemberi syafa'at selain Allah." [Al An'am: 70]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadist-hadist yang menerangkan tidak bolehnya menyanyikan lagu dan memainkan alat musik banyak sekali. Dan adapun memperingati hari ulang tahun, itu tidak dibolehkan bagi kaum Muslimin ataupun Muslimah untuk menghadirinya, karena hal itu adalah bid'ah, kecuali dengan tujuan untuk menolak acara ini dan menerangkan hukum Allah yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari Fatwa-fatwa Tentang Wanita Jilid 3 hal. 216-217]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112825056306291212?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112825056306291212/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112825056306291212' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112825056306291212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112825056306291212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/10/hukum-menghadiri-pesta-pernikahan-yang.html' title='Hukum Menghadiri Pesta Pernikahan yang Dimeriahkan oleh Para Penyanyi'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112824994412968617</id><published>2005-10-02T18:31:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:44:50.049+08:00</updated><title type='text'>Hukum Pengantin Laki-laki yang difoto Bersama Wanita yang Bukan Mahramnya</title><content type='html'>&lt;span &gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;Pertanyaan.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya: "Bolehkah kami sebagai kaum muslimin bertingkah laku ataupun mencontoh tindak tanduk orang yang bukan muslim, seperti meniru pakaian orang-orang Eropa dan tata cara pesta mereka?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan bolehkan pengantin laki-laki berpose bersama wanita-wanita yang lain oleh seorang fotografer dari Arab ataupun yang lainnya, dan diantara pengantin laiki-laki dan fotografer itu tidak ada hubungan mahram dengan para wanita tersebut?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;&lt;strong&gt;Jawaban.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kaum Muslimin serta Muslimat diwajibkan berperilaku sesuai dengan akhlaq yang Islami serta bertindak sesuai dengan ajaran Islam, baik pada saat gembira atau sedih, ketika berpakaian, makan dan minum, dan seluruh kegiatan mereka, mereka tidak boleh menyerupai orang-orang kafir, seperti memakai pakaian yang sempit dan tidak menutup aurat, atau pakaian-pakaian yang terbuka dada, lengan, kepala, dan mukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula pada saat makan, mereka tidak boleh meniru orang-orang kafir, seperti makan dengan tangan kiri, bercampur antara pria dan wanita, bergantian mengambil makanan, padahal mereka bukanlah mahram bagi yang lain, saling berkelakar ria dengan segala bentuk kegembiraan, hiburan, dan sendau gurau bersama wanita yang bukan istri/mahramnya. Dan kaum muslimin tidak dibolehkan pula meniru kebiasaan mereka pada saat pesta pernikahan, seperti pengantin laki-laki dan perempuan bersama-sama wanita lain yang bukan mahramnya lalu difoto oleh fotografer dengan bermacam-macam gaya pemotretan sehingga fotonya jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang seperti itu sungguh merupakan kesalahan yang besar, yaitu pemotretan benda-benda bernyawa dan diperlihatkan foto-foto itu pada orang lain serta orang lainpun menyaksikan wanita-wanita yang difoto tersebut sebagai hiasan yang paling bagus dan indah, bercampur baurnya laki-laki dan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal semua itu telah dilarang oleh syariat Islam dan kaum muslimin dilarang pula untuk meniru apa yang diperbuat oleh orang-orang kafir itu. Maka wajib bagi kaum Muslimin baik laki-laki maupun perempuan untuk menjaga aturan-aturan agama mereka dan tetap berada diatas apa yang digariskan oleh agama sebagai jalan yang lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak ada kebaikan yang tidak diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu'alaihi wa Sallam dan tidak ada keburukan yang tidak dilarang oleh beliau. Beliau melarang kita untuk meniru orang kafir, maka jelas kita tidak boleh meniru segala kebiasaan dan tingkah laku merka. Kita harus tetap konsekuen pada hukum ini walaupun fitnah ataupun kehancuran yang menjadi resikonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari Fatwa-Fatwa Tentang Wanita Jilid 3, hal. 215-216]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112824994412968617?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112824994412968617/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112824994412968617' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112824994412968617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112824994412968617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/10/hukum-pengantin-laki-laki-yang-difoto.html' title='Hukum Pengantin Laki-laki yang difoto Bersama Wanita yang Bukan Mahramnya'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112824903351486990</id><published>2005-10-02T18:23:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:44:33.222+08:00</updated><title type='text'>Hukum Memakai Gendang dan Nyanyian</title><content type='html'>&lt;span &gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Pertanyaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Abdul Aziz bin Baz ditanya: "Kami pernah mengadakan pesta, di dalam pesta itu kami memainkan alat musik gendang dan melantunkan beberapa lagu, hal ini kami lakukan selama beberapa malam, namun ada seorang yang tidak setuju terhadap apa yang kami lakukan, padahal bermain gendang dan menyanyikan lagu-lagu yang baik tidak ada kata-kata kotor pada lagu tersebut. Benarkah apa yang kami lakukan ini adalah perbuatan terlarang? Kalau memang demikian, kami mohon penjelasan, semoga Allah membalas dengan segala kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Jawaban.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kami tidak menemukan dalil yang membolehkan bermain alat musik gendang, justru dalan zhahir hadist shahih terdapat indikasi bahwa menggunakan alat-alat musik baik itu dari kayu ataupun biola adalah haram. Demikian tertera dalam hadist Rasulullah Shalallahu'alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;em&gt;" Akan ada sebagian dari umatku, suatu kaum yang membolehkan kebebasan (berzina), sutera, khamr, dan ma'azif (alat-alat musik)."&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lafadz Al Ma'azif adalah umum, mencakup nyanyian, lagu-lagu dan seluruh alat musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari Fatwa-fatwa Tentang Wanita Jilid 3, hal. 214-215]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112824903351486990?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112824903351486990/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112824903351486990' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112824903351486990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112824903351486990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/10/hukum-memakai-gendang-dan-nyanyian.html' title='Hukum Memakai Gendang dan Nyanyian'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112816236093718189</id><published>2005-10-01T17:41:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:45:23.896+08:00</updated><title type='text'>Psidium guajava</title><content type='html'>&lt;span &gt;Psidium guajava L. alias Jambu isi alias Jambu Bangkok alias alias Guava alias guyava alias kuawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa kecil di kampung, buah yang satu ini selalu menjadi idola untuk diserbu oleh teman-teman kecil saya, terutama yang ada di pohon tetangga..hehe. Tapi sialnya kebanyakan buah yang ada di kampung sudah keburu keduluan oleh lalat buah yang menyarangkan generasi penerusnya di dalam buah, jadi ya begitulah kadang terpaksa kami harus rela untuk menikmati buah yang masih masam karena masih muda, sedangkan yang sudah ranum menguning sudah jadi jatah lalat buah, karena ternyata dia lebih rajin mengamati pertumbuhan si jambu ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, kesukaan menikmati jambu bangkok ternyata mendapatkan habitat tepat, di stal buah di pasar biasa kami belanja ternyata selalu memajang setumpuk jambu-jambu yang membangkitkan selera, tapi bedanya saya tak perlu lagi harus celingak-celinguk mengawasi si empunya pohon, dan dengan gesit naik ke pohon atau kalau tak memungkinkan menyambit dengan penuh tenaga, yang kadang batunya malah mampir ke genting tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jambu dengan diameter rata-rata 10 cm menjadi tujuan pokok untuk masuk dalam daftar belanjaan tiap akhir pekan. Inilah sekilas tentang buah jambu isi, yang secara aklamasi terpilih menjadi buah idaman keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Species:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Brazilian guava, Guisaro (Psidium guinense Sw.), Cattley Guava, Strawberry Guava (P. cattleianum Sabine), Costa Rican Guava (P. friedrichsthalianum Ndz.), Para Guava (P. acutangulum DC.), Rumberry, Guavaberry (Myrciaria floribunda Berg).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Origin:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;The place of origin of the guava is uncertain, but it is believed to be an area extending from southern Mexico into or through Central America. It has been spread by man, birds and other animals to all warm areas of tropical America and in the West Indies (since 1526).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Content:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;The tropical guava, Psidium guajava, is regarded as an excellent source of vitamin C, but there is great variation in vitamin C levels amongst the various cultivated varieties. For example, the variety 'Donaldson' has 372 mg/100 grams of flesh, but the variety 'Supreme' has only 44 mg/100 gms (some South African pink guava cultivars grown for the canning industry are said to have an astonishing 400 mg/100 gms!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Growth Habit:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Guavas are evergreen, shallow-rooted shrubs or small trees to 33 ft, with spreading branches. Growth in California is rarely over 10 - 12 feet. The bark is smooth, mottled green or reddish brown and peels off in thin flakes to reveal the attractive "bony" aspect of its trunk. The plant branches close to the ground and often produces suckers from roots near the base of the trunk. Young twigs are quadrangular and downy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Location:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Like other tender subtropicals, guavas need a frost-free location, but are not too fussy otherwise. They prefer full sun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pests and diseases:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;-Foliage diseases,can be controlled with regular fungicide applications.&lt;br /&gt;-Guava whitefly, guava moth and Caribbean fruit fly. In some tropical countries the where fruit flies are a problem, the fruit is covered when small with paper sacks to protect it&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Commercial potential&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;Guava is one of the leading fruits of Mexico. Commercial producation of guava in Hawaii and Florida is hampered by the presence of fruit flies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;CULTIVARS&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;-Beaumont&lt;br /&gt;-Detwiler&lt;br /&gt;-Hong Kong Pink&lt;br /&gt;-Mexican Cream&lt;br /&gt;-Red Indian&lt;br /&gt;-Ruby X&lt;br /&gt;-Sweet White Indonesian&lt;br /&gt;-White Indian&lt;br /&gt;-White Seedless&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.crfg.org/pubs/ff/guava.html"&gt;&lt;span &gt;http://www.crfg.org/pubs/ff/guava.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.naturalhub.com/natural_food_guide_fruit_vitamin_c.htm"&gt;&lt;span &gt;http://www.naturalhub.com/natural_food_guide_fruit_vitamin_c.htm&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112816236093718189?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112816236093718189/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112816236093718189' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112816236093718189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112816236093718189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/10/psidium-guajava.html' title='Psidium guajava'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112808495859202179</id><published>2005-09-30T20:27:00.001+08:00</published><updated>2010-01-13T23:55:04.083+08:00</updated><title type='text'>Telaten Membidik Calon Istri</title><content type='html'>Wajar jika seorang yang hendak menikah berharap mendapat pasangan yang bisa dicintai dan mencintainya. Itulah salah satu hikmah disyariatkannya nazhar (melihat si calon) agar ditemukan sesuatu darinya yang bisa membuat kita tertarik kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemuda pernah menjalani proses ta'aruf dengan seorang gadis. Dari beberapa komunikasi yang dilakukan, si pemuda menangkap kesan bahwa sang gadis mencari suami yang baik, penuh perhatian, sanggup membimbing, sopan, humoris, penyayang, dan sebagainya. Sementara si pemuda merasa tidak berkualifikasi sehebat itu. Ia memandang dirinya sebagai orang yang blak-blakan kalau bicara sehingga terkesan kasar, lumayan cuek, kurang perhatian, serta ngga sensitif dengan perasaan orang lain. Singkatnya ia merasa tidak masuk kriteria sang gadis, atau -meminjam istilah matematika- berada diluar semesta pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi benarkah jika seorang istri, yang menemui kenyataan bahwa sang suami ternyata berbeda dengan bayangannya tentang seorang "pangeran" yang diimpikannya selama ini, akan sulit mencintai suaminya? Belum tentu. Memang benar, harapan yang mengangkasa sering membuat frustasi. Marital expectation berbanding terbalik dengan marital satisfaction, konon begitu katanya. Tapi seorang pengamat pernikahan yang sering tampil di TV, yang lebih pas untuk laki-laki adalah istilah jatuh cinta, sementara yang sering dialami wanita adalah tumbuh cinta. Ya menumbuhkan cinta, inilah kuncinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman yang sudah cukup lama berumah tangga bercerita tentang filosofinya, telaten. Artinya untuk mendapatkan cinta istrinya ia harus telaten dalam memberikan perhatian, bersikap baik, dan terus menerus membiarkan istrinya tahu bahwa ia memang menyayanginya. Mungkin perhatian bukan sifat dasarnya, tapi untuk mendapatkan cinta istrinya, ia memang merasa harus berjuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disisi lain saya (penulis) sedih melihat kehidupan sekarang. Banyak kaum muslimin yang belum apa-apa namun sudah pandai mempraktikkan sikap telaten terhadap perempuan. Pria-pria yang masih bau kencur maupun bau tanah itu tahu bagaimana memenuhi kebutuhan perempuan untuk didengarkan, dipuji, dimengerti, dan diperhatikan. Padahal perempuan itu bukanlah istrinya, dan bahkan berniat untuk dijadikan istripun tidak. Cuma rasa bangga bisa menaklukkan perempuan yang menjadi motivasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka anda, wahai para suami, jangan kalah dengan mereka. Jika anda merasa bahwa istri belum isa sepenuhnya menerima dan mencintai (entah apa sebabnya), jangan putus asa. Jadilah orang yang paling berakhlaq mulia, terutama kepada istri anda. Biarkan dia tahu bahwa disisi suaminya, dia itu bermakna dan dibutuhkan. Pemerintah kita saja pernah dengan rendah hati menyatakan ingin merebut hati masyarakat Aceh, mengapa kita tidak bisa merendah seperti itu. kalau tumbuh cinta dihatinya, bukankah itu untuk kebahagiaan anda juga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila anda bersungguh-sungguh, tentu si istri juga membantu anda merasa layak menjadi "pria sempurnanya", meskipun anda sendiri tidak sempurna. Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah...lagi-lagi nasihat. Semoga saya (penulis) tidak dianggap lancang tengah menasihati anda. Yang sebenarnya ya ikhwan, saya tuh sedang berusaha menasihati diri saya sendiri, karena memang saya belum menikah. (Abah Zaki)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari Majalah Nikah Vol. 3, No.10, Januari 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112808495859202179?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112808495859202179/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112808495859202179' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112808495859202179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112808495859202179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/telaten-membidik-calon-istri.html' title='Telaten Membidik Calon Istri'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112807968137576438</id><published>2005-09-30T19:22:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:46:06.558+08:00</updated><title type='text'>Ta'aruf Gagal Terus?</title><content type='html'>&lt;span &gt;Sumber: &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.jilbab.or.id/"&gt;&lt;span &gt;www.jilbab.or.id&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Ummu Raihanah&lt;br /&gt;Fenomena yang sering terjadi dikalangan muslim dan muslimah yang sedang mempersiapkan diri ke gerbang pernikahan biasanya akan melalui "fase ta'aruf". Suatu usaha atau ikhtiar untuk mengetahui hakikat calon pasangan kita. Bagaimana sifat dan karakternya, keluarganya, gaya hidupnya, dan seabreg-abreg "rahasia si dia" yang ingin kita ketahui dengan detail dalam ta'aruf adalah di bolehkan dalam islam. Agar mantap sebelum terjadi pinangan/lamaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, sering terjadi dari pihak wanita kurang jeli dalam memanfaatkan moment ini, banyak diantara mereka yang melihat beberapa nilai plus dari calonnya langsung mengatakan "iya", terburu-buru menjatuhkan pilihan. Dengan alasan bahwa lamaran bisa di batalkan atau dengan kata lain mudah dibatalkan maka ketika ditengah perjalanan sering kita temui "korban-korban" berjatuhan, baik dari pihak wanita maupun laki-lakinya. Banyak di pihak lelaki kecewa atau juga mungkin dari pihak laki-laki yang menarik pinangannya sehingga pihak wanita juga kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagal dalam ta'aruf? jangan terlalu bersedih dan kecewa. Tapi juga ingat dan sadari berapa banyak pilihan yang kita inginkan dari calon pasangan kita. Ingatlah,...bahwa sosok yang kita harapkan menjadi pendamping hidup kita tidak akan bisa sempurna total!! bagi pihak wanita biasanya figure yang diharapkan adalah seperti Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan bagi pihak lelaki sudah sering penulis dengar menginginkan sosok yang cerdas seperti Aisyah atau mungkin yang berhati mulia seperti Khadijah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu tinggi memasang target?? Iya,..karena itulah banyak yang mengharapkan calon pasangannya mampu begini dan begitu, harus bisa ini dan itu dan sebagainya. Sehingga sebenarnya kegagalan dalam melewati fase ta'aruf adalah karena tingginya target yang di harapkan dari calon pasangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat dengan jujur apa yang ada dalam diri kita, mengaca dan menggali kembali kemampuan, kelebihan dan kekurangannya adalah sangat perlu di perhatikan bagi muslim dan muslimah yang berniat akan menikah. Sehingga apabila memang hatinya "khalisan lillah li wajhillah" benar-benar ingin menikah karena Allah, ikhlas karena Allah semata, karena mengharapkan wajah-Nya semata maka dia tidak akan memasang target atau impian yang terlalu tinggi dan muluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sesungguhnya Allah sendiri telah menjamin hal itu bagi hamba-hamba-Nya yang baik yang shalih akan mendapatkan pasangan yang shalihah juga sebagaimana firman-Nya: &lt;span style="color:#009900;"&gt;"Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula." (An-Nuur: 26)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berfikir positif dan selalu berhusnudzan (berbaik sangka/ positive thinking- pen) kepada Allah harus selalu ada dalam pikiran kita ketika menghadapi kegagalan dalam ta'aruf. Boleh jadi ketika kita sangat menginginkan calon pasangan kita itu ternyata ia adalah bukan yang terbaik di sisi Allah Azza wa jalla, dan kemungkinan lain Allah akan menggantikannya dengan calon lain yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah renungkan pula firman-Nya berikut ini : &lt;span style="color:#009900;"&gt;"…boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahuinya." (Al-Baqarah :216)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetaplah berdoa dan berusaha sesuai dengan kemampuan kita dan janganlah terlalu memasang target yang terlalu tinggi sebagaimana penulis ungkapkan diatas agar kita tidak selalu "gagal" dalam ta'aruf .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saudariku muslimah yang masih "gagal" dalam ta'aruf perbanyaklah doa kepada-Nya. Mintalah yang terbaik bagi kehidupanmu di dunia dan akhirat nanti. Janganlah karena omongan kanan-kiri, karena usiamu yang terus bertambah membuat engkau tak sabar. Ingatlah bahwa pernikahan bukanlah hanya untuk satu hari atau dua hari dan berapa banyak tanggung jawab yang akan engkau emban setelah engkau menikah tentu akan membuatmu berfikir dengan akalmu bukan dengan perasaanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan menyerah,..wahai saudariku !! Usaha ta'aruf lagi sampai Allah pertemukan engkau dengan calon pasanganmu. Sesungguhnya IA tidak akan menyia-nyiakan amal usahamu dan juga doamu. Wallahu ‘alam bish-shawwab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sydney, june 2005&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112807968137576438?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112807968137576438/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112807968137576438' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112807968137576438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112807968137576438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/taaruf-gagal-terus.html' title='Ta&apos;aruf Gagal Terus?'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112806980784512855</id><published>2005-09-30T16:39:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:46:22.208+08:00</updated><title type='text'>Kewajiban Istri dan Suami</title><content type='html'>&lt;span &gt;Sumber: Milist Assunnah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulilah, shalawat dan salam kepada Rasulullah, keluarga dan sahabat.&lt;br /&gt;Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Surat An Nuur ayat 32&lt;/span&gt; : "dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antarakamu, dan orang-orang yang patut (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Alloh akan memampukan mereka dengan karniaNya.Dan Alloh Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Surat Al Ahzab ayat 33&lt;/span&gt; : "dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah terdahulu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya, cukuplah peringatan dari Alloh ini sebagai peneguh hati kita semua, bagi muslimah untuk tidak melalaikan tugas membesarkan dan mendidik buah hati.K alaupun sudah sekian tahun menikah, belum dikaruniai keturunan, tetaplah lebih baik bagi seorang muslimah untuk menetap dalam rumah suaminya. Dan bagi kaum pria untuk memberi peringatan bagi wanita/istrinya yang mungkin khilaf, melupakan ayat-ayat tersebut di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, seorang suami hendaknya menjadikan istrinya sebagai "muslimah yang pandai". Banyak suami yang tidak mengijinkan istrinya keluar rumah untuk kebaikannya, tetapi sang suami melupakan bahwa istrinya sangat haus ilmu. Jadi,janganlah lupa wahai para suami, untuk membekali istrimu yang sholihah dengan ilmu, terutama saat setiap hari Engkau hendak beranjak pergi meninggalkannya mencari nafkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri yang sholihah, tidak suka hanya diam berpangku tangan. Setelah semua urusan rumah tangga diselesaikan, rumah sudah rapi, wangi, beres, masakan sudah siap tersaji... tinggal menunggu sang suami tercinta pulang kerumah... apalagi yang bisa kami para istri lakukan, kalau bukan mencari ilmu agama. Jadi, tinggalkanlah istri-istrimu dengan ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggalkan ia dengan bacaan yang bermanfaat. Jika masalah uang menjadi kendala engkau membeli buku,maka dari tabungan pertamamu, belilah sebuah buku yang sarat ilmu agamanya. Jadikan buku itu sebagai pelita hari-hari istrimu. Maka, bersyukurlah jika suatuhari nanti, engkau dapati istrimu menjadi lebih pandai mengenal agamanya. Menjadi lebih dalam pengamalan ilmu agamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya istri yang perlu membuat Jadwal Tugas di Rumah, hari ini beres-beres apa, besok merapikan apa, dsb. Tetapi juga hendaknya para suami mebuat Jadwal Pelajaran apa yang hendak di'titip'kan pada istrinya hari ini, seok, lusa, dan seterusnya. Untuk kemudian dibahas bersama. Karena, bukan tidak mungkin sang suami telah lelah sepulangnya dari kerja, sehingga waktunya untuk mempelajariilmu agama menjadi berkurang; disinilah tugas istri kemudian menceritakan kepada suami, ilmu apa yang telah ia baca/ia serap pada hari-hari yang telah dilaluinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ummu Muhammad binti ahmad.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pustaka:&lt;br /&gt;Buku : Tafsir An-NuurSyaikh Abu Bakar Al Jazairi,penerbit At Tibyan, Solo.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112806980784512855?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112806980784512855/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112806980784512855' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112806980784512855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112806980784512855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/kewajiban-istri-dan-suami.html' title='Kewajiban Istri dan Suami'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112806950847564103</id><published>2005-09-30T16:36:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:46:36.070+08:00</updated><title type='text'>Akad Nikah Lewat Telepon</title><content type='html'>&lt;span &gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Oleh Lajnah ad-Daimah Lil Ifta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Pertanyaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Laajnah Ad-Da'imah ditanya : Apabila seluruh syarat dan rukun nikah terpenuhi hanya saja wali dan calon suami saling berjauhan karena tempat tinggalnya jauh, apakah boleh akad nikah dilakukan lewat telepon ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Jawaban.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Paza zaman sekarang banyak terjadi penipuan dan pemalsuan sehingga suara atau percakapanpun bisa dipalsu dan ditiru bahkan satu orang terkadang mampu menirukan beberapa percakapan atau suara baik suara laki-laki atau perempuan, anak kecil ataupun orang dewasa dan para pendengar menyangka bahwa suara-suara tersebut keluar dari banyak mulut, ternyata suara-suara tersebut hanya dari satu lisan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dalam syariat selalu besikap hati-hati, maka Lajnah melihat bahwa akad nikah dari mulai ijab, kabul dan mewakilkan lewat telepon sebaiknya tidak disahkan. Demi kemurnian syari'atdan menjaga kemaluan dan kehormatan agar orang-orang jahil dan para pemalsu tidak mempermainkan kesucian Islam dan harga diri manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Fatawa Lajnah Da'imah, 5/45 no. 1373, Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, hal 89,terbitan Darul Haq]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112806950847564103?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112806950847564103/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112806950847564103' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112806950847564103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112806950847564103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/akad-nikah-lewat-telepon.html' title='Akad Nikah Lewat Telepon'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112806916708161733</id><published>2005-09-30T16:21:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:46:50.805+08:00</updated><title type='text'>Menyentuh Istri Membatalkan Wudhu'?</title><content type='html'>&lt;span &gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;&lt;strong&gt;Pertanyaan.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : "Apakah menyentuh wanitamembatalkan wudhu?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;&lt;strong&gt;Jawaban.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yang benar adalah bahwa menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu kecuali jika keluar sesuatu dari kemaluannya, hal ini berdasarkan &lt;span style="color:#009900;"&gt;riwayat shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya :"Rasullah mencium salah seorang istrinya lalu beliau melaksanakan shalat tanpa mengulang wudhu beliau".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pada dasarnya tidak ada sesuatu apapun yang membatalkan wudhu hingga terdapat dalil yang jelas dan shahih yang menyatakan bahwa hal itu membatalkan wudhu, dan karena si pria dianggap telah menyempurnakan wudhunya sesuai dengan dalil syar'i. Sesuatu yang telah ditetapkan dalil syar'i tidakbisa dibantah kecuali dengan dalil syar'i pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditanyakan bagaimana dengan firman Allah yang berbunyi : &lt;span style="color:#009900;"&gt;"aw-laamastumu an-nisaa'a" artinya : "atau menyentuh perempuan" [An-Nisaa :45, Al-Ma'idah : 6]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jawabnya adalah :&lt;span style="color:#009900;"&gt; Yang dimaksud dengan menyentuh dalam ayat ini adalah bersetubuh, sebagaimana disebutkan dalam riwayat shahih dari Ibnu Abbas. [Fatawa wa Rasa'il Asy-Syaikh Utsaimin 4/201]&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, hal 18-19 Darul Haq, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan]&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;Tambahan dari Milist Assunnah:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki menyentuh wanita tanpa syahwat atau sebaliknya adalah tidak membatalkan wudhu.&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan riwayat dari Aisyah Radiyallahu anha, bahwa ia berkata: &lt;span style="color:#009900;"&gt;"Dan ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallamsedang shalat, aku berada terbentang dihadapannya seperti terbentangnya jenazah. Maka apabila beliau hendak bersujud, beliau menyolekku, maka aku lalu melipat kakiku" (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian satu riwayat lagi dari Aisyah Radhiyallahuanha, bahwa ia berkata: &lt;span style="color:#009900;"&gt;"Pada suatu malam aku kehilangan Nabi Shallallahualaihi wa sallam, maka aku mencarinya dengan tanganku, kemudian tanganku mengenai kedua kaki beliau yangsedang bertumpu dalam beliau bersujud. (HR. Muslim danNasa'i dalam Shahih Muslim 3/203 dan An-Nasa'i1/101)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dua hadist diatas, terlihat bahwa jika bersentuhannya tidak dengan syahwat, sehingga tidak membatalkan wudhu.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112806916708161733?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112806916708161733/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112806916708161733' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112806916708161733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112806916708161733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/menyentuh-istri-membatalkan-wudhu.html' title='Menyentuh Istri Membatalkan Wudhu&apos;?'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112806849773017337</id><published>2005-09-30T16:18:00.001+08:00</published><updated>2010-01-14T08:41:15.914+08:00</updated><title type='text'>Seputar Hukum KB</title><content type='html'>&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;Pertanyaan.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Seorang ikhwan bertanya hukum KB tanpa udzur, dan adakah Udzur yang membolehkannya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;Jawaban.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Para ulama telah menegaskan bahwa memutuskan keturunan sama sekali adalah haram, karena hal tersebut bertentangan dengan maksud Nabi mensyari'atkan pernikahan kepada umatnya, dan hal tersebut merupakan salah satu sebab kehinaan kaum muslimin. Karena jika kaum muslimin berjumlah banyak, (maka hal itu) akan menimbulkan kemuliaan dan kewibawaaan bagi mereka. Karena jumlah umat yang banyak merupakan salah satu nikmat Allah kepada Bani Israil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;"Artinya : Dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar" [Al-Isra : 6]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;"Artinya : Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu" [Al-A'raf : 86]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataanpun menguatkan pernyataan di atas, karena umat yang banyak tidak membutuhkan umat yang lain, serta memiliki kekuasaan dan kehebatan di depan musuh-musuhnya. Maka seseorang tidak boleh melakukan sebab/usaha yang memutuskan keturunan sama sekali. Allahumma, kecuali dikarenakan darurat,seperti :&lt;br /&gt;[a] Seorang Ibu jika hamil dikhawatirkan akan binasa atau meninggal dunia, maka dalam keadaan seperti inilah yang disebut darurat, dan tidak mengapa jika si wanita melakukan usaha untuk mencegah keturunan. Inilah dia udzur yang membolehkan mencegah keturunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b] Juga seperti wanita tertimpa penyakit di rahimnya, dan ditakutkan penyakitnya akan menjalar sehingga akan menyebabkan kematian, sehinggarahimnya harus diangkat, maka tidak mengapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Fatawa Al-Mar'ah Al-Muslimah Juz 2 hal. 974-975]&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/"&gt;http://www.almanhaj.or.id/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112806849773017337?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112806849773017337/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112806849773017337' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112806849773017337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112806849773017337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/seputar-hukum-kb.html' title='Seputar Hukum KB'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112806735019805370</id><published>2005-09-30T15:51:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:48:25.709+08:00</updated><title type='text'>9 Kesalahan Pebisnis Pemula</title><content type='html'>&lt;span &gt;Banyak orang yang tertarik berwirausaha dan segera mencobanya. Namun akhirnya banyak yang tak bertahan lama dan jadi patah semangat. Karenanya sebagai pebisnis pemula perlu menghindari hal-hal di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;1. Kaya ide, miskin keberanian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Resep sukses para pebisnis adalah tidak ragu dalam memulai ide usaha. Setelah cocok dengan satu ide usaha, maka lakukanlah. Jika ditunda maka kesempatan akan hilang. Jangan khawatir soal keterampilan yang diperlukan. Jika ada niat, maka anda akan terampil dalam usaha itu dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;2. Kurang memiliki "modal" sebagai entrepreneur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Modal di sini menurut Purdi E. Chandra adalah berani mimpi, berani mencoba, berani merantau, berani sukses dan berani gagal. Kesuksesan dan kegagalan usaha adalah pelajaran berharga buat enterpreuner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;3. Ingin cepat mengharapkan hasil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jangan berharap terlalu cepat untuk mengharapkan hasil dari usaha yang baru dirintis. Hasilnya mungkin baru dapat kita rasakan beberapa bulan yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;4. Bingung menentukan usaha yang akan dijalani.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika anda kreatif bisa jadi anda bisa menjual limbah kertas koran menjadi barang berharga yang bisa diekspor seperti Lucy Gani Wijaya dari Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;5.Tidak memiliki strategi rencana pemasaran dan penjualan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dengan rencana pemasaran anda dapat memfokuskan sasaran produk atau jasa yang ingin anda jual. Sedangkan rencana penjualan adalah peta nyata mengenai gambaran dari mana hasil penjualan datang, bagaimana caranya dan dari siapa. Dengan strategi ini usaha jadi bisa dikendalikan sesuai tujuan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;6. Tidak mengenali konsumen.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita sudah cukup mengenali pelanggan produk atau jasa kita? Pebisnis yang baik harus tahu apa keinginan konsumen saat ini dan mendatang, bagaimana pola beli dan bagaimana konsumen memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Dengan pengetahuan ini anda bisa berinovasi dan membuat produk yang bersaing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;7. Mencampuradukkan modal usaha dan keuntungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah, kita harus membuat kas keuangan yang cukup baik walau sifatnya mungkin masih sederhana. Jangan lantas menggunakan modal dan keuntungan hasil usaha untuk kebutuhan kita sehari-hari. Jika anda terpaksa mengambil dari kas, maka anggaplah itu pinjaman yang harus segera dilunasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;8. Senang berbisnis sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika anda memiliki niat mulia untuk membuka lapangan pekerjaan, kenapa tidak berani membayar tenaga orang untuk mengerjakan sebagian tanggung jawab anda jika usaha anda mulai berkembang? Hal ini menguntungkan karena anda bisa memikirkan memperluas bidang usaha dengan ide-ide anda yang lain tanpa terbebani secara teknis bisnis yang sudah anda mulai lebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;9. Kurang sungguh-sungguh dalam berbisnis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hasil yang anda terima sepadan dengan usaha yang telah anda berikan. Nah, jangan harap hasil yang anda terima akan besar jika anda mengerjakan bisnis anda dengan setengah hati. Kesungguhan adalah salah satu kunci kesuksesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: ummigroup.co.id&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112806735019805370?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112806735019805370/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112806735019805370' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112806735019805370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112806735019805370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/9-kesalahan-pebisnis-pemula.html' title='9 Kesalahan Pebisnis Pemula'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112806658835440816</id><published>2005-09-30T15:25:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:48:40.869+08:00</updated><title type='text'>Memasak Bagi Wanita</title><content type='html'>&lt;span &gt;Wanita diberi peran sebagai isteri dan ibu. Peran utamanya disektor domestik dengan mengurus rumah tangga dan anak-anak. Memasak adalah pekerjaan yang akrab dengan wanita. Pekerjaan yang satu ini kelihatannya sepele tapi perlu juga diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;*** Kebanggan Wanita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak ada salahnya jika wanita tidak bisa memasak. Tetapi bagi wanita yang bisa memasak akan mendapat 'nilai' tersendiri. Seperti ibu Maemunah, seorang pengajar, merasa bersyukur punya keahlian memasak. Sehingga masakannya menjadi makanan favorit suami dan anak-anak. 'Sebelum berangkat mengajar saya selalu menyempatkan diri untuk memasak. Berangkat pagi tidak menjadi soal. Alhamdulillah selama ini saya bisa me-manage waktu, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat masakan yang enak ternyata bukan saja kebanggaan seorang wanita yang sudah berumah tangga tapi muslimah yang masih lajang pun setuju. 'Di kerluarga aku dikenal jago masak, di rumah kalo aku yang masak semua mengakui enak dan Alhamdulillah selalu habis,' kata seorang muslimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;*** Perlu Latihan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu ibu Siti Rahma, juga seorang pengajar, memberi saran, 'Kalau bisa setiap wanita bisa memasak. Apalagi kalau sudah berumah tangga. Suami kita sudah biasa merasakan masakan ibunya. Kalau istri tidak bisa memasak, nanti suami lebih suka masakan ibunya. Kita bisa malu khan? Lagian masa ya… kita beli terus di warung,' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang untuk bisa membuat masakan yang enak perlu latihan dan pengalaman. Apalagi untuk masakan yang banyak bumbunya. Untuk menentukan komposisi bumbu yang pas perlu latihan. Kadang kita terlalu banyak satu bumbu rasanya jadi gak karuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;*** Kemampuan Dasar Wanita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memasak adalah kemampuan dasar yang perlu dimiliki oleh wanita. Seperti halnya kemampuan bela diri yang harus dimiliki oleh laki-laki. Hanif, seorang mahasiswa ketika ditanya bagaimana jika nanti istrinya gak bisa masak, pria lajang ini menjawab dengan singkat, 'beli aja diwarung,' katanya. Lain lagi pendapat Alan, pria yang baru menikah satu setengah tahun ini berpendapat. Ya kalau bisa kita beri motivasi untuk terus belajar memasak. Kalau beli terus di warung bisa mengganggu perekonomian rumah tangga. Disamping rasanya juga monoton dan tentu saja lebih mahal harganya,' ungkapnya mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa pendapat di atas, seolah ada kesepakatan, belum 'lengkap' bila seorang wanita tidak bisa memasak. Jadi bagi wanita yang belum bisa memasak bisa belajar mulai dari sekarang. Tidak ada kata terlambat. Paling tidak memasak nasi dan sayur yang sederhana. Meski ada cara yang mudah dan praktis dengan membeli makanan siap saji. Tetapi perlu diingat biasanya masakan siap saji mengandung bumbu pengawet yang berbahaya bagi tubuh kita. Disamping kandungan gizinya yang sudah berkurang. Bagi wanita yang sudah berkeluarga, akan lebih indah dan bermakna, kita melakukannya dengan paradigma ibadah. Selamat belajar memasak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.kotasantri.com/"&gt;&lt;span &gt;http://www.kotasantri.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112806658835440816?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112806658835440816/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112806658835440816' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112806658835440816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112806658835440816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/memasak-bagi-wanita.html' title='Memasak Bagi Wanita'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112806510688007872</id><published>2005-09-30T15:18:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:48:57.036+08:00</updated><title type='text'>Hukum Nasyid atau Lagu-lagu Bernafaskan Islam</title><content type='html'>&lt;span &gt;dari &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.fatwa-ulama.com/"&gt;&lt;span &gt;www.fatwa-ulama.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kategori: Hiburan&lt;br /&gt;Ulama: Lajnah Daimah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;strong&gt;Pertanyaan:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kami mengetahui tentang haramnya nyanyian atau lagu dalam bentuknya yang ada pada saat ini karena di dalamnya terkandung perkataan-perkataan yang tercela atau perkataan-perkataan lain yang sama sekali tidak mengandung manfaat yang diharapkan, sedangkan kami adalah pemuda muslim yang hatinya diterangi oleh Allah dengan cahaya kebenaran sehingga kami harus mengganti kebiasaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kami memilih untuk mendengarkan lagu-lagu bernafaskan Islam yang di dalamnya terkandung semangat yang menggelora, simpati dan lain sebagainya yang dapat menambah semangat dan rasa simpati kami. Nasyid atau lagu-lagu bernafaskan Islam adalah rangkaian bait-bait syair yang disenandungkan oleh para pendakwah Islam(semoga Allah memberi kekuatan kepada mereka) yang diekspresikan dalam bentuk nada seperti syair 'Saudaraku' karya Sayyid Quthub -rohimahullah-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa hukum lagu-lagu bernafaskan Islam yang di dalamnya murni terkandung perkataan yang membangkitkan semangat dan rasa simpati, yang diucapkan oleh para pendakwah pada masa sekarang atau pada pada masa-masa lampau, di mana lagu-lagu tersebut menggambarkan tentang Islam dan mengajak para pendengarnya kepada keislaman. Apakah boleh mendengarkan nasyid atau lagu-lagu bernafaskan Islam tersebut jika lagu itu diiringi dengan suara rebana (gendang)? &lt;span style="color:#009900;"&gt;Sepanjang pengetahuan saya yangterbatas ini, saya mendengar bahwa Rasulullah shollallaahu'alaihi wasallam-membolehkan kaum muslimin untuk memukul genderang pada malam pesta pernikahan sedangkan genderang merupakan alat musik yang tidak ada bedanya dengan alatmusik lain? Mohon penjelasannya dan semoga Allah memberi petunjuk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;strong&gt;Jawaban:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lembaga Fatwa menjelaskan sebagai berikut: Anda benar mengatakan bahwa lagu-lagu yang bentuknya seperti sekarang ini hukumnya adalah haram karena berisi kata-kata yang tercela dan tidak ada kebaikan di dalamnya, bahkan cenderung mengagungkan nafsu dan daya tarik seksual, yang mengundang pendengarnya untuk berbuat tidak baik. Semoga Allah menunjukkan kita kepada jalan yang diridlaiNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda boleh mengganti kebiasaan anda mendengarkan lagu-lagu semacam itu dengan nasyid atau lagu-lagu yang bernafaskan Islam karena di dalamnya terdapat hikmah, peringatan dan teladan (ibrah) yang mengobarkan semangat serta ghirah dalam beragama, membangkitkan rasa simpati, penjauhan diri dari segala macam bentuk keburukan. Seruannya dapat membangkitkan jiwa sang pelantun maupun pendengarnya agar berlaku taat kepada Allah -subhanahu wata'ala-, merubah kemaksiatan dan pelanggaran terhadap ketentuanNya menjadi perlindungan dengan syari'at serta berjihad di jalanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi tidak boleh menjadikan nasyid itu sebagai suatu yang wajib untuk dirinya dan sebagai kebiasaan, cukup dilakukan pada saat-saat tertentu ketika hal itu dibutuhkan seperti pada saat pesta pernikahan, selamatan sebelum melakukan perjalanan di jalan Allah (berjihad), atau acara-acara seperti itu. Nasyid ini boleh juga dilantunkan guna membangkitkan semangat untuk melakukan perbuatanyang baik ketika jiwa sedang tidak bergairah dan hilang semangat. Juga pada saat jiwa terdorong untuk berbuat buruk, maka nasyid atau lagu-lagu Islami tersebut boleh dilantunkan un-tuk mencegah dan menghindar dari keburukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun lebih baik seseorang menghindari hal-hal yang membawanya kepada keburukan dengan membaca al-Qur'an, mengingat Allah dan mengamalkan hadits-hadits Nabi, karena sesungguhnya hal itu lebih bersih dan lebih suci bagi jiwa serta lebih menguatkan dan menenangkan hati, sebagaimana firman Allah,&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc6600;"&gt;"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al Qur'an yang serupa(mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orangyang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendakiNya. Dan barangsiapa disesatkan Allah, maka tidak adaseorangpun pemberi petunjuk baginya." (Az-Zumar: 23)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lain Allah berfirman, &lt;span style="color:#cc6600;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#cc6600;"&gt;Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingatAllah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.Orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik." (Ar-Ra'd: 28-29)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah menjadi kebiasaan para sahabat untuk menjadikah al-Qur'an dan as-Sunnah sebagai penolong mereka dengan cara menghafal, mempelajari serta mengamalkannya. Selain itu mereka juga memiliki nasyid-nasyid dan nyanyian yang merekalantun-kan seperti saat mereka menggali parit Khandaq, membangun masjid-masjiddan saat mereka menuju medan pertempuran (jihad) atau pada kesempatan lain dimana lagu itu dibutuhkan tanpa menjadikannya sebagai syiar atau semboyan, tetapihanya dijadikan sebagai pendorong dan pengobar semangat juang mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan genderang dan alat-alat musik lainnya tidak boleh dipergunakan untukmengiringi nasyid-nasyid tersebut karena Nabi -shollallaahu'alaihi wasallam- dan para sahabatnya tidak melakukan hal itu. Semoga Allah menunjukkan kita kepadajalan yang lurus. Shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Fatawa Islamiyah, al-Lajnah ad-Da'imah, (4/532-534)Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2, penerbit Darul Haq.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112806510688007872?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112806510688007872/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112806510688007872' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112806510688007872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112806510688007872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/hukum-nasyid-atau-lagu-lagu.html' title='Hukum Nasyid atau Lagu-lagu Bernafaskan Islam'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112805880060569432</id><published>2005-09-30T13:10:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:49:27.009+08:00</updated><title type='text'>Mensiasati Rumah Mungil</title><content type='html'>&lt;span &gt;Rumah yang mungil? kenapa menggunakan istilah mungil? bukan kecil?&lt;br /&gt;Rumah mungil adalah rumah kecil yang tertata rapi dan penuh dengan perhitungan dan proporsional dalam pengaturannya. Mungkin anda semua pernah melihat sebuah rumah walaupun kecil namun terasa sangat menyenangkan dan luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;strong&gt;Berikut ini ada beberapa tips yang bisa terapkan:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;1. Jangan menempatkan sofa pada ruang tamu anda. Gunakan kursi kayu, selain lebih mudah dipindahkan juga lebih rapih dan simple. Penggunaan bahan kayu akan menampilkan kesan yang unik. Untuk mengatasi kerasnya struktur kayu, gunakan bantal kecil sebagai sandaran. Gunakan pula jendela yang memanjang pada ruang tamu,dengan perpaduan korden yang sesuai akan menimbulkan kesan lebih nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Gunakan pintu treil (gaya jepang) sehingga tidak memakan banyak ruang ketika dibuka dan ditutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pilih lemari yang memanjang keatas, tidak melebar, sehingga terkesan lebih rapi, dan tidak penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dalam memilih perabot, usahakan memilih perabot yang multi fungsi, selain tidak memakan tempat juga menekan pengeluaran pembelian perabot. Contoh: meja tamu yang memiliki laci, laci bisa di fungsikan sebagai tempat penyimpanan mainan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Letakkan buku pada lemari tempel pada dinding, selain lebih rapi juga lebih praktis saat anda membutuhkannya (perhatikan kekuatan pakunya, pastikan benar2 kuat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Jangan terlalu banyak menggunakan sekat pembatas yang permanen, jika anda menginginkan sekat pembatas bisa menggunakan korden yang digantung dari atas, pembedaaan warna lantai, lemari pajangan (dengan isinya tentu) atau bisa juga menggunakan rotan anyaman. Sekat yang tidak permanen memungkinkan anda memiliki ruang yang luas saat diperlukan, misal pada saat pertemuan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Gunakan perabot yang mudah dilipat, misal kasur lipat untuk tamu, meja seterika, kursi tambahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Untuk ruang tidur anak, gunakan tempat tidur susun, jangan yang dibuka (ditarik) kesamping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Gabung ruang makan dengan dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Gugunakan cat bergradasi, 2 warna. seperti: biru dan biru muda, krem dengan coklat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Beri cahaya ruangan sesuai dengan luas rumah, jangan terlalu redup maupun terang. Perhatikan kondisi ruangan saat siang maupun malam. Sangat penting jika pada siang hari rumah mendapatkan sinar yang cukup, selain menghemat listrik, juga menghemat lampu. Jika tidak memungkinkan menambah jendela, anda bisa menggunakan genteng bening (kaca) yang akan memberikan sinar cukup dalam ruangan anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Jika anda tidak memiliki taman, hanya teras yang mungil, anda dapat mensiasatinya dengan menggunakan tanaman dalam pot yang digantung. bisa juga dengan menaruh tanaman pada sudut ruangan, perhatikan genangan airnya, jangan sampai menjadi rumah nyamuk. Jangan tempatkan tanaman pada kamar tidur, kurang baik bagi kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Pastikan sirkulasi udara baik.&lt;br /&gt;Cara mengetesnya: ketika anda pergi dan masuk kedalam rumah, jangan dahulu membuka setiap jendela, tetapi masuk kesetiap ruangan dan hirup udaranya, jika terasa pengap, maka sebaiknya anda menambah ventilasi udara lagi. Ingat ketika anda tidur, kondisi rumah akan sama seperti ketika anda tinggalkan (terkunci dan tertutup rapat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah tidak haruslah besar, tetapi haruslah nyaman. Dan kepintaran kita sangat berpengaruh dalam menentukan tingkat kenyamananya. Selain itu penuhi pula rumah dengan kasih sayang dan pengagungan terhadap Allah, sehingga suasana rumah akan terasa sangat menyenangkan dan setiap anggota keluarga akan sangat merindukan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambil dari &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.myquran.org/forum/archive/index.php/t-5513.html"&gt;&lt;i&gt;&lt;span &gt;sini&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112805880060569432?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112805880060569432/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112805880060569432' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112805880060569432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112805880060569432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/mensiasati-rumah-mungil.html' title='Mensiasati Rumah Mungil'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112805376120586430</id><published>2005-09-30T12:02:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T13:03:32.815+08:00</updated><title type='text'>Nasihat (2) Ibu Bijak Untuk Pasutri</title><content type='html'>&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;strong&gt;Wahai saudaraku, para istri&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kesalahan seorang istri atau mengikuti hawa nafsu atau terlalu cemburu atay perasaan was-was berasal dari syaithan. semua itu bersumber dari lemahnya iman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala seningga rumah tangga sang suami berubah menjadi berantakan bagaikan neraka dan semua pihak menyesali pernikahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa indahnya bila anda meluruskan hati, akhlak, dan tabiat ketika bergaul bersama suami dan kerabat suami anda. Betapa indahnya bila anda selalu menggunakan akal sehat dan kesabaran dalam setiap menghadapi urusan rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa mulianya ketika seorang istri mampu menjadi pendamping setia bagi sang suami dan betapa agung kedudukannya dihati sang suami bahkan ia mampu memikat perasaan sang suami ketika ia berkata kepadanya "Aku mendengar dan menaati."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga saudariku muslimah mendapat taufik dan hidayah dengan etika Islam, mau menyempurnakan akal pikiran dengan ilmu dan ma'rifah dan menyembuhkan hatinya dengan keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sehingga kehidupan penuh dengan suasana bahagia dan hidup bersama sang suami dengan penuh ketenangan dan ketentraman serta kegembiraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para istri, tunaikanlah kewajibanmu terhadap suamimu niscaya engkau akan mendapat kasih sayang dan cintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasihat ini saya sampaikan kepada saudara-saudara seiman baik yang sudah menikah maupun yang belum menikah, mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan keikhlasan kepada saya hanya untuk mencari wajah allah Subhanahu wa Ta'ala dan semoga Allah memberikan pula rahmatNya kepada kita semua yang senantiasa berusaha untuk meniti jalanNya yang lurus sehingga kita termasuk golongan yang selamat baik dalam rumah tangga, keluarga, agama, dunia, maupun akhirat kita. (Ummu Ahmad Rifqi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji'&lt;br /&gt;- Minhajul Muslimin, Abu bakar Jaabir Al Jazairi&lt;br /&gt;- Fiqhuz Zawaj fi Dhau'il Kitab was Sunnah, Syaikh Shalih bin Ghanim as Sadlan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah Nabila Edisi09/Tahun1/februari 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112805376120586430?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112805376120586430/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112805376120586430' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112805376120586430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112805376120586430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/nasihat-2-ibu-bijak-untuk-pasutri.html' title='Nasihat (2) Ibu Bijak Untuk Pasutri'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112805132474623165</id><published>2005-09-30T11:24:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T13:02:45.516+08:00</updated><title type='text'>Nasihat (1) Ibu Bijak Untuk Pasutri</title><content type='html'>&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;strong&gt;Wahai saudaraku, para suami&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya anda sebagai seorang suami memegang kendali pernikahan dan perjanjian yang berat, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc6600;"&gt;"Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat." [An Nisa': 21]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda telah memegang tanggung jawab, amanat dan beban rumah tangga sementara hubungan pernikahn merupakan kemuliaan bagi laki-laki dan perempuan maka secara fitrah dan naluri masing-masing memiliki tugas hidup agar kehidupan rumah tangga berjalan normal dan lurus sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc6600;"&gt;"Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian harta mereka." [An Nisa': 34]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc6600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Jadikan kendali wanita tetap ditanganmu, dan jangan bersikap lemah serta tidak berwibawa sehingga wanita menghinakanmu, memperbudakmu dan meremehkanmu amka kehidupan rumah tanggamu bagaikan neraka. Janganlah anda menghinanya dan mendzaliminya karena sikap semena-mena terhadap orang yang lemah menunjukkan kelemahan pribadi anda. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Janganlah menganggapnya seperti barang tak berharga dan terimalah kebaikan yang telah diberikan kepadamu dengan senang hati dan bersabarlah atas barbagai kekurangannya serta jangan berangan-angan kesempurnaan darinya karena dia diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dari tulang rusuk yang bengkok sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu'alaihi wa Sallam &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="color:#cc6600;"&gt;"Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk yang tidak akan bisa lurus bersamamu diatas satu jalan, jika kamu menikmatinya maka kamu menikmatinya dalam kondisi bengkok, namun jika kamu ingin meluruskannya maka boleh jadi patah dan patahnya adalah talak." [HR Bukhori-Muslim]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah wasiat Rasulullah Shalallahu'alaihi wa Sallam bagimu. Jabir telah meriwayatkan ketika Haji Wada' bahwa Rasulullah Shalallahu'alaihi wa Sallam telah bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc6600;"&gt;"Bertakwalah kepada Allah dalam urusan perempuan, karena kalian mengambil mereka dengan amanah Allah dan menghalalkan kemaluannya dengan kalimat allah. Maka kamu berhak atasnya untuk tidak memasukkan ke rumahmu orang yang kamu benci dan bila ia melakukan itu maka pukullah dengan pukulan tanpa melukainya. dia mempunyai hak atas kalian dalam nafkah dan pakaian dengan cara yang ma'ruf. [HR Muslim]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Dari abu Hurairah Radhiallahu'anhu berkata bahwa Rasulullah Shalallahu'alaihi wa Sallam bersabda, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="color:#cc6600;"&gt;"Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah orang yang paling baik akhlaqnya dan sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik kepada istrinya. [HR Ahmad dan Tirmidzi dan beliau berkata bahwa hadist ini adalah hasan shahih]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan lain beliau Shalallahu'alaihi wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc6600;"&gt;" Segala sesuatu permainan yang dilakukan oleh seorang muslim dianggap sia-sia kecuali bermain dengan panah, meatih kuda dan bercanda dengan istrinya maka semua itu termasuk dri kebenaran. [HR Ibnu Majah dan Tirmidzi dengan sanad hasan]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;(Ummu Ahmad Rifqi)&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah Nabila Edisi09/Tahun1/Februari2005]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#cc6600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112805132474623165?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112805132474623165/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112805132474623165' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112805132474623165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112805132474623165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/nasihat-1-ibu-bijak-untuk-pasutri.html' title='Nasihat (1) Ibu Bijak Untuk Pasutri'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112805062382474416</id><published>2005-09-30T11:02:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:47:45.996+08:00</updated><title type='text'>Figur Seorang Suami</title><content type='html'>&lt;span &gt;Bagaimana dengan keteladanan kita, Rasulullah Shalallahu'alaihi wa Sallam sebagai seorang suami? Tentu saja beliau layak menjadi figur teladan para suami. Walau beliau Shalallahu'alaihi wa Sallam memiliki kedudukan yang mulia dan derajat yang tinggi, acapkali turut mengerjakan dan membantu pekerjaan rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang diriwayatkan oleh &lt;em&gt;Imam Ahmad Rahimahullah dan Imam at Tirmidzi Rahimahullah&lt;/em&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span &gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Aisyah Radhiallahu'anha pernah ditanya, 'Apakah yang dilakukan Rasulullah Shalallahu'alaihi wa Sallam didalam rumah? Ia menjawab, 'Beliau adalah seorang manusia biasa. Beliau menambal pakaiannya sendiri, memerah susu, dan melayani diri beliau sendiri.'&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dalam pergaulan, beliau merupakan pribadi yang menyenangkan semua pihak dari anak kecil hingga orang tua. Beliau senantiasa tersenyum, luhur budi pekerti lagi rendah hati, beliau bukanlah orang yang kasar, tak suka berteriak, bukan tukang cela, bahkan dalam perkara yang banyak orang anggap sepele, beliaupun ternyata tak pernah mencela makanan yang tak disukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau Rasulullah Shalallahu'alaihi wa Sallam pun ternyata jauh dari kesan yang dibayangkan oleh banyak orang seperti suami yang selalu serius, disiplin, dan tegas. Padahal beliau adalah suami yang paing lembut dan seorang periang. Sikapnya terhadap istri beliau terkadang dengan wajah yang riang penuh sendau gurau jauh dari kesan formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau demikian, Beliau Shalallahu'alaihi wa Sallam tetap berwibawa dihadapan para istrinya. Kelembutan, bercanda, berlapang dada dari kemarahan, tak menghalangi beliau untuk bersikap tegas dan disiplin terhadap para istrinya dalam kondisi yang tidak sesuai. Ketika para istri beliau menuntut terlalu banyak dalam hal nafkah dan perhiasan, maka sikap beliau ketika itu marah dengan kemarahan yang halus dimana beliau bertekad untuk tidak mendekati mereka selama 1 bulan seperti yang dijelaskan oleh Al Quran dalam surat &lt;em&gt;Al-Ahzab: 28-29&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, "Jika kamu seklaian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki keridhaan Allah dan RasulNya serta kesenangan di negri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu beliau sebagai suami tentu saja kesetiaannya tak ada duanya. Beliau Shalallahu'alaihi wa Sallam tetap menjaga kesetiaan kepada Khadijah ketika masih hidup bahkan hingga wafat. Ia senantiasa memuji istrinya dalam banyak kesempatan dan menyambung hubungan terhadap orang yang memiliki hubungan dengan Khadijah tatkala masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah Nabila Edisi 09/Tahun1/Februari 2005]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112805062382474416?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112805062382474416/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112805062382474416' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112805062382474416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112805062382474416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/figur-seorang-suami.html' title='Figur Seorang Suami'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112804815650344698</id><published>2005-09-30T10:28:00.002+08:00</published><updated>2010-01-14T08:39:47.052+08:00</updated><title type='text'>Keteladanan Seorang Ibu</title><content type='html'>&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;em&gt;Betapa ketegaran dan keberaniannya patut diacungi jempol walau usianya masih muda tatkala dipaksa agar buka rahasia.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika masih kecil seperti yang dijelaskan dalam&lt;em&gt; &lt;span style="color:#009900;"&gt;Sirah Ibnu Hisyam I/487&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, ia telah menghadapi gangguan dari musuh Allah subhanahu wa Ta'ala. Abu Jahal datang kepadanya untuk memaksa agar memberitahukan dimana tempat persembunyian ayahnya. Akan tetapi beliau tetap menjaga tanggung jawab karena satu kata saja yang keluar dari mulutnya bisa menyebabkan bahaya besar, maka beliau hanya diam dan tidak ada kalimat yang keluar dari mulutnya selain "Aku tidak tahu." Walau akhirnya ia ditampar sangat keras oleh Abu Jahal hingga jatuh anting-antingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Sang ayah berhjrah seperti dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dari Ibnu Hisyam dalam &lt;em&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Siyaru A'lam an Nubala' II/288&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; dengan membawa seluruh hartanya datang Abu Quhafah, kakek beliau yang telah hilang penglihatannya dengan berkata, 'Sesungguhnya ayahmu itu hendak mencelakakan kalian dengan membawa seluruh harta dan jiwa' maka tiadalah yang diperbuat oleh seorang gadis yang suci dan pemberani tersebut melainkan berkata 'Jangan begitu...beliau telah meninggalkan bagi kita harta yang baik dan banyak.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia mengambil batu-batu dan beliau letakkan di lubang dinding dengan ditutupi kain dan beliau pegang tangan kakeknya lalu beliau sentuhkan tangan kakeknya pada kain tersebut sambil berkata 'inilah yang ayah tinggalkan buat kita.' Abu Quhafah berkata 'Jika dia telah meninggalkan bagi kalian barang-barang ini ya sudah.' dengan hal itu ia telah meredam kemarahan sang kakek, menenangkan pikiran dan menentramkan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia juga telah memberikan contoh hidup dan teladan yang baik dalam hal bersabar menghadi kesulitan hidup dan serba kekurangan, senantiasa berusaha taat kepada suami dan menjaga keridhaan suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diriwayatkan oleh Al-Bukhori dalam &lt;em&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;an Nikah VI/156&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; dan Muslim dalam &lt;em&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;as Salam No. 2182&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, 'Zubeir menikahiku sedangkan ia tidak memiliki apa-apa kecuali kudanya. Akulah yang mengurus dan memberinya makan, aku pula yang mengairi pohon kurma, mencari air, dan mengadon roti. Aku juga yang mengusung kurma yang dipotong oleh Rasulullah Shalallahu'alaihi wa Sallam dari tanahnya Zubeir. Sampai akhirnya, Abu Bakar ayah beliau mengirim pembantu sehingga saya merasa cukup untuk mengurusi kuda, seakan-akan ayah telah membebaskanku.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah kesabaran itu adalah mendapatkan nikmat yang banyak, akan tetapi Ummu Abdillah al Quraisyiyah at Tamiyah yang akrab dipanggil Asma' binti Abu Bakar tidak sombong akan kekayaannya. bahkan beliau adalah seorang dermawan dan pemurah serta tidak suka menyimpan sesuatu untuk besok. Apabila sakit, beliau menunggu hingga sembuh kemudian beliau memerdekakan semua budak yang ia miliki serta berkata kepada anak-anaknya, 'Berinfaq dan bersedekahlah dan jangan kalian menunggu banyaknya harta.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menjelang usia 100 tahun, Abdullah putra beliau meminta pertimbangannya tatkala Hajjaj mengepung Mekkah 'Wahai ibu sungguh orang-orang telah menghinaku bahkan keluargaku dan anakku, sehingga tiada lagi yang bersamaku melainkan sedikit, mereka tidak sanggup melawan sedangkan ada kaum yang menawariku dengan dunia, bagaimana pendapat ibu?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun engkau wahai anakku, kata Asma', jika mengetahui bahwa engkau diatas kebenaran dan mengajak kepada kebenaran, maka kerjakanlah. Sungguh telah terbunuh sahabat-sahabatmu sedangkan tidak mungkin engkau dipermainkan oleh anak-anak Bani Umayah. Jika engkau hanya menginginkan dunia, maka seburuk-buruk hamba adalah engkau. Berarti engkau telah membinasakan dirimu sendiri dan orang yang berperang bersamamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala Asma' menjumpai Abdullah untuk mengucapkan perpisahan dan merangkulnya, beliau memegang baju besi yang dikenakan anaknya dan berkata 'Apa ini wahai Abdullah, apa yang kamu kehendaki? Maka ditanggalkanlah baju besi tersebut dan keluarlah Abdullah untuk beperang dan beliau senantiasa teguh dan berani dalam menyerang musuh hingga baliau terbunuh. Hajjaj memerintahkn pasukannya agar mayat beliau disalib. Kemudian menurut suatu riwayat, Hajjaj mendatangi Asma' dan berkata 'Bagaimana pendapatmu tentang apa yang telah aku perbuat terhadap anakmu wahai Asma'?' Asma' menjawab dengan tenang 'Engkau telah merusak dunianya, namun ia telah merusak akhiratmu.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asma' wafat di Mekkah beberapa hari setelah terbunuhnya putra beliau Abdullah. Inilah keteladanan seorang ibu yang patut menjadi contoh bagi para wanita sekarang. Mendidik anaknya memjadi pemberani membela agama. Wallahu'alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah Nabila Edisi 09/Tahun1/Februari 2005]&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112804815650344698?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112804815650344698/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112804815650344698' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112804815650344698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112804815650344698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/keteladanan-seorang-ibu.html' title='Keteladanan Seorang Ibu'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112800120792011554</id><published>2005-09-29T21:27:00.000+08:00</published><updated>2005-09-29T21:45:56.433+08:00</updated><title type='text'>Resensi: Menanti Buah Hati dan Hadiah Untuk Yang Dinanti</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Oleh Abu Abdurrahman Rizal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#3366ff;"&gt;&lt;strong&gt;Resensi Kitab&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;----------------&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Judul : Menanti Buah Hati dan Hadiah Untuk Yang Dinanti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Penulis : Abdul Hakim bin Amir Abdat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Penerbit : Pustaka Darul Qolam Jakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Jumlah hal. : xii + 442 hal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ukuran buku : 17cm x 25,5 cm&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Cover : Super LuxHarga : Rp. 90.000&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kitab ini membahas sebagian besar ahkaamul maulud (hukum-hukum anak) dengan pengambilan dari dua dasar hukum Islam yaitu Al Qur'an dan hadits-hadits yang sah (shahih atau hasan) bersama perkataan ahli ilmu dari para Shahabat, Tabi'in, Tabi'ut Tabi'in dan Imam Yang Empat dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Datangnya ide untuk menulis buku ini oleh penulis, ketika istri penulis tengah mengandung anak pertama, ketika sang penulis menanti kedatangan si Buah Hati yang pertama yang bernama Unaisah. Pada saat itu tergerak hati penulis untuk menulis risalah kecil sebagai hadiah untuk yang dinanti dan sebagai bekal penulis dan istri yang insya Allah akan menjadi seorang bapak dan ibu. Maka, mulailah penulis meng-imla'-kan kepada istrinya untuk menulis fasal demi fasal beserta maraji'-nya (sumber dalilnya).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Qadar Allah, belum sempat penulis mengambil penah untuk menulis risalah kecil tersebut, keinginan untuk membuat sebuah kitab besar atau mendekatinya tentang hukum-hukum anak dan yang berkaitan dengannya. Mulailah penulis mengadakan safar ilmiyyah yang cukup panjang dan melelahkan menurut penulis yang fakir (menurut penulis) terhadap ilmu dan ulama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Akhirnya safar ilmiyyah penulis yang berbekal ilmunya para ulama bersama penadan lembaran kertasnya sampai di tempat yang dituju setelah menempuh perjalanan panjang selama tiga tahun setengah, setelah Allah memberikan kepada penulis tiga orang buah hati tercinta yaitu Unaisah yang tertua, kemudian Umainah dan yang ketiga Rufaidah. Semoga Allah memberkati mereka dan menjadikan mereka perempuan-perempuan shalihah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kitab ini terdiri dari dua bab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bab pertama ini terdiri dari 15 fasal (fasal 1 s/d 15)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;1. Islam menggemarkan mempunyai anak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;2. Islam mengharamkan tidak mau mempunyai anak karena miskin dan takut miskin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;3. Islam menganjurkan umatnya untuk mempunyai banyak anak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;4. Keutamaan mempunyai anak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;5. Anak merupakan fitnah (ujian).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;6. Anak merupakan buah hati orang tua.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;7. Anak adalah bagian dari usaha orang tua.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;8. Kapankah seorang itu menjadi manusia di dalam rahim ibunya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;9. Anak adalah pemberian Allah 'Azza wa Jalla.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;10. Haram murka ketika Allah memberikan kepadanya anak-anak perempuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;11. Keutamaan mendidik dan berbuat ihsan kepada anak-anak perempuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;12. Tidak sama laki-laki dengan perempuan dan kelebihan laki-laki atas perempuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;13. Bagaimanakah anak itu menjadi laki-laki atau perempuan dan serupa dengan orang tuanya di dalam rahim?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;14. Hamil di luar nikah dan masalah nasab anak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;15. Keutamaan perempuan yang wafat ketika hamil dan melahirkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bab kedua terdiri dari 21 fasal (fasal 16 s/d 36) :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;16. Setiap anak dilahirkan atas dasar Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;17. Setiap anak dilahirkan atas dasar suci tidak berdosa dan tidak menanggung dosa kedua orang tuanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;18. Setiap anak yang lahir disentuh oleh syaithan kecuali Maryam dan anaknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;19. Disukai memberi kabar gembira dan mengucapkan selamat kepada orang yang mendapat anak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;20. Memberi nama kepada anak (Tasmiyatul Maulud).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;21. Nama-nama pilihan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;22. Tahnik dan mendo'akan keberkahan ketika anak itu lahir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;23. 'Aqiqah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;24. Mencukur rambut kepala bayi pada hari ketujuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;25. Bersedekah seberat timbangan rambut dengan perak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;26. Tartib amal ketika anak itu lahir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;27. Khitan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;8. Melubangi telinga anak perempuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;29. Hukum air kencing bayi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;30. Hukum membawa anak ketika shalat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;31. Anak zina, anak pungut, anak angkat, anak tiri dan anak susu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;32. Hukum menasabkan diri kepada yang bukan nasab-nya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;33. Keutamaan orang tua yang kematian anaknya yang belum baligh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;34. Tempat anak yang mati sebelum baligh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;35. Pendidikan terhadap anak (tarbiyyatul aulad).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;36. Bid'ah-bid'ah di dalam kehamilan dan kelahiran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Judul kitab ini menanti buah hati terambil dari sebuah hadits hasan yang dibahas di fasal keenam anak merupakan buah hati orang tua. Kitab ini membahas tentang masalah anak dan hukum-hukumnya dari mulai masih didalam kandungan sampai lahir dan seterusnya, berdasarkan Al Kitab dan Sunnahyang suci dan shahih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Penulis agar kita memiliki ilmu tentang masalah anak dan hukum-hukumnya kemudian mengamalkannya sesuai Syari'at Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam apalagi di dalam masalah pendidikan terhadap anak. Dimana pada zaman ini sebagian besar kaum muslimin sangat melalaikan tentang masalah anak dan hukum-hukumnya serta pendidikannya kecuali taqlid buta kepada kaum kuffar dibarat dan di timur, mengamalkan berbagai macam kesyirikan dan bid'ah, kurafat dan tahayyul dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;(Disadur dari Muqaddimah Cetakan pertama buku tersebut)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Buku ini sangat bagus untuk dimiliki setiap muslim, baik yang sudah punya anak, sudah menikah tapi belum punya anak maupun yang belum menikah. Pembahasannya lugas tetapi padat dengan dalil dan esensi sehingga mudah dipahami oleh setiap muslim, insya Allah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Buku ini juga sangat bagus untuk dihadiahkan kepada saudara, kerabat, teman danyang lainnya. Sebagai hadiah pernikahan, kelahiran atau yang lainnya. Baik yang sudah paham sebagai pedoman pengambilan dalil maupun yang belum paham atau bahkan yang menentang, semoga Allah selalu memberi petunjuk kepada kita semua.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Diambil dari Milist Assunnah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112800120792011554?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112800120792011554/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112800120792011554' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112800120792011554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112800120792011554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/resensi-menanti-buah-hati-dan-hadiah.html' title='Resensi: Menanti Buah Hati dan Hadiah Untuk Yang Dinanti'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112800044738506025</id><published>2005-09-29T21:24:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:43:58.745+08:00</updated><title type='text'>Menikah Tanpa Mahar</title><content type='html'>&lt;span &gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Oleh Syeikh Abdul Aziz Bin Baz&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;strong&gt;Pertanyaan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : "Apakah boleh seseorang ikhlas menikahkan putrinya karena Allah sehingga tidak meminta mahar dari calon suami ?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;strong&gt;Jawaban&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam pernikahan harus ada pemberian harta sebagai mahar berdasarkan firman Allah."Artinya : Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian yaitu mencari istri-istri dengan hartamu untuk dia kawini bukan untuk berzina." [An-Nisa : 24]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada laki-laki yang meminang wanita (ia pernahmenawarkan dirinya untuk dinikahi Rasulullah), "Artinya : Carilah (mahar) walaupun berupa cincin besi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang menikah tanpa mahar, maka wanita mempunyai hak untuk menuntut kepada suami mahar mitsil. Mahar pernikahan boleh berupa mengajar Al-Qur'an, hadits-hadits atau ilmu-ilmu yang bermanfaat. Sebab tatkala seseorang yang tidak mempunyai harta untuk dijadikan mahar, maka Rasulullah menyuruhnya agar memberi mahar dengan mengajarkan Al-Qur'an kepada calon istri dengan suka rela, maka calon suami gugur dari kewajiban membayar mahar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman."Artinya : Berikanlah mahar kepada wanita (yang kamu nikah) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mahar itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya" [An-Nisa : 4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Fatawa Dakwah Syaikh Bin Baz, juz 2 hal. 120]&lt;br /&gt;Diambil dari Milist Assunnah&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112800044738506025?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112800044738506025/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112800044738506025' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112800044738506025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112800044738506025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/menikah-tanpa-mahar.html' title='Menikah Tanpa Mahar'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112800016206208080</id><published>2005-09-29T21:16:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:43:44.736+08:00</updated><title type='text'>Jenis-jenis Mahar</title><content type='html'>&lt;span &gt;Diambil dari Milist Assunnah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahar adalah hak murni wanita, dan dalam perkawinan harus ada pemberian harta dari pihak laki-laki terhadap wanita sebagai mahar, adapun jenis dan kadar mahar berbeda-beda sesuai dengan kemampuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu riwayat disebutkan, "Abdurrahman bin Auf pergi berjualan ke pasar dan mendapat untung. Pada hari berikutnya ia pulang ke rumah membawa susu dan samin untuk keluarganya. Beberapa hari kemudian ia membawa lagi minyak za'faran yang semerbak bau wanginya. Rasulullah Shallallahu'alahi wa sallam menegur, 'Apa yang telah terjadi ?'. Ia menjawab, 'Ya, Rasulullah, saya telah kawin dengan wanita Anshar'. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bertanya lagi, 'Apa maharnya ?' Ia menjawab, 'Emas seharga lima dirham'. [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam suatu riwayat lain, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada laki-laki yang meminang wanita (ia pernah menawarkan dirinya untuk dinikahi Rasulullah). "Carilah (mahar) walaupun berupa cincin besi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih jelasnya, akan disalinkan contoh-contoh bentuk atau kadar mahar dalam proses pernikahan, dan keumuman di kalangan kita mahar itu lebih sering disebut dengan 'mas kawin', dikarenakan keumuman mahar yang sering diberikan adalah sesuatu yang terbuat dari emas, seperti cincin, gelang atau kalung, sehingga disebutlah 'mas kawin' yang artinya emas untuk kawin', akan tetapi istilah 'mas kawin' untuk sekarang ini menjadi salah kaprah, disebabkan banyak orang yang memberikan 'mas kawin' berupa seperangkat alat untuk shalat atau berupa uang, sehingga arti dan maksud 'mas kawin' menjadi tidak relevan dan tidak nyambung lagi. Untuk itu, hendaknya istilah 'mas kawin' dikembalikan kepada nama yang sebenarnya yaitu 'Mahar'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada masalah contoh mahar, akan disalinkan secara ringkas kutipan dari kitab Al-Insyirah Fi Aadaabin Nikah, edisi Indonesia Bekal-Bekal Menuju Pernikahan oleh &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini Al-Atsari&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam, "Artinya : Diantara keberkahan seorang wanita ialah yang mudah urusannya dan murah maharnya." [Hadits Shahih Riwayat Abu DawudVI/77&amp;amp;91, Ibnu Hibban 1256, Al-Bazar III/158, Ath-Thabrani dalam Mu'jamus Shaghir I/169 dst...]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipertegas lagi dengan ucapan Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu 'anhu. "Ketahuilah janganlah berlebih-lebihan dalam menetapkan mahar para wanita. Karena sesungguhnya jika (mahar yang mahal) itu dimaksudkan sebagai bukti kemuliaan di dunia atau sebagai sarana bertakwa kepada Allah, maka orang yang paling bertakwa di antara kamu adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, namun beliau tidak pernah menetapkan mahar kepada seorangpun di antara istri-istrinya begitu pula kepada putri-putrinya melebihi 12 Uqiyah (1 uqiyah = 40 dirham).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesunggunya bila seorang lelaki dikenakan tarif mahar yang tinggi, niscaya dapat menimbulkan permusuhan dalam dirinya kepada istrinya" [Hadits Shahih riwayat Abu Dawud VI/135, (silakan lihat 'Aunul Ma'bud), An-Nasa'i VI/117, At-Timidzi IV/255 (lihat Tuhfatul Ahwadzi) beliau berkata : 'Hasan Shahih' dst...]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Foot Note [1] Adab pernikahan dalam islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112800016206208080?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112800016206208080/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112800016206208080' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112800016206208080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112800016206208080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/jenis-jenis-mahar.html' title='Jenis-jenis Mahar'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112799882124841487</id><published>2005-09-29T20:50:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:43:27.646+08:00</updated><title type='text'>Sebagian Penyelewengan Yang Terjadi Dalam Perkawinan</title><content type='html'>&lt;span &gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;1. Pacaran&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan orang sebelum melangsungkan perkawinan biasanya "Berpacaran" terlebih dahulu, hal ini biasanya dianggap sebagai masa perkenalan individu, atau masa penjajakan atau dianggap sebagai perwujudan rasa cinta kasih terhadap lawan jenisnya. Adanya anggapan seperti ini, kemudian melahirkan konsesus bersama antar berbagai pihak untuk menganggap masa berpacaran sebagai sesuatu yang lumrah danwajar-wajar saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggapan seperti ini adalah anggapan yang salah dan keliru. Dalam berpacaran sudah pasti tidak bisa dihindarkan dari berintim-intim dua insan yang berlainan jenis, terjadi pandang memandang dan terjadi sentuh menyentuh, yang sudah jelas semuanya haram hukumnya menurut syari'at Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Artinya : Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang perempuan, melainkan si perempuan itu bersama mahramnya". [Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dalam Islam tidak ada kesempatan untuk berpacaran dan berpacaran hukumnya haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;2. Tukar Cincin Dalam peminangan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hal ini biasanya ada tukar cincin sebagai tanda ikatan, hal ini bukan dari ajaran Islam. (Lihat Adabuz-Zafat, Nashiruddin Al-Bani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;3. Menuntut Mahar Yang Tinggi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menurut Islamsebaik-baik mahar adalah yang murah dan mudah, tidakmempersulit atau mahal. Memang mahar itu hak wanita, tetapi Islam menyarankan agar mempermudah dan melarang menuntut mahar yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun cerita teguran seorang wanita terhadap Umar bin Khattab yang membatasi mahar wanita, adalah cerita yang salah karena riwayat itu sangat lemah. [Lihat Irwa'ul Ghalil 6, hal. 347-348]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;4. Mengikuti Upacara Adat Ajaran dan peraturan Islam harus lebih tinggi dari segalanya&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setiap acara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam, maka wajib untuk dihilangkan. Umumnya umat Islam dalam cara perkawinan selalu meninggikan dan menyanjung adat istiadat setempat, sehingga sunnah-sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang benar dan shahih telah mereka matikan dan padamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sangat ironis...! Kepada mereka yang masih menuhankan adat istiadat jahiliyah dan melecehkan konsep Islam, berarti mereka belum yakin kepada Islam. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Artinya : Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada(hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" [Al-Maaidah: 50]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang mencari konsep, peraturan, dan tatacara selain Islam, maka semuanya tidak akan diterima oleh Allah dan kelak di Akhirat mereka akan menjadiorang-orang yang merugi, sebagaimana firman AllahTa'ala, "Artinya : Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi". [Ali-Imran : 85]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;5. Mengucapkan Ucapan Selamat Ala Kaum Jahiliyah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kaum jahiliyah selalu menggunakan kata-kata Birafa' Wal Banin, ketika mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Ucapan Birafa' Wal Banin (semoga mempelai murah rezeki dan banyak anak) dilarang oleh Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Al-Hasan, bahwa 'Aqil bin Abi Thalib nikah dengan seorang wanita dari Jasyam. Para tamu mengucapkanselamat dengan ucapan jahiliyah: Birafa' Wal Banin. 'Aqil bin Abi Thalib melarang mereka seraya berkata: "Janganlah kalian ucapkan demikian! Karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang ucapan demikian". Para tamu bertanya : "Lalu apa yangharus kami ucapkan, wahai Abu Zaid ?" 'Aqilmenjelaskan: "Ucapkanlah: Barakallahu lakum wa Baraka 'Alaiykum" (Mudah-mudahan Allah memberi kalian keberkahan danmelimpahkan atas kalian keberkahan). Demikianlah ucapan yang diperintahkan Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam". [Hadits Shahih Riwayat Ibnu AbiSyaibah, Darimi2:134, Nasa'i, Ibnu Majah, Ahmad 3:451, danlain-lain]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do'a yang biasa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ucapkan kepada seorang mempelai ialah: "Baarakallahu laka wa baarakaa 'alaiyka wa jama'abaiynakumaa fii khoir." Do'a ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah: 'Artinya : Dari Abu hurairah, bahwasanya Nabishallallahu 'alaihi wa sallam jika mengucapkan selamat kepada seorang mempelai, beliau mengucapkan do'a :(Baarakallahu laka wabaraka 'alaiyka wa jama'abaiynakuma fii khoir) = Mudah-mudahan Allah memberimukeberkahan, Mudah-mudahan Allah mencurahkan keberkahan atasmu dan mudah-mudahan Dia mempersatukan kamu berduadalam kebaikan".&lt;br /&gt;[Hadits Shahih Riwayat Ahmad 2:38,Tirmidzi, Darimi 2:134, Hakim 2:183, Ibnu Majah danBaihaqi 7:148]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;6. Adanya Ikhtilath&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ikhtilath adalah bercampurnya laki-laki dan wanita hingga terjadi pandang memandang, sentuh menyentuh, jabat tangan antara laki-laki dan wanita. Menurut Islam antara mempelai laki-laki danwanita harus dipisah, sehingga apa yang kita sebutkan di atas dapat dihindari semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;7. Pelanggaran Lain&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pelanggaran-pelanggaran lain yangsering dilakukan di antaranya adalah musik yang hingar bingar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambil dari MIlist Assunnah&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112799882124841487?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112799882124841487/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112799882124841487' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112799882124841487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112799882124841487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/sebagian-penyelewengan-yang-terjadi.html' title='Sebagian Penyelewengan Yang Terjadi Dalam Perkawinan'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112799819847899552</id><published>2005-09-29T20:44:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:43:13.142+08:00</updated><title type='text'>Tata Cara Perkawinan Dalam Islam</title><content type='html'>&lt;span &gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tatacara perkawinan berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah yang Shahih(sesuai dengan pemahaman para Salafus Shalih), secara singkat penulis sebutkan dan jelaskan seperlunya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;1. Khitbah (Peminangan)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Seorang muslim yang akan mengawini seorang muslimah hendaknya ia meminang terlebih dahulu, karena dimungkinkan ia sedang dipinang oleh orang lain, dalam hal ini Islam melarang seorang muslim meminang wanita yang sedang dipinang oleh orang lain (Muttafaq 'alaihi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam khitbahdisunnahkan melihat wajah yang akan dipinang. [Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi No. 1093 dan Darimi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;2. Aqad Nikah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam aqad nikah ada beberapa syarat dankewajiban yang harus dipenuhi:&lt;br /&gt;a. Adanya suka sama suka dari kedua calon mempelai&lt;br /&gt;b. Adanya Ijab Qabul&lt;br /&gt;c. Adanya Mahar&lt;br /&gt;d. Adanya Wali&lt;br /&gt;e. AdanyaSaksi-saksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan menurut sunnah sebelum aqad nikah diadakan khutbah terlebih dahulu yang dinamakan Khutbatun Nikah atau Khutbatul Hajat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;3. Walimah Walimatul 'Urusy&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Walimatul 'ursy hukumnya wajib dan diusahakan sesederhana mungkin dan dalam walimah hendaknya diundang orang-orang miskin. Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam bersabda tentang mengundang orang-orang kaya saja berarti makanan itu sejelek-jelek makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Artinya : Makanan paling buruk adalah makanan dalam walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya saja untuk makan, sedangkan orang-orang miskin tidak diundang. Barangsiapa yang tidak menghadiri undangan walimah, maka ia durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya". [Hadits Shahih Riwayat Muslim 4:154 dan Baihaqi 7:262 dari Abu Hurairah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai catatan penting hendaknya yang diundang itu orang-orang shalih, baik kaya maupun miskin, karena ada sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Artinya : Janganlah kamu bergaul melainkan dengan orang-orang mukmin dan jangan makan makanan mumelainkan orang-orang yang taqwa". [Hadist ShahihRiwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Hakim 4:128 dan Ahmad3:38 dari Abu Sa'id Al-Khudri]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112799819847899552?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112799819847899552/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112799819847899552' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112799819847899552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112799819847899552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/tata-cara-perkawinan-dalam-islam.html' title='Tata Cara Perkawinan Dalam Islam'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112799783666656552</id><published>2005-09-29T20:39:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:54:18.610+08:00</updated><title type='text'>Walimah Yang Terdapat Kemungkaran</title><content type='html'>&lt;span &gt;Shaikh Utsaimin Rahimahullah pernah ditanya tentang menghadiri walimah yang terdapat kemungkaran didalamnya, seperti nyanyian, dansa, tayangan aurat, dan sebagainya, tetapi yang mengundangnya ialah orang yang sangat dekat dengannya (seperti keluarga sendiri) maka shaikh menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika walimah itu terdapat perbuatan yang haram yang dijelaskan, maka tidak dibolehkan siapapun menerima (menghadiri) undangan itu, kecuali dia bisa mengubahkan kemungkaran itu. Maka jika dia bisa mengubahkan kemungkaran, dia wajib menghadirinya, jika tidak, haram baginya dan tidak boleh hadir dalam jamuan itu yangterdapat perbuatan yang melanggar syari'ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang lelaki juga tidak boleh memberi izin kepada anaknya atau orang yang dibawah naungannya untuk menghadiri jamuan ini. Jika dia mengatakan "saya khawatir akan mengakibatkan terputusnya persaudaraan", maka jawablah dengan "biarkan ia berbuat, karena jika mereka (yang mengundang) melanggar hukum Allah, kita tidak di wajibkan menghadirinya. Jika mereka (yangmengundang) memutuskan persaudaraan, maka merekalah yang berdosa, bukan orang yang tidak menghadiri undangannya (karena sebab-sebab seperti diatas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Fataawa Fadeelat al-Shaikh Ibn Utsaimin untuk majalah al-Daw'ah # 1757, m/s. 37]&lt;br /&gt;Diambil dari Milist Assunnah.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112799783666656552?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112799783666656552/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112799783666656552' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112799783666656552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112799783666656552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/walimah-yang-terdapat-kemungkaran.html' title='Walimah Yang Terdapat Kemungkaran'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112799566738302504</id><published>2005-09-29T19:59:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:59:12.989+08:00</updated><title type='text'>Deg-Degan Saat Dilamar</title><content type='html'>Selain akad nikah, khitbah mungkin menjadi satu momen yang paling menegangkan selain tentunya membahagiakan. Karena itu ia termasuk dalam satu bagian hidup yang sangat dinantikan. Oleh karena itu, menjelang khitbah, biasanya (baik pelamar maupun yang dilamar) sama-sama akan merasakan deg-degan. Rata-rata karena takut nantinya bagaimana. Si pelamar takut si akhwat tidak mau, sedangkan si gadis takut ikhwannya tidak berkenan. Apalagi kalau saat khitbah dibarengi dengan nazhar (melihat calon), bisa dipastikan akan membuat hati akan terguncang tidak karuan, lebih-lebih jika keduanya belum pernah bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kiranya peru disiapkan segala sesuatunya agar prosesi khitbah tersebut lancar sesuai rencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;Pastikan Hati&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum acara khitbah, kedua pihak hendaknya memastikan bahwa benar-benar telah siap menikah, secara lahir maupun secara batin, juga siap untuk diterima atau ditolak. Apalagi bila proses sebelumnya (&lt;em&gt;ta'aruf&lt;/em&gt;-red) dilakukan sendirian, dalam artian baru melibatkan kedua calon pengantin dan &lt;em&gt;mak comblang&lt;/em&gt;, belum sampai kepada orang tua. Sehingga keyakinan kuat dalam hal ini sangat dibutuhkan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan saat peminangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan keyakinan yang kuat, Insya Allah apapun akan bisa dilewati dengan mudah. Tidak lupa hendaknya terus bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karena hanya Allah yang bisa mempersulit atau mempermudah urusan. Dengan sikap seperti ini, setiap halangan yang menghadang akan bisa diselesaikan dengan baik. Dan bila ternyata masih ada keraguan, hendaknya tidak memaksakan diri untuk maju. Karena siapa tahu itu awal dari sesuatu yang kurang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;Pastikan si Dia&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Bagi pihak pelamar juga harus memastikan bahwa akhwat yang akan dilamarnya merupakan wanita sendirian. Bukan istri atau sedang dalam peminangan orang lain.&lt;br /&gt;Ibnu Umar Radhiallahu'anhu pernah berkata, bahwa telah bersabda Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam: "Janganlah ada seseorang dari kalian yang melamar pinangan saudaranya sehingga dia melepaskannya." (Riwayat...--&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pihak wanita, juga harus memastikan bahwa si ikhwan serius. Ia tidak main-main dengan niatannya dalam melangkah ke perkawinan. Dipastikan pula, bahwa orang tua si Ikhwan mengetahui rencana anaknya. Walaupun laki-laki tidak harus datang disertai orang tua, tetapi kedatangan orang tua si Ikhwan akan lebih meyakinkan dan menjadi bukti keseriusannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ini merupakan khitbah maka sudah semestinya kedua orang tua calon mempelai bertemu, sebagai bagian silaturahmi antar calon besan. 2 keluarga yang akan disatukan. Rasulullah Shalallahu'alaihi wa Sallam telah menasihatkan: "Apabila telah datang kepadamu seorang lelaki yang kamu sukai ibadah dan budi pekertinya, maka nikahkanlah ia dengan anak gadismu. Karena kalau tidak, maka (dikhawatirkan) akan terjadi bencana dan kerusakan besar dimuka bumi ini." (HR. at Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;Pastikan Orang Tuanya&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar tidak menemui kendala dalam melamar, hendaknya si pelamar memastikan bahwa orang tua si Akhwat akan menerimanya. Hal ini penting untuk menghindari sakit hati atau hal-hal yang tidak diinginkan saat khitbah berlangsung. Pihak Akhwat juga hendaknya jujur tentang keadaan orang tuanya, dari mulai sifat, karakter, dan keinginan mereka terhadap calon menantunya. Sehingga si Ikhwan bisa mempersiapkan diri dengan baik. Ataupun kalau tidak, bisa membatalkan rencana khitbah dari awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disisi lain pihak Akhwat juga hendaknya telah jauh2 hari memperkenalkan sosok calon suaminya kepada orang tuanya, kalau memang orang tua belum pernah mengenalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;Selama Proses&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat melamar, hendaknya para orang tua yang berbicara. Ini menjadi salah satu adab yang baik. Insya Allah mereka lebih bisa berhati-hati dalam berbicara, juga akan lebih bisa diterima alasan kedatangannya. Kalau nantinya ada pertanyaan2 yang meminta kepastian dari orang tua kepada calon mempelai, hendaknya dijawab dengan sejujurnya dan mantap, agar kedua orang tua yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat khitbah dibolehkan membawa hadiah atau buah tangan sebagai bentuk perkenalan. Namun buah tangan ini hendaknya bukan tradisi yang ditentukan sebagaimana yang umum terjadi di masyarakat. Kalau sudah seperti itu, sudah termasuk dalam amalan &lt;em&gt;bid'ah&lt;/em&gt;, bahkan kalau dengan keyakinan tertentu termasuk dalam kesyirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;Kesalahan Lain&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tradisi tukar cincin, kesalahan lain yang umum terjadi di antaranya, mereka menganggap bahwa sesudah khitbah seolah-olah sudah menikah. Sehingga kerap kali setelah itu bebas melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama, seperti pergi berdua, bergandengan tangan, atau yang leih dari itu. Padahal semua itu belum diperbolehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khitbah adalah proses muqaddimah untuk menikah dan belum terjadi pernikahan. Oleh karena itu untuk menghindari kemaksiatan, dianjurkan agar jarak waktu khitbah dan akad nikah tidak terlalu lama sehingga calon istri tidak dalam kondisi lama menanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Ditulis ulang dari Majalah Nabila Edisi 07/Tahun1/Desember 2004]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112799566738302504?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112799566738302504/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112799566738302504' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112799566738302504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112799566738302504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/deg-degan-saat-dilamar.html' title='Deg-Degan Saat Dilamar'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112799221153343236</id><published>2005-09-29T19:08:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:57:40.660+08:00</updated><title type='text'>Suami Pergi Selama 2 Tahun</title><content type='html'>&lt;span &gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Oleh Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;strong&gt;Pertanyaan.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Shalih Fauzan ditanya : "Saya menikah umur tujuh belas tahun di Sudan, setelah tiga bulan menikah saya pergi ke Libia untuk mencari rizki yang halal, akan tetapi selama dua tahun saya tidak pulang ke tempat istri saya karena tidak memiliki ongkos untuk pulang akibat dari kecelekaan, saya menderita cedera sehingga cedera tersebut menghambat saya dalam mencari rizki, apa jalan keluar dari masalah ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah saya harus mengirimkan surat talak kepada istri yang selama dua tahun tidak pernah bertemu suami, dan boleh jadi lebih dari dua tahun karena cidera yang saya alami ? Dan selama ini istri saya tinggal bersama orang tua saya dan mengenai kebutuhan hidup tidak ada masalah, semoga syaikh bisa memberi jalan keluar?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;strong&gt;Jawaban.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak perlu orang tersebut mengirimkan surat untuk menjatuhkan talak kepada istrinya, sebab dia berhalangan secara syari'at akibat cidera yang membuat tidak mampu bekerja dengan baik sehingga tidak mempunyai biaya untuk pulang. Maka tidak boleh bagi istri menuntut secara paksa terhadap suaminya agar pulang melainkan setelah ada kemampuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi seperti ini istri berhak memilih diantara dua pilihan; bersabar menunggu kedatangan suaminya atau menuntut hak dengan cara mengajukan talak. Dan sebaiknya suami harus tetap bersabar hingga datang kesempatan untuk pulang. Insya Allah jika ikhlas dan bersungguh-sungguh, maka akan mendapatkan jalan keluar dan pertolongan. Tidak perlu bingung sebab orang tua anda tetap menjaga dan bertanggung jawab terhadap istri anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Kitabut Muntaqa Syaikh Fauzan, juz 3/242]&lt;br /&gt;[Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita jld-2, hal 111-112 Darul Haq]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112799221153343236?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112799221153343236/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112799221153343236' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112799221153343236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112799221153343236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/suami-pergi-selama-2-tahun.html' title='Suami Pergi Selama 2 Tahun'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112799207380830190</id><published>2005-09-29T19:05:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:57:27.484+08:00</updated><title type='text'>Suami Pergi Meninggalkan Istri</title><content type='html'>&lt;span &gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;strong&gt;Pertanyaan.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : "Al-Qur'an memberi batasan bahwa suami tidak boleh meninggalkan istri lebih dari empat bulan, saya telah mengadakan kontrak kerja, dan tidak ada libur kecuali jika sudah lewat setahun atau mungkin juga lebih, bagaimana hukumnya ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;strong&gt;Jawaban.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pertama : Tidak benar bahwa Al-Qur'an tidak membolehkan suami meninggalkan istri lebih dari empat bulan sebab tidak ada satu ayatpun yang menyebutkan demikian. Akan tetapi yang terdapat di dalam Al-Qur'an hanyalah pembatasan tentang orang yang ila' yaitu suami bersumpah tidak akan menggauli istrinya, kemudian Allah memberikan waktu empat bulan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana firman Allah. "Artinya : Kepada orang-orang yang meng-ilaa' istrinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). Kemudian jika mereka kembali (kepada istrinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" [Al-Baqarah : 226]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibolehkan suami pergi meninggalkan istrinya, lebih dari empat bulan, enam bulan, setahun atau dua tahun dengan syarat tempat tinggal istri aman dan rela ditinggalkan, jika tempat tinggalnya tidak aman atau tempat aman tapi istri tidak merelakan, maka dalam kondisi seperti itu, suami tidak boleh meninggalkan istrinya. Wajib bagi setiap suami untuk menggauli istrinya secara baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Fatawa Nir 'Aladarb Syaikh Utsaimin, hal 17, Majalatul Buhuts 9/60. Durus wa Fatawa Haramul Makky, juz 3 hal.270]&lt;br /&gt;[Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita jld-2, hal 111-112 Darul Haq]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112799207380830190?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112799207380830190/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112799207380830190' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112799207380830190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112799207380830190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/suami-pergi-meninggalkan-istri.html' title='Suami Pergi Meninggalkan Istri'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112799192378494478</id><published>2005-09-29T19:03:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:57:13.837+08:00</updated><title type='text'>Utamakan Menikah</title><content type='html'>&lt;span &gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;strong&gt;Pertanyaan.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Ada suatu kebiasaan yang sudah meyebar, yaitu adanya gadis remaja atau orang tuanya menolak orang yang melamarnya, dengan alasan masih hendak menyelesaikan studinya di SMU atau di Perguruan Tinggi, atau sampai karena untuk mengajar dalam beberapa tahun. Apa hukumnya ? Apa nasihat Syaikh bagi orang-orang yang melakukannya, bahkan ada wanita yang sudah mencapai usia 30 tahun atau lebih belum menikah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;strong&gt;Jawaban.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nasehat saya kepada semua pemuda dan pemudi agar segera menikah jika ada kemudahan, karena Nabi Shallallau 'alaihi wa sallam telah bersabda, "Artinya : Wahai sekalian pemuda, barangsiapa diantara kamu yang mempunyai kesanggupan, maka menikahlah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan mata dan lebih memelihara kesucian farji; dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa dapat menjadi perisai baginya." [Muttafaq ‘Alaih]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda beliau juga, "Artinya : Apabila seseorang yang kamu ridhai agama dan akhlaknya datang kepadamu untuk melamar, maka kawinkanlah ia (dengan putrimu), jika tidak niscaya akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi ini." [Diriwayatkan oleh At-Turmudzi, dengan sanad Hasan]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda beliau lagi, "Artinya : Kawinkanlah wanita-wanita yang penuh kasih sayang lagi subur (banyak anak), karena sesungguhnya aku akan menyaingi ummat-umat lain dengan jumlah kalian pada hari kiamat kelak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikah juga banyak mengandung maslahat yang sebagiannya telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, seperti terpalingnya pandangan mata (dari pandangan yang tidak halal), menjaga kesucian kehormatan, memperbanyak jumlah ummat Islam serta selamat dari kerusakan besar dan akibat buruk yang membinasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memberi taufiqNya kepada segenap kaum Muslimin menuju kemaslahatan urusan agama dan dunia mereka, sesungguhnya Dia Maha Mendengar Lagi Maha Dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Fatwa Syaikh Bin Baz di dalam Majalah Al-Da'wah, edisi 117]&lt;br /&gt;[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, hal 417-418 Darul Haq]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112799192378494478?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112799192378494478/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112799192378494478' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112799192378494478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112799192378494478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/utamakan-menikah.html' title='Utamakan Menikah'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112799158626018537</id><published>2005-09-29T18:56:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:56:59.872+08:00</updated><title type='text'>Melihat Perempuan Yang Dilamar</title><content type='html'>&lt;span &gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;strong&gt;Pertanyaan.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Diantara faktor penyebab perceraian (thalak), wahai Syaikh yang terhormat, adalah suami tidak melihat istrinya sebelum menikah dengannya, padahal agama kita, Dienul Islam membolehkan hal itu kepada kita. Apa komentar Syaikh terhadap topic ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;strong&gt;Jawaban&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak diragukan lagi bahwa tidak melihat calon istri sebelum menikahinya kadang-kadang menjadi salah satu sebab pemicu perceraian apabila ternyata suami menemukannya tidak seperti yang diberitakan kepadanya. Maka dari itu Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan bagi calon suami melihat perempuan (yang akan dinikahinya) sebelum pernikahan terjadi, selama hal itu bisa dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Artinya : Apabila seorang dari kalian meminang perempuan, maka jika memungkinkan melihat kepada apa yang mendorongnya untuk menikahnya, maka lakukanlah, sebab yang demikian itu lebih bisa menjamin kelanggengan hubungan di antara mereka berdua."&lt;br /&gt;Hadits tersebut dinilai shahih oleh Al-Hakim yang bersumber dari hadits Jabir Radhiyallahu 'anhu, Imam Ahmad, At-Turmudzi, An-Nasa'i dan Ibnu Majah telah meriwayatkan dari sumber Al-Mughirah bin Syu'bah Radhiyallahu 'anhu, bahwasanya (ketika) ia meminang seorang perempuan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Artinya : Lihatlah dia, karena yang demikian itu lebih bisa menjamin kelanggengan hubungan di antara kalian berdua."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim meriwayatkan juga di dalam Shahih-nya hadits yang bersumber dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, bahwa ada seorang lelaki menceritakan kepada Rasulullah Shallallalhu 'alaihi wa sallam bahwasanya ia telah meminang seorang perempuan, maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya, "Apakah engkau telah melihatnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits-Hadits diatas dan hadits lain yang semakna dengannya, semua menunjukkan dibolehkan (bagi laki-laki) melihat perempuan yang dipinangnya sebelum akad nikah terlanjur dilaksanakan, karena yang demikian itu lebih menguatkan hubungan dan akan lebih baik akibatnya dikemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu merupakan bagian dari keindahan Syari'at Islam yang datang dengan membawa segala apa yang menjadi maslahat dan kebaikan bagi seluruh manusia dan kebahagiaan bagi masyarakat baik di dunia maupun di akhirat kelak. Maha Suci Allah yang telah mensyari'atkan dan menjelaskannya serta menjadikannya bagaikan bahtera Nabi Nuh, yang siapa saja yang ikut mengendarainya pasti selamat dan siapa keluar darinya pasti binasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, hal 399-398 Darul Haq]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112799158626018537?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112799158626018537/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112799158626018537' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112799158626018537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112799158626018537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/melihat-perempuan-yang-dilamar.html' title='Melihat Perempuan Yang Dilamar'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112799135114915814</id><published>2005-09-29T18:53:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:56:46.003+08:00</updated><title type='text'>Batasan Melihat Calon Istri</title><content type='html'>&lt;span &gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;strong&gt;Pertanyaan.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Apabila seorang pemuda datang untuk meminang seorang putri apakah ia wajib melihatnya ? Apakah juga boleh perempuan itu membuka kepalanya agar tampak lebih jelas kecantikannya bagi pelamar ? Dengan hormat saya mohon penjelasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;strong&gt;Jawaban.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak apa-apa, akan tetapi tidak wajib. Dan dianjurkan kalau ia melihat perempuan yang dilamar dan perempuan itu juga melihatnya, karena Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kepada lelaki yang melamar seorang perempuan agar melihatnya. Yang demikian itu adalah lebih menumbuhkan rasa cinta kasih diantara keduanya. Jika perempuan itu membuka muka dan kedua tanganya serta kepalanya maka tidaklah mengapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian Ahli ilmu (Ulama) berpendapat: Cukup muka dan kedua tangan saja. Pendapat yang shahih adalah tidak ada pelamar melihat kepala (perempuan yang dilamar), muka, kedua tangan dan kedua kakinya, berdasarkan hadits di atas. Akan tetapi hal itu tidak boleh dilakukan secara berduaan, melainkan harus didampingi oleh ayah perempuan itu atau saudaranya yang laki-laki atau lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Artinya : Jangan sampai seorang lelaki berduaan dengan seorang wanita, kecuali didampingi oleh mahramnya." [Muttafaq ‘alaihi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda beliau juga, "Artinya : Tiada seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan melainkan yang ketiganya adalah syetan." [Riwayat Imam At-Turmudzi dan Imam Ahmad dari hadits Ibnu Umar, dari hadits Jabir dan dari hadits 'Amir bin Rabi’ah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Majalah Al-Buhuts Al-Ilmiyah, edisi 136 dan 137, Fatwa Ibnu Baz]&lt;br /&gt;[Disalin dari Kitab Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, hal 398-399 Darul Haq]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112799135114915814?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112799135114915814/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112799135114915814' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112799135114915814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112799135114915814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/batasan-melihat-calon-istri.html' title='Batasan Melihat Calon Istri'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112797876289769955</id><published>2005-09-29T15:23:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:55:52.767+08:00</updated><title type='text'>Tidak Boleh Bagi Perempuan Berhias Dihadapan Pelamarnya</title><content type='html'>&lt;span &gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;strong&gt;Pertanyaan.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah boleh bagi perempuan yang dilamar tampil dihadapan lelaki yang melamarnya dengan menggunakan celak, perhiasan dan parfum ? Apa pula hukum bingkisan ? Kami memohon penjelasannya, semoga Allah membalas Syaikh yang mulia dengan kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;strong&gt;Jawaban&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebelum akad nikah terselenggara, maka perempuan yang dilamar tetap merupakan perempuan asing bagi calon suminya. Jadi, ia seperti perempuan-perempuan yang ada di pasar. Akan tetapi agama memberikan keringanan bagi laki-laki yang melamarnya untuk melihat apa yang membuatnya tertarik untuk menikahinya, karena hal itu diperlukan ; dan karena yang demikian itu lebih mempererat dan mengakrabkan hubungan keduanya kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan tersebut tidak keluar menghadap kepadanya dengan mempercantik diri dengan pakaian ataupun dengan make up, sebab ia masih berstatus asing bagi lelaki yang melamarnya. Kalau lelaki pelamar melihat calonnya dalam dandanan seperti itu, lalu nanti ternyata berubah dari sesungguhnya, maka keadaannya akan menjadi lain, bahkan bisa jadi keinginannya semula menjadi sirna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang boleh dilihat oleh laki-laki pelamar pada perempuan yang dilamarnya adalah wajahnya, kedua kakinya, kepalanya dan bagian lehernya dengan syarat (ketika melihatnya) tidak berdua-duan dan pembicaraan langsung dengannya tidak boleh lama. Juga tidak boleh berhubungan langsung dengannya melalui telepon, sebab hal itu merupakan fitnah yang diperdayakan syetan di dalam hati keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, jika akad nikah telah dilaksanakan, maka ia boleh berbicara kepada perempuan itu, boleh berdua-duan dan boleh menggaulinya. Akan tetapi kami nasehatkan agar tidak melakukan jima', sebab jika hal itu terjadi sebelum I'lanun nikah (diumumkan/dipublikasikan) dan kemudian hamil di waktu dini bisa menyebabkan tuduhan buruk kepada perempuan itu ; dan begitu pula kalau laki-laki itu meninggal sebelum I'lanun nikah, lalu ia hamil maka ia akan mendapatkan berbagai tuduhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang pertanyaan ketiga, yaitu bingkisan, itu merupakan hadiah dari lelaki yang melamar untuk calon istri yang dilamarnya, sebagai tanda bahwa laki-laki itu benar-benar ridha dan suka kepada calon pilihannya, maka hukumnya boleh-boleh saja, karena pemberian hadiah seperti itu masih dilakukan oleh banyak orang sekalipun dengan nama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Kitab Da'wah 5 oleh Ibnu Utsaimin jilid 2, hal 85-86]&lt;br /&gt;[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, hal-399-400 Darul Haq]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112797876289769955?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112797876289769955/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112797876289769955' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112797876289769955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112797876289769955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/tidak-boleh-bagi-perempuan-berhias.html' title='Tidak Boleh Bagi Perempuan Berhias Dihadapan Pelamarnya'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112797805900285285</id><published>2005-09-29T15:09:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:55:36.915+08:00</updated><title type='text'>Mahar Berlebih-lebihan</title><content type='html'>&lt;span &gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Oleh Syaikh Abdul Aziz Bin Baz&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;strong&gt;Pertanyaan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Aziz Bin Baz ditanya : Saya melihat dan semua juga melihat bahwa kebanyakan orang saat ini berlebih-lebihan di dalam meminta mahar dan mereka menuntut uang yang sangat banyak (kepada calon suami) ketika akan mengawinkan putrinya, ditambah dengan syarat-syarat lain yang harus dipenuhi. Apakah uang yang diambil dengan cara seperti itu halal ataukah haram hukumnya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;strong&gt;Jawaban&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yang diajarkan adalah meringankan mahar dan menyederhanakannya serta tidak melakukan persaingan, sebagai pengamalan kita kepada banyak hadits yang berkaitan dengan masalah ini, untuk mempermudah pernikahan dan untuk menjaga kesucian kehormatan muda-mudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para wali tidak boleh menetapkan syarat uang atau harta (kepada pihak lelaki) untuk diri mereka, sebab mereka tidak mempunyai hak dalam hal ini; ini adalah hak perempuan (calon istri) semata, kecuali ayah. Ayah boleh meminta syarat kepada calon menantu sesuatu yang tidak merugikan putrinya dan tidak mengganggu pernikahannya. Jika ayah tidak meminta persyaratan seperti itu, maka itu lebih baik dan utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman. "Artinya : Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu; dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya." [An-Nur : 32]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda yang diriwayatkan dari Uqbah bin Amir Radhiyallahu 'anhu. "Artinya : Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah" [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam hendak menikahkan seorang shahabat dengan perempuan yang menyerahkan dirinya kepada beliau, ia bersabda. "Artinya : Carilah sekalipun cincin yang terbuat dari besi" [Riwayat Bukhari]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika shahabat itu tidak menemukannya, maka Rasulullah menikahkannya dengan mahar "mengajarkan beberapa surat Al-Qur’an kepada calon istri"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahar yang diberikan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada istri-istrinya pun hanya bernilai 500 Dirham, yang pada saat ini senilai 130 Real, sedangkan mahar putri-putri beliau hanya bernilai 400 Dirham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman. "Artinya : Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri tuladan yang baik." [Al-Ahzab : 21]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala beban biaya pernikahan itu semakin sederhana dan mudah, maka semakin mudahlah penyelamatan terhadap kesucian kehormatan laki-laki dan wanita dan semakin berkurang pulalah perbuatan keji (zina) dan kemungkaran, dan jumlah ummat Islam makin bertambah banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin besar dan tinggi beban perkawinan dan semakin ketat perlombaan mempermahal mahar, maka semakin berkuranglah perkawinan, maka semakin menjamurlah perbuatan zina serta pemuda dan pemudi akan tetap membujang, kecuali orang dikehendaki Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka nasehat saya kepada seluruh kaum Muslimin di mana saja mereka berada adalah agar mempermudah urusan nikah dan saling tolong menolong dalam hal itu. Hindari, dan hindarilah perilaku meununtut mahar yang mahal, hindari pula sikap memaksakan diri di dalam pesta pernikahan. Cukuplah dengan pesta yang dibenarkan syari'at yang tidak banyak membebani kedua mempelai. Semoga Allah memerbaiki kondisi kaum muslimin semuanya dan memberi taufiq kepada mereka untuk tetap berpegang teguh kepada Sunnah di dalam segala hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Kitabud Da'wah, Al-Fatawa hal 166-168 dari Fatwa Syaikh Ibnu Baz]&lt;br /&gt;[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Darul Haq]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Foot Note&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[1] Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan redaksi "Sebaik-baik nikah adalah yang paling mudah". Dan oleh Imam Muslim dengan lafazh yang serupa dan di shahihkan oleh Imam Hakim dengan lafaz tersebut diatas.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112797805900285285?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112797805900285285/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112797805900285285' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112797805900285285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112797805900285285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/mahar-berlebih-lebihan.html' title='Mahar Berlebih-lebihan'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112805528505642223</id><published>2005-09-29T12:32:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:54:04.017+08:00</updated><title type='text'>Doa Keluarga dan Suami</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span &gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Ra&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;bbanaa hablanaa&lt;/span&gt; min azwaajinaa wa dzurriyatinaa qurrata a'yunin waj'alnaa lilmuttaqiina imaamaa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span &gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span &gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span &gt;"Ya Rabb kami, berilah kami istri/suami dan anak-anak keturunan yang menyenangkan hati kami, dan jadikan kami sebagai pemimpin orang-orang yang bertaqwa."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span &gt;[Al-Furqan: 24]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112805528505642223?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112805528505642223/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112805528505642223' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112805528505642223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112805528505642223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/doa-keluarga-dan-suami.html' title='Doa Keluarga dan Suami'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112805467058184517</id><published>2005-09-29T12:24:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:55:18.919+08:00</updated><title type='text'>Anget-anget Teman Santai Disore Hari</title><content type='html'>&lt;span &gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;&lt;strong&gt;Lumpia Keju&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;BAHAN:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;15 lembar kulit lumpia ukuran sedang minyak goreng secukupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;BAHAN ISI:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;50 gram ayam giling&lt;br /&gt;25 gram daging sapi giling&lt;br /&gt;1 sendok makan bawang goreng&lt;br /&gt;1 sendok makan tepung roti&lt;br /&gt;1 butir telur&lt;br /&gt;1 sendok makan susu bubuk&lt;br /&gt;1/4 sendok teh pala bubuk garam dan merica secukupnya&lt;br /&gt;2 lembar daging asap, potong kotak kecil&lt;br /&gt;2 lembar keju lembaran potong kotak kecil&lt;br /&gt;8 butir telur puyuh rebus, iris tipis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;CARA MEMBUAT:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Campur daging, ayam, bawang goreng, tepung roti, susu bubuk, telur, pala bubuk, garam, dan merica.&lt;br /&gt;Bungkus dengan kulit lumpia setelah diisi dengan daging asap dan keju lembaran.&lt;br /&gt;Gulung dan rekatkan dengan telur.&lt;br /&gt;Goreng lumpia sampai kering dan matang dalam minyak goreng.&lt;br /&gt;(untuk 15 buah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Diambil dari Sedap Sekejap Edisi 8/II Agustus 2001]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112805467058184517?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112805467058184517/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112805467058184517' title='21 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112805467058184517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112805467058184517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/anget-anget-teman-santai-disore-hari.html' title='Anget-anget Teman Santai Disore Hari'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>21</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112791581061258952</id><published>2005-09-28T21:55:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:55:07.297+08:00</updated><title type='text'>Seorang Ayah Berkewajiban Mendakwahi Anak2nya dengan Cara yang Terbaik</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;strong&gt;Pertanyaan.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Sebagian orang tua yang patuh beragama sering menghadapi kesulitan disebabkan ketidak patuhan anak-anak mereka secara sempurna terhadap hukum-hukum Islam. Misalnya dalam menjaga shalat dan dasar-dasar Islam lainnya, bahkan melakukan beberapa perbuatan maksiat, seperti menonton film, memakan riba, terkadang tidak menghadiri shalat berjama'ah, mencukur jenggot serta kemungkaran-kemungkaran lainnya. Maka apakah sikap seorang ayah yang muslim dan taat (mustaqim) terhadap anak-anak tersebut ? Dan apakah ia harus bersikap keras terhadap mereka atau bersikap lembut ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;strong&gt;Jawaban.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut pandagan saya hendaknya (seorang ayah) mendakwahi mereka dengan cara yang terbaik sedikit demi sedikit. Apabila mereka terjatuh dalam beberapa maksiat maka hendaknya ia melihat (maksiat) yang paling berat, lalu memulai (dakwah -pen) dengannya dan mengulang-ulangi diskusi dengan mereka hingga Allah Subhanahu wa Ta'ala memudahkan urusan ini dan merekapun meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika mereka tidak mungkin meresponnya maka perbuatan-perbuatan maksiat berbeda-beda, sebagian di antaranya tidak mungkin membiarkan anak bersama anda sementara ia melakukannya, dan sebagian ada yang dibawahnya. Maka bila seorang menghadapi pertentangan antara dua mafsadah, sementara keduanya pasti harus terjadi atau salah satunya pasti terjadi, maka melakukan yang lebih ringan (mafsadah)nya itulah yang adil dan itulah yang hak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi problem yang juga terjadi adalah kebalikan dari pertanyaan ini, yaitu bahwa sebagian pemuda menemui kesulitan disebabkan penyimpangan ayahnya, dimana sang pemuda itu adalah seorang yang multazim namun ayahnya justru berbeda dari itu. Maka anda akan menemukan ayahnya selalu menentangnya dalam banyak masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini nasehat saya kepada para bapak tersebut adalah hendaknya mereka takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap diri mereka dan anak-anak mereka, hendaknya mereka memandang arah (perilaku) anak-anak mereka dan istiqomahnya itu sebagai suatu nikmat yang patut mereka syukuri kepada Allah baginya, karena keshalihan anak-anak mereka itu akan bermanfaat bagi mereka ketika masih hidup dan ketika telah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda."Artinya : Apabila seorang insan mati maka terputuslah semua amalannya, kecuali dari tiga hal : sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendo'akannya" [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga mengarahkan pembicaraan kepada para putra dan putri, bahwa ayah ataupun ibu mereka jika memerintahkan kepada kemaksiatan maka tidak ada keataatan dalam hal itu, tidak wajib taat kepada mereka [2], dan menyelisihi mereka -walaupun mereka marah- tidaklah termasuk kedurhakaan, bahkan itu termasuk berbakti dan berbuat baik pada keduanya agar dosa dan kejahatan mereka tidak bertambah disebabkan kalian melakukan maksiat yang mereka perintahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka apabila kalian menolak berbuat maksiat yang mereka perintahkan, maka sebenarnya kalian telah berbakti pada mereka, karena kalian telah menghalangi mereka untuk tidak menambah dosa. Maka kalian jangan menta'ati mereka dalam kemaksiatan selama-lamanya. Adapun dalam ketaatan yang itu meninggalkannya bukan termasuk maksiat, maka seyogyanya seseorang melihat apakah yang lebih mengandung maslahat. Jika ia melihat yang lebih maslahat adalah menyelisihi mereka, maka hendaknya ia menyelisihi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi hendakanya menyiasatinya jika ketaatan tersebut termasuk yang boleh ditolak dan disembunyikan dari mereka, maka hendaklah ia menolak dan menyembunyikannya dari mereka, maka hendaklah ia menolak dan menyembunyikannya dari mereka. Dan jika (ketaatan) tersebut termasuk (yang mungkin di tolak namun) tidak mungkin disembunyikan maka ia dapat menampakkannya dan berusaha untuk menjelaskan dengan tuntas kepada mereka (para orang tua) bahwa hal itu tidaklah membawa mudharat jika dilakukan, atau dengna ungkapan yang semacamnya yang dapat memuaskan (orang tua).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyah Dhawabith wa Taujihat, edisi Indonesia Panduan Kebangkitan Islam, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, terbitan Darul Haq]&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Foot Note &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;[1] Hadits Riwayat Muslim No. 1631 dalam kitab Al-Wshiyah, bab Maa Yalhaqul Insan Min Ats-Tsawaab Ba'da Wafatihi, dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Tidak ada keta'atan bagi makhluq dalam bermaksiat kepada Khaliq" Dikeluarkan oleh Ahmad (1/131).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Arna'uth berkata : "sanadnya lemah, akan tetapi mempunyai syahid dari hadits Al-Hakam bin Amr Al-Ghifari dan Imran bin Hushain Radhiyallahu 'anhu pada Ahmad (5/66,67) dan Ath-Thayalisi 856 dan sanadnya shahih, dishahihkan oleh Al-Hakam (2/443) dan disetujui oleh Adz-Dzahabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga mempunyai syahid (dari) apa yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari no. 7145, Muslim no. 1840 dari Ali Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan, keta'atan itu hanya pada yang ma'ruf" Lihat Silsilah Ash-Shahihah oleh Al-Albani (179-181).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112791581061258952?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112791581061258952/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112791581061258952' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112791581061258952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112791581061258952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/seorang-ayah-berkewajiban-mendakwahi.html' title='Seorang Ayah Berkewajiban Mendakwahi Anak2nya dengan Cara yang Terbaik'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17222382.post-112805638146291593</id><published>2005-09-28T12:50:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T12:54:37.970+08:00</updated><title type='text'>Tips: Membuat Anak Suka Sayuran</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span &gt;Ini sudah menjadi keluhan umum dari para orang tua ketika memberikan makan sayuran maka anak akan menutup mulutnya atau menolak memakannya. Memang membuat anak suka makan sayuran tidak mudah tetapi sebagai orang tua kita tetap harus mencoba membuat anak suka makan sayuran dan buah, karena sayur dan buah sangat baik buat kesehatan mengandung serat dan vitamin yang dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lagi dengan membuat anak suka makan sayuran maka kita membiasakan cara hidup sehat untuk anak kita yang akan bermanfaat bagi kesehatannya di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana membuat anak suka sayuran, sekali lagi tidak mudah tapi juga tidak terlalu sulit yang terpenting orang tua mau terus bersabar dan mencoba semua tips dan trik untuk membuat anak suka makan sayuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;strong&gt;Dibawah ini beberapa tips untuk membuat anak suka makan sayuran:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Sejak dini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mulailah sejak dini memperkenal berbagai variasi makanan sayuran dan buah. Anda dapat memulai sedini mungkin sejak bayi mulai disapih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Orang tua adalah contoh yang baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nah bila orang tua mau anaknya suka sayuran, maka orang tua harus memberikan contoh bahwa merekapun suka makan sayuran. Makanlah sayuran – buahan dihadapan anak anda sehingga si kecilpun lama kelamaan akan tertarik untuk mencobanya. Bila orang tua tidak suka makan sayuran, bagaimana dengan si kecil dong?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Kreatifitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kadang sebagai orang tua kita harus lebih kreatif untuk membantu supaya anak kita suka makan sayuran, dengan membuat masakan sayuran tersebut menarik buat si kecil, jadi tidak selalu tampak sayuran hijau tapi buat sekreatif mungkin, misalnya memotong kecil-kecil lalu dapat di masukan ke mie, nasi tim atau roti isi dsb. Buatlah sekreatif mungkin sehingga anak menyenanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Rasa yang enak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yang satu ini juga cukup penting selain membuat menarik maka hidangkan rasa sayuran yang enak dan sedap membuat si kecil mau mencobanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Snak buah yang menarik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Snak buah yang menarik? Ya kenapa tidak mencoba menganti snak yang sehat, cobalah hidangkan snak buah anda semenarik, variasi warna dan variasi buah yang membuat sikecil tertarik untuk mencobanya juga dapat dengan membuat Puding dengan taburan buahan, salad buah, jus buahan dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Memotivasi BUKAN memaksa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak usah memaksa anak atau mengancam anak untuk memakan sayurannya, tapi cobalah memotivasi dengan menjelaskan bahwa sayuran itu baik buat kesehatan dll. Bila anak belum mau mencoba jenis sayuran tertentu, sisihkan dahulu dan cobalah kembali beberapa hari kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diatas adalah beberapa tips untuk membantu anda membuat anak suka makan sayuran. Anda dapat memvariasikan semua tips yang anda ketahui dan dapatkan, sehingga dapat membuat si kecil tercinta suka makan sayuran.Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,© 2005-Dr.Suririnah- &lt;/span&gt;&lt;a title="kumpulan resep masakan indonesia yang mudah enak dan lezat" href="http://www.myonlinerecipe.com/"&gt;&lt;span style="color:#336666;"&gt;www.myonlinerecipe.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baca selengkapnya&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17222382-112805638146291593?l=rumah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumah-ku.blogspot.com/feeds/112805638146291593/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17222382&amp;postID=112805638146291593' title='19 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112805638146291593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17222382/posts/default/112805638146291593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumah-ku.blogspot.com/2005/09/tips-membuat-anak-suka-sayuran.html' title='Tips: Membuat Anak Suka Sayuran'/><author><name>Ummu Khansa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>19</thr:total></entry></feed>
